View Full Version
Ahad, 20 Dec 2009

TKW Hong Kong dalam Cengkeraman Salibis

Hong Kong adalah negara yang menjanjikan limpahan materi bagi para pekerja dari berbagai negara, khususnya bagi pekerja asal Indonesia,Thailand, Filipina,Nepal, India dan Pakistan. Di negeri inilah para Buruh Migran Indonesia (BMI) –yang di tanah airnya disebut Tenaga Kerja Wanita alias TKW– mengadu nasib. Bahkan tidak sedikit pula para pekerja migran tersebut akhirnya menikah dengan warga Hong Kong kemudian menjadi warga tetap Hong Kong.

Tetapi, Hong Kong dengan segala keglamorannya telah melahirkan dilema yang tidak ringan bagi pekerja migran. Kebebasan pergaulan, mudahnya akses internet, maraknya fashion yang menggoda, membuat mereka jatuh bangun mempertahankan sebuah keimanan. Lemahnya kesadaran beragama bagi masyarakat Hong Kong ikut menjangkiti buruh migran.

Akibatnya, bayak pula muslimah Indonesia yang terkikis jati dirinya, hanyut dalam budaya dan gaya hidup penduduk Hong Kong. Ingin menjadi baik atau buruk, fasilitasnya telah tersedia. Ada yang kian larut dengan gaya hidup westernisasi dengan menanganggalkan agama, ada pula yang kian menguat keimanannya karena takut terseret kejamnya kebebasan hidup.

...bayak pula muslimah Indonesia yang terkikis jati dirinya, hanyut dalam budaya dan gaya hidup penduduk Hong Kong...

Banyak di antara BMI yang membuat komunitas-komunitas. Ada yang mendirikan komunitas dancer, komunitas dakwah, komunitas yang khusus menangani kasus yang menimpa buruh migran, dll.

Komunitas yang sangat membuat kami gerah adalah komunitas salibis. Mereka dari berbagai aliran: Katolik, Protestan dan Pantekosta. Dan aliran yang paling getol adalah aliran Saksi Yehova (Jehovah's Witnesses), karena mampu merangkul semua kalangan, mulai dari buruh migran hingga warga Hong Kong asli. Dengan terang-terangan gereja-gereja tersebut bisa mendatangkan misionaris dari USA, Jerman, Malaysia, Filipina untuk di terjunkan ke negara Hong Kong.

Rata-rata misionaris tersebut menguasai bahasa Indonesia. Aksi mereka dalam melancarkan pemurtadan juga terang-terangan. Mereka mendatangi tempat-tempat yang banyak terdapat warga Indonesia berkumpul. Dengan wajah ramah dan hangat misionaris tersebut menawarkan sebuah "persahabatan" dan "bantuan" halus namun menjebak! Dan kebanyakan dari rekan-rekan BMI sulit mengelak darinya. Salibis yang beraksi Hong Kong juga didatangkan dari Korea Selatan dan fasih berbahasa Indonesia, karena penulis pernah ikut kajiannya.

...Dengan wajah ramah dan hangat misionaris tersebut menawarkan sebuah "persahabatan" dan "bantuan" halus namun menjebak! Dan kebanyakan dari rekan-rekan BMI sulit mengelak darinya...

Ini merupakan awal petaka bagi saudara-saudara kita. Tidak mudah lari dari jeratan salibis. Cara-cara halus di gunakan untuk memperdaya si korban hingga benar-benar mengikuti kemauannya.

Selain dengan cara tersebut banyak lagi cara yang cukup licik. Di antaranya dengan memanfaatkan saudara kita yang dalam kesulitan. Kejadian ini pernah di alami sahabat saya. Kebetulan dia mengalami diskriminasi dengan mendapatkan gaji HKD 2.000 perbulan, padahal peraturan di sini upah minimum rakyat (UMR) adalah HKD 3.580. Sahabat saya tersebut menuntut majikannya dengan bantuan shelter Kristen.

Maka dengan sangat mudah pihak shelter bisa memenangkan kasus tersebut. Akan tetapi tentu saja ada maksud tersembunyi di balik semua itu! keimanannya harus rela ditukar. Namun alhamdulillah, Allah telah menyelamatkan sahabat saya. Setelah kasusnya selesai dimenangkan dengan bantuan pihak salibis dia mampu berkelit dan melarikan diri dari cengkraman misionaris. Fakta di lapangan telah membuktikan bahwa tidak sedikit saudara-saudara kita di Hong Kong telah murtad. Astaghfirullahal azim..

Sampai sekarang kami tidak punya tempat khusus yang menaungi perjuangan menghadapi arus kristenisasi. Masih sangat langka yang peduli dengan masalah kami. Tapi Alhamdulillah, buku-buku kristologi karya Bapak Insan Mokoginta cukup membantu. Buku-buku tersebut banyak di buru rekan-rekan untuk dijadikan bekal saat menghadapi salibis. Terkadang memang kami kesulitan mematahkan argumen-argumen mereka. Itu menjadi tantangan tersendiri bagi kami. Kami tidak rela Islam dihina, direndahkan dan dihujat. Menyimak uraian argumen mereka dengan seksama kemudian dari situ kami menemukan celah-celah kelemahan dan terkesan memaksakan kehendak agar kami mengikuti mereka. untuk saat ini satu-satunya kristolog yang aktif membantu kami adalah bapak Insan Mokoginta.

Kami juga sering menghadapi diskriminasi tentang jilbab, shalat dan puasa. Tidak ringan perjuangan mempertahankan aqidah di negara Hong Kong ditambah lagi lingkaran salibis cukup menakutkan. Tanggungjawab siapakah perjuangan ini? [yuliana/voa-islam/hk]

Baca berita terkait:

  1. TKW Hong Kong: Pernik-pernik Dakwah di Tengah Sejuta Masalah
  2. Membungkam Artikel Facebook yang Menyudutkan Muslim Indonesia di Hong Kong
  3. TKW Hong Kong dalam Cengkeraman Salibis

 


latestnews

View Full Version