View Full Version
Selasa, 10 Jan 2017

Diskriminasi!

 

Oleh: Umar Syarifudin (pengamat politik internasional)

Kaum Muslim di Amerika Serikat (AS) saat ini termasuk kelompok minoritas. Namun, persebaran Islam di Benua Amerika ternyata memiliki sejarah yang panjang. Profesor Barry Fell, misalnya, menjelaskan bahwa kehadiran Muslim di Benua Amerika sudah terlacak sejak sekitar abad ketujuh Masehi.Dalam Saga America (1980), akademisi Universitas Harvard ini menyajikan beragam bukti ilmiah. Ia menyimpulkan, orang Islam dari pantai barat dan utara Afrika telah mendarat di Amerika tiga abad sebelum Christopher Columbus sampai, pada 1492.

Diskriminasi terhadap kaum minoritas di Amerika Serikat (AS), khususnya terhadap kaum Muslim terus meningkat, sebuah kenyataan. tindakan diskriminasi terhadap kaum minoritas di AS sudah dianggap sebagai hal yang biasa, oleh karena itu hal ini sering sekali terjadi. Dalam catatan The New York Times, ada banyak kota kecil di seantero Negeri Paman Sam yang melakukan kebijakan serupa. Yakni, menghalang-halangi pendirian masjid dengan alasan intoleran. Hal ini kian marak setelah terpilihnya Donald Trump sebagai presiden AS.

Aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) di Amerika Serikat mengungkapkan tentang peningkatan serius dalam persentase intoleransi terhadap kaum Muslim di Amerika, di mana hal ini tidak dialami oleh komunitas yang lain. Dikatakan bahwa ketika konstitusi Amerika mengkriminalisasi tindakan intoleransi terhadap kulit hitam, sementara intoleransi terhadap Islam menjadi tindakan yang bisa diterima, yakni sah-sah saja dilakukan. Dan tindakan intoleransi terhadap Islam justru dipromosikan oleh berbagai media melalui pernyataan para kandidat presiden Amerika menjadi ritual tiap Pilpres AS, yang sebagian dari mereka mengkampanyekan kebencian terhadap Islam dan kaum Muslim. Menurut dokumen pengadilan, Ameciran Airline diduga membatalkan perjalanan empat orang itu dari penerbangan New York menuju ke Toronto pada bulan Desember 2015 hanya karena penampilan mereka. Ini dampak sebuah propaganda yang berulang bahwa muslim yang digambarkan sebagai orang-orang barbar, para ‘ekstrimis’ yang menindas kaum perempuan dan banyak tuduhan keji lainnya.

Diskriminasi biasa terjadi di dunia kerja, Dr Michael Wallace dari University of Connecticut, menganggap AS memiliki “sikap skizofrenia” ketika berkaitan dengan agama. Di satu sisi, memiliki toleransi yang tinggi untuk kebebasan beragama dan keberagaman, orang bebas untuk mempraktikkan agama apapun yang mereka inginkan. Saat majikan khawatir bahwa melihat identifikasi keagamaan di resume akan secara potensial pelamar akan membawa religiusitasnya ke tempat kerja – di mana hal itu tidak diterima. Laporan diskriminasi agama di tempat kerja di Amerika semakin menjadi hal umum.

Ironis, pada waktu masyarakat AS bertanya-tanya tentang sistem ekonomi kapitalis, eksploitasi imperialis Barat yang menghancurkan seluruh dunia, budaya seks bebas kaum muda, runtuhnya kehidupan keluarga, serta eskalasi perilaku permusuhan dan antisosial, apakah Trump berharap agar kaum Muslim di AS dan di tempat lain tidak mengetahui jawaban (solusi) Islam terhadap semua persoalan yang paling sesuai dengan komunitas mereka dan bahkan seluruh dunia?

Kegagalan untuk melakukan revisi pada akar dan cabang kurikulum pendidikan bagi Amerika oleh banyak institusi di Amerika memang hanya akan memperkuat kesan dalam pikiran Muslim bahwa Amerika benar-benar berusaha untuk menghancurkan Islam. Hal ini juga memungkinkan komplotan kecil dari kelompok neo-konservatif (yang merupakan para ekstremis) untuk melakukan kejahatan baru atas nama rakyat Amerika (yang mayoritas moderat). Amerika suka menggunakan label-label seperti kaum ekstremis dan moderat untuk menggambarkan dunia Muslim, namun mereka tidak menyadari fakta bahwa mereka sedang disandera oleh sebuah faksi ekstremis kecil, yang teguh dalam tekad mereka untuk menteror peradaban lain atas nama mereka .

Tidak hanya bagi muslim Amerika, termasuk menjadi tantangan utama kaum muslim adalah membesarkan anak-anak Muslim di Barat di mana pemerintah di Barat sekarang memiliki kebijakan khusus yang secara aktif berusaha untuk mensekulerkan Muslim dan menegakkan penerapan nilai-nilai non-Islam. Kebijakan-kebijakan tersebut menggunakan alasan untuk memerangi ‘radikalisasi dan ekstremisme’ karena argumen dasar kebijakan tersebut dibangun dengan asumsi bahwa ‘semakin kuat praktek Islam Anda, semakin besar ancaman dari anda’ maka mereka fokus terutama pada kaum muda ketika mereka mengembangkan identitas Islam dan praktek agama Islam.

Apa yang jelas adalah bahwa tekanan tanpa henti yang dialami  kaum muslim di Barat merupakan upaya – dengan menggunakan banyak cara – untuk menekan kaum Muslim untuk meninggalkan landasan  dan praktek Islam dan keyakinan yang dianggap tidak sesuai dengan nilai-nilai liberal sekuler atau yang menentang kebijakan luar negeri pemerintah AS di negeri-negeri Muslim.

Oleh karena itu, kewajiban komunitas Muslim di Barat adalah menolak tawaran kompromi atas nilai-nilai Islam, proaktif dalam menghadapi serangan yang tampaknya tidak kenal lelah ini. Wajib bekerja keras untuk menjaga dan melestarikan nilai-nilai Islam, berpegang teguh dengannya, dan memperlakukan manusia dalam kehidupan bermasyarakat atas dasar nilai-nilai yang luhur Islam ini. Kaum muslim juga perlu memahami bahwa kita adalah masyarakat yang memiliki solusi untuk keluarga yang berantakan, kekosongan spiritual, tumbuhnya kesenjangan ekonomi, kemerosotan moral dan banyak masalah lain yang dihadapi masyarakat Barat karena kita percaya pada syariah Islam membawa solusi atas masalah-masalah itu. [syahid/voa-islam.com]


latestnews

View Full Version