View Full Version
Selasa, 18 May 2021

Bukti Hubungan Mesra Indonesia dan Palestina Sejak Abad ke-15 M (Bagian-1)

Oleh: Tatang Hidayat (Pegiat Student Rihlah Indonesia)

Untuk kesekian kalinya dunia Islam kembali merana, darah tumpah dimana-mana, dan menyisakan tangis serta air mata. Pasca runtuhnya Kekhilafahan Utsmaniyyah pada 3 Maret 1924, dunia Islam yang dulunya satu kepemimpinan dan satu tubuh menjadi terpecah belah menjadi negara-negara kecil sehingga memudahkan musuh-musuhnya untuk menguasai negeri-negeri Islam.

Sejak saat itu, umat Islam bagaikan anak ayam yang tidak lagi memiliki induknya. Umat Islam bagaikan hidangan yang bisa diperebutkan oleh musuh-musuhnya yang ingin menguasainya tanpa perlawanan dan tak ada yang membelanya. 

Ketika umat Islam Indonesia sedang melaksanakan ibadah di bulan suci Ramadhan 1442 H, akhir Ramadhan 1442 H dibelahan bumi lainnya yakni bumi Palestina kembali merana. Bahkan di saat kita merayakan Idul Fitri 1 Syawwal 1442 H, warga Palestina berduka. Aparat keamanan Israel menyerang mereka. Kaum Muslim diusir dari Masjid al-Aqsha dengan kekerasan. Ratusan warga Palestina terluka. Kebrutalan polisi Israel memicu bentrok berikutnya hingga hari ini, bahkan sudah merenggut korban jiwa ratusan umat Islam yang terdiri dari warga sipil, orang tua, wanita, anak-anak dan lain-lain. 

Kekejaman Israel yang didukung oleh Barat itu sudah hampir menguasai seluruh wilayah Palestina. Padahal dunia tahu, Israel sebelum tidak ada. Mereka adalah para pendatang dari Eropa dan mendapatkan tanah tersebut secara paksa setelah menghancurkan Kekhilafahan Utsmaniyyah terlebih dahulu. 

Masjid Al-Aqsha adalah masjid milik kita, kaum Muslimin. Bukan hanya milik bangsa Palestina. Dari sanalah dulu Baginda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Mi’raj ke Sidratul Muntaha. Status kesucian itu tak berubah hingga akhir zaman. Siapa yang shalat di dalamnya akan mendapatkan pahala 500 kali lipat di luar masjid itu, kecuali Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. 

Sementara bangsa Palestina adalah saudara kita. Bukankah Allah menetapkan bahwa sesama kaum mukmin sebagai saudara ? Meski tak sedarah, keimanan telah menyatukan kita semua. Islam telah menghilangkan berbagai sekat perbedaan, suku bangsa, ras, warna kulit, dan status sosial. 

Bahkan dalam konteks bangsa Indonesia, hubungan kedekatan bangsa Indonesia dengan Palestina sudah jauh terbangun sebelum Indonesia lahir. Tepatnya sejak abad 15 M ketika mulai masifnya Islamisasi Nusantara masa Walisongo.

Diriwayatkan dalam beberapa sumber yang masyhur, ketika masifnya dakwah Islam masa Walisongo abad ke 15 M, saat itu ada seorang ulama dari Baitul Maqdis yang kita kenal sekarang Palestina, namanya Maulana Utsman Haji atau yang dikenal Sunan Ngudung datang mengarungi samudera sehingga sampai ke Ampel Denta, Surabaya.

Maulana Utsman Haji adalah putra Sultan di Palestina yang bernama Sayyid Fadhal Ali Murtazha yang berhijrah fii sabilillah hingga ke Jawa dan sampailah di Kesultanan Demak dan diangkat menjadi Panglima Perang Kesultanan Demak. 

Maulana Utsman Haji adalah seorang Imam Masjid Agung Demak. Dikarenakan Maulana Utsman Haji ini adalah seorang yang pandai berperang, oleh Maulana Rahmat Ali Rahmatullah (Sunan Ampel) direkomendasikan kepada raja Majapahit untuk menjadi pelatih tentara Majapahit.

Salim A Fillah (2020) menjelaskan Maulana Utsman Haji berangkat ke Raja Majapahit atas rekomendasi Maulana Rahmat Ali Rahmatullah. Kemudian Maulana Utsman Haji diangkat menjadi pelatih militer tentara kerajaan Majapahit. Hasil didikan Maulana Utsman Haji sangat luar biasa, didikannya menjadi tentara yang hebat semua. 

Saat itu diriwayatkan ada seorang raja bawahan dari Majapahit, namanya Raja Kresna Kapakistan dari Kerajaan Gel Gel, yang sekarang di Kabupaten Karang Asem. Dalam kitab yang disebut sejarah Dalem Waturenggong dijelaskan ketika Raja Kresna Kapakistan melakukan kunjungan menghadap Majapahit, dan ketika mau pulang oleh Raja Majapahit dia dikasih hadiah, hadiahnya berupa 60 prajurit terbaik untuk mengawalnya ke Bali dan 60 prajurit terbaik ini dalam sejarah Dalem Waturenggong di Bali disebutkan semuanya nyamaselamnyama artinya saudara, selamartinya Islam. 

Inilah 60 muslim pertama di Bali, prajurit terbaik Majapahit yang dihadiahkan semuanya didikan Maulana Utsman Haji. Dengan riwayat ini dapat dinyatakan sebenarnya Umat Islam di Bali memiliki hutang sejarah dan hutang budi kepada Palestina. 

Maulana Utsman Haji punya anak laki-laki waktu itu, namanya Sayyid Ja’far Shadiq Azmatkhan yang dikenal dengan Sunan Kudus. Beliau adalah putra dari pasangan Sayyid Utsman Haji (Sunan Ngudung) dengan Syariah Dewi Rahil binti Sunan Bonang. Nama Ja’far Shadiq diambil dari nama datuknya yang bernama Ja’far ash-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib yang beristerikan Fatimah Az Zahra binti Nabi Muhammad SAW.

Sunan Kudus merupakan salah satu tokoh penyebar Islam di tanah Jawa yang memiliki pengaruh luas dan signifikan dalam perjuangan dakwah Islam di tanah Jawa. Inskripsi yang menjelaskan sosoknya pada Masjid Al-Aqsha di kota Kudus, Jawa Tengah menekankan dua gelar yang begitu prestisius yakni Syaikhul Islam dan al-Qadhi (Muh. Sidiq HM, 2020).

Peran Sunan Kudus sebagai panglima Perang Kesulanan Demak dibuktikan ketika ikut serta menyerang Kafir Portugis di Melaka bersama putra mahkota Sultan Pati Unus. Muh. Sidiq HM (2020) bahkan mencatat kegemilangan kepemimpinan militer Sunan Kudus dibuktikan ketika melakukan penyerangan ke Jantung Ibukota Majapahit Girindrawardhana. Peperangan ini turut menyertai Sunan Giri, Sunan Mejagung dan Sunan Gunung Djati. Setelah matahari terbit, perang pun pecah dengan sengit. Dengan adanya pasukan-pasukan khusus dari berbagai wilayah, nampak pasukan Demak tak butuh waktu lama untuk bisa menggempur pasukan Girindra Wardhana. Mereka kocar-kacir banyak yang melarikan diri. Pasukan Demak terus merangsek maju, hingga sampai di kotapraja Trowulan, ternyata istana sudah dikosongkan. Kegemilangan kepemimpinan militer Sunan Kudus juga mampu dibuktikan dalam upaya pemberantasan gerakan kudeta yang dilakukan oleh Ki Ageng Pengging murid dari Syaikh Siti Jenar yang mengajarkan ajaran menyimpang. 

Sementara itu, selain menjadi komandan militer, atas kedalaman ilmu fiqih dan ketatanegaraan yang dimiliki oleh Sunan Kudus, pada masa berdirinya Kesultanan Demak, beliau diminta bersama Sunan Giri untuk menyusun sebuah kitab undang-undang yang akan diterapkan sebagai sumber hukum kesultanan. Dari usaha yang dilakukan kedua tokoh tersebut, maka lahirlah sebuah kitab hukum undang-undang pidana maupun perdata yang disebut “Angger-Angger Suryangalam”. Dari sinilah kemudian Sunan Kudus juga dipercaya sebagai salah satu Qadhi atau Hakim Agung di Kesultanan Demak, hingga akhirnya beliau memutuskan untuk menetap di daerah Kudus dan meletakan semua jabatan yang beliau emban selama mengabdi kepada Kesultanan Demak (Muh. Sidiq, HM, 2020).

Ketika Sunan Kudus berdakwah di Kudus, beliau membangun masjid. Dikarenakan rindunya sama tanah kelahiran, masjidnya diberi nama sama dengan masjid di tanah kelahirannya, masjid suci ketiga umat Islam yakni Masjid Al-Aqsha. Bahkan ada yang meriwayatkan, peletakan batu pertama menggunakan batu dari Baitul Maqdis di Palestina. Masjid Al-Aqsha Manarat Qudus dibangun sejak tahun 956 H / 1549 M.

Bersambung...


latestnews

View Full Version