View Full Version
Rabu, 12 Feb 2020

Generasi Bully Semakin Bringas

 

Oleh:

Nasya Amaliah, S. Pd

Pemerhati Pendidikan

 

MS (13), siswa SMPN 16 Malang menjadi korban bullying hingga dirawat di rumah sakit. Ia mengalami luka lebam di tangan kanan, kaki, dan punggungnya. Namun, kepada pihak Polresta Kota Malang, terduga pelaku bullying mengaku hanya iseng. MS telah menjalani operasi untuk mengamputasi jari tengahnya di RSS Malang pada Selasa kemarin. (tribunnews.com).

Hal bullying yang menjangkit generasi kita ini sudah terlalu sering terjadi. Kasus SM, bukanlah korban yang pertama, dan bukan yang paling mengenaskan. Sebut saja Audrey yang kasusnya sempat viral di jagat dunia maya, dan mengemaskan ada Yuyun, siswi SMP yang diperkosa beramai-ramai oleh segerombolan remaja lalu dibunuh dan jasadnya dibuang ke jurang. Remaja yang melakukan kekerasan di tanah air juga tak pernah surut dengan beragam kasus. Memukuli guru sampai menjadi anggota gang motor yang membegal korban. Indonesia darurat kekerasan remaja. Mereka adalah pelaku sekaligus korban. Pelakunya remaja dan korbannya juga remaja.

Ini belum termasuk cyberbully. Seiring remaja kita banyak menggunakan medsos, kekerasan secara verbal/tulisan di media sosial cenderung meningkat. Cyberbully sama dengan bully di dunia nyata, berdampak serius pada kesehatan mental anak. Tercatat sejumlah kasus korban sampai mengambil keputusan bunuh diri karena tak tahan dibully oleh kawan-kawannya di dunia maya.

Kekerasan di level remaja sudah lintas gender. Pelakunya bukan hanya anak lelaki, tapi juga remaja putri. Kasus Audrey juga bukan kasus pertama kekerasan dilakukan sesama remaja putri. Sudah sering viral video kekerasan antar remaja putri. Anak-anak perempuan di tanah air juga seperti hilang sifat kelembutannya, berubah jadi beringas.

Ada bebarapa faktor kenakalan dan kekerasan yang dilakukan oleh remaja ini, hal ini berawal dari disfungsi orangtua di rumah. Banyak orangtua tidak paham dan tidak fokus dalam mendidik anak. Banyak orangtua hanya berperan sebagai pabrik anak dan sibuk bekerja ataupun mengurus hal lainnya ketimbang sebagai pendidik pertama dan utama untuk anak.

Banyak orangtua hanya tahu melahirkan dan membesarkan anak ketimbang menjalankan fungsi tarbiyah/pendidikan pada anak. Banyak lelaki tidak paham kalau ia harus menjalankan fungsi ayah dan bukan hanya menjadi ayah. Para ‘ayah’ macam ini hanya mengandalkan uang atau kekerasan dalam membersamai anak. Minim peran sebagai pendidik. Kalaulah tidak memanjakan anak dengan fasilitas, mereka hanya bisa memarahi anak. Miskin solusi dan tidak menginspirasi.

Bagaimana dengan para ibu? Mohon maaf, tidak sedikit juga perempuan yang baru bisa menjadi ibu tapi belum menjalankan peran sebagai ibu. Mereka tahu cara melahirkan, tapi bingung atau cuek dalam pendidikan anak. Dari disfungsi orangtua, anak-anak tumbuh dengan jiwa antisosial; pemarah, tak mau kalah, dan miskin empati.

Remaja kita juga punya ‘pengasuh’ lain; lingkungan dan negara. Kedua pengasuh ini sekarang juga sedang krisis. Lingkungan sosial remaja penuh budaya hedonisme. Anak-anak kita jauh dari jiwa kepahlawanan, kesetiakawanan, karena digeser dengan figur macam Dilan dan karakter film lainnya. Tragisnya remaja kita tergesar untuk lebih menggemari gaya dan perilaku itu ketimbang jiwa kepahlawanan, jauh dari adab.

Suka atau tidak suka, kita harus menuntut negara bertanggung jawab dalam persoalan ini. Negara adalah ‘orangtua terbesar’ bagi para pemuda. Negara memiliki daya lebih kuat untuk menuntut dan mengikat remaja. Dengan kekuatan dan kekuasaannya negara bisa mendisplinkan para remaja, termasuk membentuk karakter kasih sayang pada mereka. Namun seberapa besar negara sudah berperan? Ini sangat minim sekali.

Alih-alih menanamkan nilai positif dan menguatkan nilai agama, negara justru menakut-nakuti pelajar – dan orang tua mereka – dengan ancaman radikalisme, tapi tidak membangun awareness pada tawuran, pergaulan bebas, kekerasan, dsb. Lebih menjengkelkan lagi negara malah menggelar kompetisi game online ketimbang meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah-sekolah.

Negara ini masih saja mengambil peran kuratif, ketimbang preventif. Tak kapok menjadi pemadam kebakaran daripada mencegah asal usul api. Penyelesaian yang diambil juga tak memberikan efek jera pada para pelaku. Beberapa kali kekerasan oleh remaja dimediasi untuk damai, atau pelaku dimasukkan rumah pembinaan, solusi yang diberikan menguntungkan pelaku, sedangkan korban mengalami penderitaan fisik maupun mental.

Jadi, mohon maaf, SM bukanlah yang pertama dan amat kecil kemungkinan menjadi yang terakhir, selama negara belum berani tegas dan melindungi remaja dari paparan hedonisme, kebebasan, dan premanisme. Memperkuat peran orang tua dan pendidikan agama serta adab yang berkala serta Hukuman yang pantas dan membuat jera serta perlindungan yang terbaik bagi generasi penerus bangsa ini harus diterapkan oleh negara.*


latestnews

View Full Version