View Full Version
Ahad, 07 May 2017

Intoleransi, Tudingan Provokator kepada Umat Islam Indonesia

Oleh: Muhammad Abduh Negara

Membincang intoleransi yang sedang ramai ditudingkan oleh sekelompok orang pada sekelompok lainnya. Jika sikap intoleransi yang dimaksud kalangan "cendekiawan muslim" itu adalah ketegasan akidah, semisal menyatakan non-muslim itu adalah kafir, maka "biarkan saja" mereka menuduh kita intoleran.

Sesungguhnya, yang membuat keruh suasana ini sebenarnya adalah kalangan "cendekiawan muslim" itu sendiri. Mereka menghadirkan masalah, yang sebenarnya bukan masalah. Mereka membuat berbagai macam tuduhan, yang bisa diarahkan ke siapa saja. Dan ini malah menimbulkan kegaduhan.

Ketegasan akidah, bagi seorang muslim, adalah harga mati. Dan ini sebenarnya tak akan merusak negeri ini. Ayah, kakek, dan nenek moyang kita dulu, juga tegas dengan akidahnya. Toh ternyata itu bukan sebab kerusakan negeri ini. Perusak itu adalah kalangan kapitalis Eropa, yang membawa kolonialisme ke negeri ini. Malah, ketegasan akidah dan semangat jihad umat Islam, yang membuat kita tak pernah benar-benar runtuh.

Ketegasan akidah seperti ini, sebenarnya bisa dimaklumi oleh penganut agama lain. Toh, kita dan mereka memang berbeda. Menyembah al-Ma'bud yang berbeda, jalan yang ditempuh juga sangat tidak sama, dan banyak perbedaan lainnya. Perbedaan semacam ini, dalam Islam solusinya adalah dakwah, bukan pembunuhan atau kekacauan.

...Kita tetap bisa tegas dalam akidah. Pada saat yang sama kita bisa bermuamalah secara baik dengan non-muslim. Berbuat baik kepada non-muslim itu, tak perlu sampai membuat kabur konsep akidah kita sendiri...

Kita tetap bisa tegas dalam akidah. Pada saat yang sama kita bisa bermuamalah secara baik dengan non-muslim. Berbuat baik kepada non-muslim itu, tak perlu sampai membuat kabur konsep akidah kita sendiri. Betapa sering 'cendekiawan muslim' itu menghadirkan keraguan atas kekafiran orang kafir. Mereka menghadirkan keraguan bahwa diin yang kita anut bukanlah satu-satunya jalan keselamatan.

Berbuat baik dengan non-muslim juga tak perlu sampai membuat kita membuang tuntunan Syariah. Jika bimbingan para ulama yang berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah menunjukkan pada kita, bahwa orang kafir tak layak memimpin kita yang mayoritas ini secara politik, ya terima saja bimbingan tersebut. Insyaallah ada kebaikan di dalamnya.

Kembali lagi, ketegasan dalam mengikuti tuntunan Syariah, tak berarti kita tak bisa berbuat baik dengan kalangan non-muslim. Kita tetap bisa bermuamalah secara baik dengan mereka, tanpa harus menghilangkan ketegasan dalam akidah, dan tanpa harus mengabaikan tuntunan Syariah.

Jika ingin kegaduhan semacam ini berakhir, yang diminta seharusnya bukanlah seorang muslim menggadaikan akidah dan tuntunan Syariah. Sebaliknya, yang perlu dilakukan adalah meminta para "cendekiawan muslim" yang lebih tepat disebut provokator itu, untuk berhenti bercuit dan berkomentar asal-asalan. Sudah saatnya mereka menghadirkan rasa adil seadil-adilnya bagi kaum muslimin dan tidak melulu membela orang kafir. (riafariana/voa-islam.com)

Ilustrasi: Google


latestnews

View Full Version