View Full Version
Jum'at, 23 Dec 2016

Melawan Penjajahan!

 

Oleh: Umar Syarifudin

(Direktur Pusat Kajian Data dan Analisis)

Banyak peristiwa yang terukir dalam jiwa negara Indonesia, apakah itu perjuangan wali songo, peran Khilafah di Indonesia, kisah perjuangan Pangeran Diponegoro, tragedi penjajahan Belanda, pemberontakan PKI dan seluruh peristiwa dan tragedi sejarah Indonesia telah menjadi fitur yang tetap. Terletak di antara Benua Asia dan Australia, Indonesia mendominasi sebagian besar sejarah kuno Asia Tenggara ‘yang dikenal sejarah nusantara’. Kaum Muslim memiliki sejarah yang terkenal di nusantara, inilah yang menyebabkan mayoritas penduduknya saat ini terdiri adalah Muslim.

Takdir Indonesia adalah negara super kaya,  memiliki sumber alam yang sedemikian besar memiliki posisi untuk berkembang lebih baik dibandingkan dengan negara-negara lain yang sudah terindustrialisasi sekalipun. Indonesia mewakili porsi yang sangat signifikan dari sumber minyak dunia. Negara-negara kapitalis telah mengeksplorasi bumi nusantara di darat dan di bawah laut. Jerman dan Jepang terpaksa berekspansi karena kekurangan sumber alam dan penduduk yang sedikit. Indonesia tidak memiliki kelemahan tersebut. Para pemimpin negeri kapitalis selalu berusaha agar Indonesia tidak bangkit. Indonesia harus memahami bahwa ia memiliki potensi untuk mengubah dirinya. Caranya adalah dengan mencapai kesatuan politik dengan seluruh umat Islam di dunia.

Indonesia telah mengalami salah urus besar-besaran. Kegagalan pemerintah dan korupsi membuat banyak kalangan menjadi pesimis akan terjadinya perubahan yang positif bagi Indonesia. Masyarakat susah untuk sekadar bisa mempertahankan hidup dengan sesuap nasi. Masyarakat yang sama inilah yang dicekoki dengan pandangan bahwa Indonesia lemah dan Barat adalah adidaya. Para penguasa yang telah menjual harkat dan martabat negeri ini dengan memperkaya diri mereka adalah yang paling bertanggung jawab terhadap rendahnya rasa percaya diri rakyatnya.

Pada saat yang sama, Islam masih mengakar di hati setiap warga Indonesia dan masih banyak yang berharap agar Islam menjadi tegak kembali. Sayang, politisasi Islam oleh para politisi Indonesia yang tidak bertanggung jawab selalu menampilkan Islam sebagai sistem kerohanian (ritual) ketimbang sebagai sistem politik yang mengorganisasi penyelenggaraan negara dan pemerintahan.

Amerika dan sekutu-sekutunya sedang membangun berbagai mitos untuk membenarkan kemungkinan intervensi bahkan dikte politik dan ekonomi di negeri ini. Hingga saat ini, AS telah mengandalkan negara-negara kaki tangannya (proxy states) di kawasan ASEAN dengan harapan bahwa kepentingannya akan terlindungi, dengan memakai sebesar-besarnya untuk perampokan kekayaan alam di negeri-negeri yang melimpah ruah SDA-nya. Saat ini, tekanan-tekanan  telah dibangun di dunia Muslim dan sekarang rezim-rezim itu menawarkan remah-remah untuk memenuhi tuntutan  rakyat dan berusaha membeli mereka, dengan berharap mereka cukup puas untuk sesuatu yang sifatnya kosmetik yang akan muncul seolah-olah seperti kemenangan, tetapi sebenarnya hanya akan mempertahankan status quo rezim yang bobrok.

Neoliberalisme yang dipraktekkan di Indonesia menjadikan semua barang kebutuhan publik diserahkan kepada mekanisme pasar. Tanggung jawab pemerintah dalam urusan penyediaan dan pelayanan demi kesejahteraan rakyat dihilangkan. Nasib dan kesejahteraan rakyat diserahkan kepada pasar. Konsep ‘warga negara’ hilang, berubah menjadi konsep ‘konsumen’. Bermula dari penghapusan subsidi sektor BBM, menyusul kemudian tarif listrik, dan tarif tol, harga barang-barang kebutuhan rakyat naik turun mengikuti mekanisme pasar. Tidak ada stabilitas harga. Warga negara benar-benar diposisikan sebagai konsumen bagi sekelompok kecil pemilik modal melalui instrumen peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah.

Ekonomi Indonesia telah hancur sebagian besar oleh kebijakan rezim yang merusak diri sendiri. Indonesia juga mengalami malapetaka di bawah reformasi ekonomi IMF dan Bank Dunia. Perekonomian Indonesia dan strukturnya adalah masalah yang terbesar karena tidak diarahkan kepada kekuatan sumber daya alam Indonesia.

Agar ekonomi bisa mencapai tujuan yang diimpikan oleh Kapitalisme, maka ekonomi harus dipaksa untuk terus tumbuh. Kalau tidak, jatuhnya produksi dalam sektor yang berkontribusi besar dalam ekonomi akan memiliki efek yang membuat ekonomi menjadi lesu dan mengecil.

Ketika rakyat mulai sadar bahaya kapitalisme, mungkin rezim itu akan menawarkan reformasi, beberapa kantung uang atau makanan, janji pemilihan atau bahkan wajah baru untuk menggantikan wajah lama, tapi yang akan terus menindas mereka dan mencegah solusi nyata atas situasi bencana yang muncul

MEA ruhnya adalah pasar bebas. Indonesia memiliki satu atau segelintir sektor ekonomi  saja yang mendorong pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Secara praktis, ini menyebabkan ekonomi menjadi sangat rawan untuk ambruk. Ini bisa dijelaskan karena ketika ekonomi berada dalam fase pertumbuhan, ia sebenarnya didorong oleh satu sektor saja yang secara tidak langsung menstimulasi pertumbuhan sektor lain. Ketika fase pertumbuhan gelembung ini mulai kehilangan tenaga, maka gelembung ekonomi ini pun bisa meletus sewaktu-waktu. Pertumbuhan gelembung semacam ini pun diperparah dengan kemampuan untuk mencetak uang kertas kapan saja ketika diinginkan, dan ketersediaan hutang yang semuanya berkontribusi terhadap pertumbuhan gelembung ekonomi tersebut.

Pertumbuhan ekonomi memerlukan ekonomi untuk terus tumbuh, yang berarti memerlukan konsumen yang akan terus membelanjakan uangnya, Dalam hal ini pertumbuhan ekonomi juga didukung dengan keberadaan akan adanya fasilitas hutang. Ketika konsumen mulai sadar bahwa ia telah membelanjakan lebih dari pendapatannya maka menghentikan pembelanjaan begitu saja akan memberikan efek sebagaimana memotong aliran suplai bahan bakar selama perjalanan sedang berlangsung.

Pertumbuhan ekonomi secara terus menerus tidak akan bisa terjadi dan inilah yang menjadi sebab terjadinya keambrukan yang terjadi berkali-kali. Kenyataan seperti ini juga tidak terjadi secara alamiah dan fakta ini sering dihindari oleh para pendukung pasar bebas, terutama ketika pasar itu sendiri ambruk.

Sifat kapitalisme yang diadopsi negeri ini adalah tidak pernah cukup, dan semuanya serba kurang, tidak ada pertumbuhan yang terlalu tinggi, tidak ada spekulasi yang sangat spekulatif, tidak ada gaji yang terlalu tinggi, tidak ada mobil yang terlalu banyak, tidak ada produksi minyak yang terlalu tinggi, semuanya serba kurang, dan harus digenjot semaksimal mungkin. Apa yang Kapitalisme telah ciptakan tidak lain adalah spekulasi,kerakusan, kesombongan dan berfoya-foya. Itulah sebabnya setiap gelembung selalu berakhir dengan letusan, dan akan terus terjadi secara berulang-ulang.

Ketika rakyat mulai sadar bahaya kapitalisme, mungkin rezim itu akan menawarkan reformasi, beberapa kantung uang atau makanan, janji pemilihan atau bahkan wajah baru untuk menggantikan wajah lama, tapi yang akan terus menindas mereka dan mencegah solusi nyata atas situasi bencana yang muncul. Perubahan yang nyata tidak datang melalui perubahan wajah. Tidak juga datang melalui reformasi yang lamban.  Melainkan melalui perubahan yang bersifat komprehensif. Perubahan yang sebenarnya adalah untuk menghapus sistem-sistem kufur di negeri-negeri Muslim  secara menyeluruh.

Apa yang dibutuhkan manusia sekarang bukanlah sistem yang menempatkan pertumbuhan ekonomi sebagai tujuan utama yang menghalalkan segala cara dan mengorbankan siapapun. Yang dibutuhkan sekarang adalah sistem yang bertujuan untuk memprioritaskan pemenuhan kebutuhan masyarakat, yaitu sistem Islam dalam naungan al Khilafah.

Sistem Ekonomi Islam menfokuskan pada manusia dan pemenuhan kebutuhannya, bukan pertumbuhan ekonomi itu sendiri. Islam menaruh perhatian khusus untuk memenuhi kebutuhan manusia sebagaimana yang diterangkan dalam hadith sebelumnya, ketimbang pada penambahan angka GDP saja. Dalam hal ini, Negara diwajibkan oleh Islam untuk memiliki peran langsung dalam pencapaian tujuan ekonomi, dan tidak begitu saja membiarkannya kepada sistem pasar bebas.Ibn Abbas menarasikan sebagaimana dilaporkan oleh Abu Dawud bahwa Nabi Muhammad Saaw bersabda,” Muslim berserikat dalam tiga hal yaitu air, padang rumput, dan api.” Berdasarkan dari hadith Nabi tersebut, Negara menguasai kepemilikan dari sumber daya alam berbasis api seperti minyak, gas bumi, penyulingan, instalasi produksi listrik sebagaimana sumber air.

Dengan demikian, masyarakat tidak akan rawan untuk menjadi obyek eksploitasi perusahaan swasta yang meraup keuntungan dari instalasi strategis yang tersebut diatas. Negara juga akan mengontrol lembaga-lembaga yang mengatur atau mengurus instalasi tersebut sehingga mampu untuk segera bertindak ketika diperlukan dan sebelum terlambat.

Ekonomi Islam tidak mengenal dualisme ekonomi– yaitu ekonomi yang terdiri dari sektor keuangan, dimana aktifitasnya didominasi oleh praktik pertaruhan terhadap apa yang akan terjadi pada ekonomi riil. Sektor keuangan ini terbentuk dari instrumen keuangan seperti saham, derivativasi, dan produk sekuritas, disamping adanya keterlibatan bunga (riba), praktik keuangan ini juga melakukan transaksi terhadap komoditi secara sepihak (tanpa adanya partner) dalam proses kepemilikannya.

Ekonomi Islam didasarkan pada ekonomi riil. Dengan demikian, semua aturan ekonomi Islam memastikan agar perputaran harta kekayaan tetap berputar. Larangan terhadap adanya bunga (riba) bisa dipraktikan dengan melakukan investasi modal di sektor ekonomi rill, karena penanaman modal di sektor lain dilarang. Kalaupun masih ada yang berusaha menaruh sejumlah modal sebagai tabungan atau simpanan di bank (yang tentunya juga tidak akan memberikan bunga), modal yang tersimpan tersebut justru akan menjadi subyek dari penarikan pajak setelah melewati periode satu tahun.

Perpajakan di dalam Islam didasarkan oleh harta yang tertimbun, bukan dari penghasilan. Sehingga, di dalam wilayah kekuasaan Islam, tidak akan ada pajak penghasilan, pajak jalan, dan semacamnya. Artinya, tiap individu akan memiliki lebih banyak uang dari penghasilannya sehingga bisa ia tanam di sektor ekonomi riil, yang akan memiliki efek berlipat karena berputarnya uang dari orang ke orang yang lain. Keberadaan bunga, pasar keuangan, dan pajak secara langsung adalah faktor-faktor yang menghalangi perputaran harta.

Sistem Islam jelas-jelas meletakkan aturan-aturan terhadap kepemilikan dan bagaimana mencairkan aset-aset; ini semua tercantum dalam prinsip-prinsip umum yang bisa digali dengan metoda qiyas dari realita-realita baru. Ini semua akan menyebabkan kestabilan ekonomi,suatu situasi yang nyaris tidak pernah ada dalam sistem ekonomi Barat,dengan pasar bebas dan ekonomi bebasnya. Dalam setiap krisis dan bencana keuangan, banyak kalangan selalu menuding peran atau campur tangan pemerintah atau justru menganjurkan pemberian kebebasan kepada mekanisme pasar.

Ironisnya, justru campur tangan pemerintahlah yang justru menyelamatkan eksistensi ekonomi Kapitalisme, dengan mekanisme bail-out (penyuntikan dana) dan penggunaan harta Negara, sehingga para bank bisa terhindar dari keambrukan total. Padahal dan ironisnya, justru para bank tersebutlah yang pada awalnya berperan sebagai lembaga yang paling getol dan vokal dalam menyuarakan deregulasi (yaitu pelonggaran peraturan atau minimalisasi campur tangan pemerintah).

Konsep kapitalisme dan negara bangsa merupakan hal yang asing bagi dunia Islam, dan diimpor ke wilayah negeri-negeri muslim termasuk Indonesia oleh kekuatan-kekuatan Eropa. Kecenderungan alami dari kaum muslimin di Indonesia dan seluruh njegeri-negeri muslim adalah tertarik terhadap sistem Khilafah-sebuah sistem politik yang membuat mereka bersatu di bawah seorang pemimpin tunggal selama lebih dari seribu tahun. Dan tentu saja Indonesia berada pada lintasan itu, dengan tidak mempedulikan apa yang digambarkan oleh pemerintah Amerika. [syahid/voa-islam.com]


latestnews

View Full Version