View Full Version
Rabu, 15 Sep 2010

Krisis Gereja Katolik Belgia

NIJMEGEN (voa-islam.com): Gereja Katolik-Roma Belgia masih belum memberikan kejelasan mengenai sejumlah besar skandal pelecehan anak-anak. Laporan tentang pelecehan besar-besaran oleh institusi gereja mengejutkan seluruh Belgia.

Senin lalu uskup agung Mechelen, Léonard van Mechelen, mengadakan jumpa pers, dihadiri seluruh media Belgia. Mereka mengharapkan keterbukaan dalam kasus ini dan juga kejelasan. Namun gereja tetap bungkam.

Sulit mengakui
"Lagi-lagi tidak ada hasil satu pun," keluh seorang wartawan Vlandria. "Mereka terus bertahan."
"Bukan main," kata rekan wartawan dari Walonia. Baik pers maupun publik Belgia sangat heran dengan tabir yang sampai sekarang menyelimuti gereja Katolik.

Bahkan tayangan televisi ketika uskup Léonard dilontari berbagai pertanyaan kritis usai jumpa pers, tidak menjawab pertanyaan para pemirsa. "Memang dia mengatakan sesuatu?" tanya mereka. Satu-satunya janji dari pihak gereja adalah akan dibangun pusat untuk "pengakuan, penyembuhan, pemulihan dan rekonsiliasi." Namun masih belum jelas, di mana, kapan dan siapa yang akan memimpinnya.

Aturan Main
Profesor Peter Nissen adalah guru besar sejarah budaya religi di Universitas Radboud, Nijmegen. Ia tidak heran dengan ketidakjelasan gereja Katolik Belgia.

"Gereja, apalagi gereja Belgia, di mana gereja Katolik Roma memiliki posisi penguasa di bidang filsafat, sudah terbiasa menentukan undang-undangnya sendiri. Menentukan aturan main sendiri, juga soal cara komunikasi dengan lingkungan di sekitar. Dan jika kini terungkap hal-hal yang merugikan citra gereja, sulit bagi mereka untuk menanganinya."

Damage Control
Apa yang diharapkan media Belgia dari konferensi pers Senin kemarin adalah, pimpinan gereja menyerahkan seluruh penyelidikan kepada pihak kehakiman. Penyerahan ke tangan yustisi memang bisa memberikan kejelasan dan bahkan bisa mengurangi kemarahan rakyat negara itu. Nissen berpendapat, pihak gereja tidak bisa lagi mengingkari hal tersebut. Menurutnya sampai saat ini kekecewaan rakyat Belgia terhadap gereja begitu besar, sehingga penyerahan penyelidikan kepada pihak yustisi tidak dapat dihindari lagi. Jadi boleh dibilang ini sama dengan 'damage control' atau 'untuk mengontrol dampak negatif.'

Penyerahan semua kasus ke tangan pihak yustisi Belgia ini juga berulangkali diminta organisasi para korban pelecehan. Tidak menjadi soal apakah kasus itu sudah kadaluarsa, yang terpenting adalah keterbukaan.

Mengobati Luka
Satu langkah pendekatan yang diambil persatuan gereja Belgia adalah pendirian 'Pusat Pengakuan'. Menurut Nissen ini dapat disamakan dengan satu cara untuk mengobati luka.

"Sebenarnya tidak sejauh itu. Mereka menjanjikan sesuatu di masa depan, yang mana pihak gereja sendiri tidak tahu apa tugas-tugas lembaga tersebut. Untuk sementara ia berfungsi sebagai pusat informasi. Ya memang kedengarannya tidak jelas dan tidak tegas, juga penjelasan tentang hal ini. Sementara para korban mengatakan 'satu hal penting adalah keadilan."

Nissen berpendapat sebetulnya pendirian pusat informasi itu adalah tamparan bagi para korban.

Selamat
Yang menjadi pertanyaan apakah gereja Belgia bisa keluar dari krisis ini dengan selamat. Peter Nissen berpendapat krisis ini berbeda dari masalah-masalah yang dihadapi gereja Belgia sampai sekarang. Selama ini ancaman datang dari luar tubuh gereja; revolusi Prancis, Zaman Penerangan dan industrialisasi. Ancaman selalu datang dari luar.

"Krisis sekarang ini datang dari dalam tubuh gereja sendiri. Krisis itu sangat merusak kepercayaan terhadap gereja. Kemungkinan besar kepercayaan itu makin berkurang, sehingga gereja merosot menjadi suatu ikatan religius rakyat minoritas."

Tawa mengejek
Namun menurut Nissen, satu hal sudah pasti. Harus ada keterbukaan, saat ini juga. Lagi-lagi membentuk komisi gereja yang menyelidiki sendiri gereja, hanya akan menimbulkan tawa mengejek, kata guru besar. (za/rnw)


latestnews

View Full Version