View Full Version
Sabtu, 29 Feb 2020

Undangan ke Uighur

Oleh: Alin FM (Praktisi Multimedia dan Penulis)

Isu Uighur kembali mengemuka di Indonesia setelah laporan kelompok HAM internasional menuding China menahan sekitar satu juta etnis Uighur dalam sejumlah penampungan layaknya kamp konsentrasi di  Propinsi Xinjiang China.

Isu ini belakangan semakin berembus kencang setelah sebuah laporan  dari Wall Street Journal dengan sengaja menyebut pemerintah China merayu ormas Islam di Indonesia agar bersikap lunak terkait penganiayaan terhadap Muslim Uighur.

Dalam artikel berjudul 'How China Persuaded One Muslim Nation to Keep Silent on Xinjiang Camps', WSJ memaparkan China menggelontorkan sejumlah donasi dan program beasiswa terhadap sejumlah ormas Islam RI seperti NU dan Muhammadiyah ketika isu Uighur mencuat sekitar akhir 2018 lalu.

China melalui kedubes di Jakarta disebut membiayai puluhan tokoh NU, Muhammadiyah, MUI, sejumlah wartawan, hingga akademisi Indonesia untuk berkunjung ke Xinjiang.  Usai serangkaian kunjungan ke Xinjiang, sejumlah ormas Islam RI dikatakan tak lagi nyaring dalam menyuarakan keprihatinan mereka terkait dugaan persekusi dan diskriminasi yang diterima etnis Uighur dari pemerintah China.

Sebelum "pendekatan" kedubes China berlangsung ormas-ormas itu disebut lantang menyuarakan dugaan persekusi yang diterima Uighur. Muhammadiyah, NU, dan MUI membantah seluruh tudingan WSJ itu.

Kini Kedubes China Undang Warga Malaysia untuk melihat Langsung Uighur setelah dua LSM Malaysia menyerahkan sebuah memorandum kedua kepada kedutaan besar China terkait  isu Muslim Uighur tersebut, yaitu Anggota Gerakan Pemuda Muslim Malaysia (Abim) dan Hizbut Tahrir yang berkumpul di luar kedutaan China pada jumat 27 desember 2019 lalu. Harapannya Pemerintah China akan mendengarkan suara-suara baik masyarakat Malaysia maupun internasional, untuk menghentikan penganiayaan terhadap Muslim Uighur dan semua agama minoritas lainnya di China.

Dilansir dari The Star, Sabtu (28/12),  Keesokan harinya Kedutaan Besar China di Malaysia mengundang warga Kuala Lumpur untuk mengunjungi Provinsi Xinjiang. Hal tersebut untuk melawan kabar perlakuan Pemerintah China terhadap etnis minoritas Muslim Uighur.

Pemerintah China menyambut semua teman-teman Malaysia, terutama teman-teman Muslim, untuk mengunjungi Xinjiang dan melihat Xinjiang yang indah, damai dan makmur dengan mata sendiri. Untuk megubah persepsi publik tentang laporan internasional yang mendistorsi dan tuduhan tak masuk akal yang membanjiri media sosial.

Juru bicara kedutaan besar China, Tang Tang menyatakan  masalah terkait di Xinjiang adalah urusan internal China. Bukan masalah hak asasi manusia, etnis atau agama, tetapi masalah anti-terorisme, anti-separatisme dan deradikalisasi. Pemerintah China melindungi kebebasan beragama bagi semua warga negara menurut hukum, termasuk minoritas Uighur bantahnya.

Motif yang sama dilakukan Pemerintah China kepada warga Muslim Malaysia. Setelah setahun yang lalu, Pemerintah China mengundang ormas Islam dan wartawan untuk bungkam tentang kejahatan kemanusian Pemerintah China terhadap Muslim Uighur.

Pemerintah China masih saja angkuh dan berkelit dengan apa yang terjadi pada penganiayaan terhadap Muslim Uighur. Padahal sejumlah fakta dan laporan internasional tak terbantahkan lagi. Mereka menyebut masalah Xinjiang adalah masalah internal China. Mereka lupa bahwa ikatan aqidah Islam yang dimiliki oleh umat muslim di dunia sangatlah kuat. Jika satu tersakiti semua akan bangkit untuk melindungi.

China dengan Ideologi Komunis hanya membenci Islam sebagai agama yang sempurna,  sedangkan Komunis mengingkari adanya Tuhan dan agama. Di dalam Ajaran Komunis, agama adalah Candu. Menghalangi mereka untuk mencapai kemajuan ekonomi dan peradaban. Sebaliknya di dalam Islam, agama adalah pedoman hidup dan kunci kemajuan peradaban dan martabat manusia. Tanpa agama, manusia akan seperti binatang bahkan lebih sesat lagi. Sebagaimana tertulis di dalam Al-Qur'an:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُون 

"Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai" (TQS. Al A'raf ayat 179).

Jelaslah bahwa masalah kemanusian dan penganiayaan terhadap Muslim Uighur  adalah pertarungan Ideology Islam yang dianut muslim uighur dengan Pemerintah China berideology Komunis. Karakter ideology adalah saling bersaing dan bertarung mana yang lebih kuat. Umat Islam dengan 1,7 miliar penganutnya memiliki Sesuatu yang berharga yaitu Islam. Tanpa Islam hidup belum sempurna.

Dengan Islam hidup menjadi bermakna dan jaminan seseorang masuk Jannah Sang Pencipta, Allah SWT. Kemanakah Umat Islam akan melangkah? Ditengah berbagai penganiayaan terhadap Muslim Uighur bahkan negeri-negeri lain. Akankah umat Islam tetap bungkam? atau memilih Jalan kemuliaan Islam dengan bersatu dalam Institusi Pemerintahan dan politik Islam untuk menyelesaikan masalah kebiadaban yang menimpa umat Islam.


latestnews

View Full Version