View Full Version
Sabtu, 02 May 2020

Meraih Berkah Ramadan di Tengah Wabah

Oleh: Adi Permana Sidik 

(Dosen Ilmu Komunikasi FISIP USB YPKP dan Awardee LPDP)

Ramadan merupakan momentum istimewa yang senantiasa ditunggu-tunggu oleh seluruh umat Islam di seluruh dunia, tak terkecuali umat Islam di Indonesia. Umat Islam selalu menyambut kedatangan Ramadan dengan penuh antusias dan penuh kebahagian.

Bayangan akan menjalani seperti tahun-tahun sebelumnya – buka bersama dengan rekan kerja, dengan teman dekat, shalat tarawih berjamaah di masjid, ‘itikaf di masjid dan berhari raya idul fitri di kampung halaman – nampaknya tidak bisa dilakukan pada Ramadan kali ini. Wabah pandemi covid-19 yang masih belum mereda menjadi menjadi penyebabnya.

Wabah virus yang melanda berbagai dunia tentu saja bukan kali ini saja terjadi, termasuk di Indonesia. Namun, wabah virus terjadi pada saat bulan Ramadan, mungkin sangat langka sekali terjadi. Bahkan di Indonesia, barangkali wabah virus terjadi pada saat bulan Ramadan adalah yang pertama kalinya dalam sejarah negara ini berdiri. Tak heran, jika ada sebagian umat Islam di Indonesia sangat bersedih ketika harus menjalani Ramadannya, dengan aktivitas di rumah saja. Dengan kondisi seperti ini apakah seorang Muslim tidak bisa meraih berbagai keutamaan bulan Ramadan? Jawabannya in syaa Allah pasti bisa, jika ia berusaha untuk mendapatkanya.

Ramadan memiliki banyak sebutan, di antara syahur qur’ansyahrur magfiroh, syharur shabar, syahrur ibadah, syahrur tarbiyah, syahrur rahmat, syahrur jihad, syahrur rahmat, syahrur jad, dan syahrur mubarok. Nama terakhir, Ramadan sebagai syahur mubarokah akan jadi topik pembahasan pada tulisan ini, meskipun tentu pembahasannya dibuat secara ringkas.

Rasulullah SAW pernah berpidato menjelang datangnya Ramadan. Seperti yang diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib Ra, Rasulullah bersabda: “Wahai manusia, sungguh telah datang pada kalian bulan Allah dengan membawa berkah rahmat dan magfiroh. Bulan yang paling mulia di sisi Allah. Di bulan ini nafas-nafasmu menjadi tasbih, tidurmu ibadah, amal-amalmu diterima dan do’a-do’amu diijabah. Wahai manusia! Sesungguhnya pintu-pintu surga dibukakan bagimu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar tidak pernah menutupkannya bagimu. Pintu-pintu neraka tertutup, maka mohonkanlah kepada Rabb-mu untuk tidak pernah dibukakan bagimu. Setan terbelenggu, maka mintalah ia tak lagi pernah menguasaimu.” (Zarkasyi, Minhaj, 2019: 82-85).

  

Ramadan sebagai Syahrur Mubarokah

Ramadan dalam pidato Rasulullah SAW disebuat sebagai bulan keberkahan. Oleh karenanya, sebagai ulama mengatakan kurang tepat sebutan bulan suci Ramadan. Karena sebutan bulan suci lebih tepat untuk menyebut bulan haram yang ada 4 dalam tahun hijriah Islam, yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah, Muharrom, dan Rajab. Ramadan bulan berkah jauh lebih tepat. Apa yang disebut sebagai berkah atau barokah? Dan bagaimana seorang Muslim dapat memastikan bahwa dirinya mendapatkan keberkahan khususnya dalam bulan Ramadan ini?

Berkah atau Barokah dalam Bahasa Arab artinya nikmat. Sementara secara istilah berkah (barokah) artinya ziyadatul khoir, yakni bertambahnya kebaikan. (Imam Al-Ghazali, Ensilokpedia Tasawuf, hlm.79. Para ulama juga menjelaskan makna berkah sebagai segala sesuatu yang banyak dan melimpah, mencakup berkah-berkah material dan spiritual, seperti keamanan, ketenangan, kesehatan, harta, anak, dan usia. Dalam Syarah Shahih Muslim karya Imam Nawawi disebutkan, berkah memiliki dua arti: Pertama, tumbuh, berkembang, atau bertambah; Kedua, kebaikan yang berkesinambungan. (percikaniman.org). Singkatnya berkah itu maknanya bertambah dan berkembangnya kebaikan yang terus menerus. 

Berdasarkan penjelasan di atas, sesungguhnya setiap Muslim pada dasar dapat mengukur dan memastikan sejauh mana dalam kehidupannya ia mendapatkan keberkahan. Jika dikaitkan dalam konteks bulan Ramadan ini, ilustrasinya cukup sederhana. Jika pada hari-hari biasanya di luar bulan Ramadan seorang Muslim mengerjakan 10 kebaikan dalam 1 hari, sedangkan pada bulan Ramadan ia mampu mengerjakan 11, 12, sampai 15 kebaikan dalam 1 hari, makai ia bisa dikatakan mendapakan keberkahan. 

Kebaikan di sini bisa bermakna kebaikan yang bersifat ritual (ibadah ma’dhoh) seperti shalat fardhu, shalat sunnah, berdzikir (lisan), tilawah qur’an, berzakat maal, dan berzakat fitrah. Juga kebaikan yang bersifat sosial muamalah (ibadah ghoir ma’dhoh) seperti bersedekah, membantu kesulitan orang lain, bersikap baik kepada orang tua, kerbat, tetangga, guru, murid, menuntut ilmu, bekerja keras mencari nafkah halal dan lain sebagainya. Termasuk ke dalam kebaikan juga adalah menjauhi apa yang dilarang oleh Allah SWT seperti berzina, berjudi, minum khamar, fitnah, berbohong, berbuat dzolim, korupsi, curang, ghibah, dan tindakan maksiat lainnya.

 

Keberkahan dan Ujian Wabah

Lebih rinci dan sederhana lagi penjelasannya, jika seorang Muslim ingin mendapatkan keberkahan pada saat menjalankan shaum Ramadan, kuncinya ia harus menjalani hari-harinya pada bulan Ramadan ini jauh lebih baik dari bulan-bulan sebelumnya, termasuk lebih baik dari Ramadan tahun-tahun sebelumnya. Jika pada hari dan bulan sebelumnya seorang Muslim hanya mengerjakan shalat fardu (wajib) saja, maka pada bulan Ramadan ini harus ditambah lagi dengan shalat-shalat sunnah lainnya seperti shalat malam (tarawih), shalat dhuha, dan shalat sunnah rawatib (shalat sunnah sebelum dan sesudah shalat wajib). Jika sebelumnya ia hanya membaca Al-Qur’an seingatnya saja, tidak setiap hari, maka saat Ramadan ia harus mampu membaca Al-Qur’an rutin setiap hari minimal konsisten selama 30 hari. Jika sebelumnya ia hanya mampu bersedekah 1 bulan sekali, maka pada saat Ramadan ia harus mampu bersedakah 2 minggu sekali, bahkan bisa 1 minggu sekali dalam bulan Ramadan ini. Jika sebelumnya ia hanya belajar ilmu Islam sesempatnya aja, maka pada saat Ramadan ini ia harus mampu lebih rajin lagi dalam mempelajari Islam. Begitu seterusnya,

 

Perlu diingat dan tidak boleh dilupakan adalah kebaikan yang tidak kalah pentingnya yakitu kebaikan menjauhi larangan dari Allah SWT. Jika ada hari dan bulan sebelumnya kita masih sering melakukan dosa-dosa kecil seperti ghibah, menggunjing, mencela, bertengkar, menyakiti orang lain, maka pada Ramadhan ini semuanya harus kita tinggalkan. Jika belum bisa sepenuhnya, minimal kita kurangi, dan isi waktu kita dengan hal-hal yang lebih produktif. Apabila dosa-dosa kecil saja harus ditinggalkan, apalagi dosa-dosa besar seperti meninggalkan sholat, berzina, minum-minuman khamar, berjudi, membunuh, menyekutukan Allah, sudah tentu itu sangat wajib harus kita tinggalkan. 

Tentu bukan bukan perkara mudah untuk melakukan itu semua, butuh perjuangan dan pengorbanan yang tidak sedikit untuk mengubah tindakan lama menjadi tindakan-tindakan baru. Kalimat melakukan sesuatu tidak semudah dengan mengatakannya bisa diakui kebenarannya. Lebih sulit lagi memperbaiki amal di tengah wabah yang sedang kita alami ini. Tapi sebagai seorang Muslim kita harus yakin bahwa Allah tidak mungkin memberikan ujian kepada hambanya di luar batas kemampuannya. Ketika Allah menguji kita dengan wabah ini, Allah sudah memastikan bahwa pada hakikatnya kita melewati ujian wabah ini.

Jangan biarkan Ramadan yang sudah dilewati berkali-kali berlalu begitu saja dalam kehidupan kita. Setiap Ramadan yang kita lalui harus selalu bermakna, dan berdampak nyata kepada perbaikan kualitas diri kita. Salah satunya caranya dengan menerapkan prinsip meraih berkah, yakni senantiasa berusaha untuk terus menambah dan mengembangakan kebaikan diiringi dengan sikap yang konsisten.

Jika filosofi berkah ini dijadikan sebagai salah satu prinsip hidup kaum Muslimin yang ada di Indonesia ini, dan diterapkan dalam skala individu, keluarga, masyarakat dan bangsa, bukan tidak mungkin dalam waktu yang cepat Indonesia akan menjadi bangsa yang berdaulat, kuat, berwibawa, adil dan mensejahterakan. Wallahu’alam.


latestnews

View Full Version