View Full Version
Kamis, 08 Sep 2011

Setelah 11 Tahun, Gaza Aman Berhari Raya Idul Fitri di Tahun Ini

GAZA (voa-islam.com) - Setelah 11 tahun, tepatnya sejak 1999, baru tahun ini rakyat Gaza kembali dapat menjalani Hari Raya Idul Fitri dengan aman tanpa adanya serangan Israel. Demikian informasi yang didapat relawan MER-C, Abdillah Onim, dari seorang warga Gaza bernama Jomah. Menurut Jomah atau Abu Muhammad. Kondisi hari raya di Gaza yang aman seperti ini hanya mereka rasakan pada Idul Fitri pada tahun 1999 dan Alhamdulillah dapat mereka rasakan kembali di tahun ini. Kondisi Gaza yang aman di kala Idul Fitri juga sangat disyukuri oleh enam relawan MER-C Indonesia yang sedang bertugas mengawal pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza.

Kondisi yang aman tanpa serangan Israel baru terjadi sejak 3 hari sebelum Idul Fitri. Sebelumnya, selama beberapa waktu selama bulan Ramadhan kondisi Jalur Gaza sempat mencekam akibat serangan yang tak terduga dan sporadis yang dilakukan oleh zionis Israel. Serangan dilakukan baik melalui darat dengan menggunakan tank-tank serta serangan jarak jauh dengan menggunakan roket, maupun melalui serangan udara dengan memanfaatkan pesawat tanpa awak maupun jet tempur. Serangan selama Ramadhan ini telah berakibat sangat fatal, yang menyebabkan tidak kurang dari 20 orang kehilangan nyawa dan 80 orang lebih lainnya mengalami luka yang sangat parah, belasan rumah penduduk pun rata dengan tanah. Zionis pun tidak memilih dalam melakukan serangan. Tua, muda, wanita bahkan bocah kecil tak berdosapun menjadi sasaran kebrutalan mereka.

Dua relawan MER-C Indonesia saat sholat Ied di Gaza, Darusman dan M. Husein (ke-3 dan ke-4 dari kanan)

“Kami menyaksikan tubuh bocah hangus tak berbentuk, luka-luka yang menganga, tulang-tulang  hancur, bahkan daging manusia yang hancur bertebaran serta darahpun berceceran di pemberhentian roket-roket zionis Israel,” demikian tulis Abdillah, salah satu relawan MER-C Indonesia dalam surat elektroniknya.

Serangan seringkali dilakukan ketika masyarakat Gaza tengah menyantap sahur ataupun berbuka puasa dan tak jarang serangan juga dilakukan ketika warga Gaza sedang melaksakan sholat wajib di masjid-masjid di kota Gaza.

Bahkan sempat beberapa kali serangan Israel mendarat sangat dekat dengan lokasi pembangunan RS Indonesia, hanya berjarak sekitar 30 meter dari lokasi RS Indonesia. Untungnya serangan ini terjadi di hari Jum’at sehingga aktifitas pembangunan RS Indonesia di Gaza pun sedang libur sehingga tidak ada pekerja maupun relawan Indonesia yang berada di dekat lokasi RS.

Melihat serangan brutal Israel dan merasakan langsung goncangan serta bunyi gemuruh tatkala rudal dan bom Israel mendarat di tanah Gaza, relawan Indonesia sangat menyayangkan atas “masa bodohnya” dunia internasional dan PBB terhadap kondisi yang terjadi di Palestina khususnya di Jalur Gaza, termasuk lemahnya peran negara-negara Islam dan organisasi-organisasi Islam.

Ismail Haniya: Israel Jangan Gegabah Perpanjang Blokade terhadap Gaza

Tidak pernah terbayangkan oleh enam relawan MER-C Indonesia –Abdillah Onim, Ir. Edi Wahyudi, Ir. Ahmad Fauzi, Darusman bin Nurkhamid, Ust. Abdurrahman dan M. Husein– mereka bisa berkesempatan menjalankan ibadah Ramadhan dan merayakan Hari Raya Idul Fitri bersama warga Gaza - Palestina. Keenam relawan ini berada di Gaza dalam rangka mengawal proses pembangunan RS Indonesia yang sudah mencapai tahap pembangunan pondasi dan tiang lantai satu dari 2 lantai yang direncanakan.

Ketika Idul Fitri tiba, kami membagi diri menjadi dua tim untuk melaksanakan sholat Ied di dua tempat yang berbeda. Tim pertama terdiri dari 4 orang –Ir. Ahmad Fauzi, Ust. Abdurrahman, Ir. Edy Wahyudi dan Abdillah Onim- melakukan sholat Ied di lapangan yang letaknya berdekatan dengan posko MER-C di Gaza yang berhadapan dengan Rumah Sakit Al-Quds di Tal el-Islam di Gaza City. Sedangkan 2 relawan lainnya -Darusman dan M. Husein- melaksanakan sholat Ied di Gaza Selatan tepatnya di kota Khan Younis. Sholat Ied yang digelar di Lapangan Balai Kota Khan Younis ini diimami langsung oleh Perdana Menteri Ismail Haniya.

PM Ismail Haniya tiba di lokasi sholat Ied dengan pengawalan yang ketat dan diiringi oleh konvoi dari Inggris dan Afrika yang tiba di Jalur Gaza sehari sebelumnya. Ribuan masyarakat Khan Younis menyambut kedatangan PM Ismail Haniya dengan teriakan takbir yang menggema dan penuh semangat. Dua relawan MER-C, Darusman dan M. Husein, tiba di lokasi sholat Ied beberapa detik setelah kedatangan PM Ismail Haniya. Kedua relawan Indonesia mendapatkan kehormatan mengisi tempat khusus bersama para menteri dan tamu asing lainnya.

Meskipun jama'ah shalat Ied tumpah ruah sampai ke jalan-jalan raya namun suasana shalat kali ini terasa sangat syahdu dan khusyu’. Lantunan merdu ayat-ayat Al-Quran oleh sang Pemimpin yang juga lebih akrab dipanggil Abul 'Abid benar-benar telah menghipnotis para pendengarnya ke dalam dimensi khusyu’.

“Kali ini kami lebih melihat sosok PM Ismail Haniya sebagai seorang ulama quro (baca: Spesialis dalam bacaan Al-Quran) dibandingkan seorang politikus,” ungkap Husein, relawan MER-C Indonesia yang paling muda.

Setelah membaca surah Al A'laa dan Al Ghasyiah dalam dua raka'at, kemudian dilanjutkan dengan khutbah Iedul Fitri yang juga disampaikan oleh Sang Pemimpin. Dalam khotbahnya yang juga disiarkan langsung oleh beberapa stasiun televisi termasuk Al-Aqsa TV dan TV Al-Quds, PM Ismail Haniya mengucapkan Selamat Idul Fitri kepada Umat Muslim di seluruh dunia. Haniya menyampaikan bahwa kondisi Gaza masih diblokade dan kehidupan rakyat Gaza kian memburuk. Lebih lanjut Haniya menyerukan kepada seluruh umat Islam agar meningkatkan kepeduliannya kepada Masjid Al-Aqsha sebagai kiblat pertama umat Islam.

Di sela-sela khotbahnya, Haniya juga menekankan kepada pemerintahan zionis Israel agar jangan gegabah untuk memperpanjang blokade terhadap Gaza karena warga Gaza tidak sendiri melainkan bersama-sama dengan banyak negara lainnya. Sebagai contoh Haniya menunjukkan bahwa hari ini warga Gaza sholat Ied bersama puluhan anggota konvoi dari Afrika Selatan. Dua minggu lalu warga Gaza juga menjalankan puasa Ramadhan bersama 11 orang warga dari Malaysia dan Eropa, bahkan sampai dengan detik ini warga Gaza hidup berdampingan dengan rakyat Indonesia di Jalur Gaza - Palestina.

Dalam khutbahnya yang dikawal ketat oleh ratusan tentara ini Sang Perdana Menteri menegaskan bahwa berbagai perubahan besar yang terjadi di bumi Palestina yang mereka alami dalam kurun waktu terakhir melalui berbagai revolusi dan kebangkitan semakin menunjukan hasil positif ke arah pembebasan Masjid Al Aqsha.

Pada kesempatan tersebut, Haniya juga menyampaikan bela sungkawanya terhadap para syuhada yang menajdi korban serangan brutal Zionis Israel selama Ramadhan kemarin yang mayoritas berasal dari daerah Khan Younis. Tidak lupa Haniya juga mengucapkan selamat datang kepada para konvoi dari luar Palestina dan berterima kasih terhadap kepedulian mereka selama ini.

“Kami tidak akan pernah mengenal yang namanya Israel. Hanya ada satu kata yaitu KEMBALI, kembalikan hak kami dan apapun akan kami tempuh walau bersimbah darah,” pesan Haniya diakhir khotbah Iedul Fitrinya.

Bersilaturahmi Idul Fitri di Gaza

Selepas acara shalat Ied berjama'ah, dua relawan Indonesia, Darusman dan M. Husein, bersama konvoi dari Inggris dan Afrika bertolak menemani rombongan PM mengunjungi beberapa keluarga para syuhada yang berada di sekitar kota Khan Younis. Dalam kunjungannya ini PM Ismail Haniya benar-benar menunjukkan rasa persaudaraan dan hubungan kekeluargaan terhadap keluarga para syuhada tersebut. 

Usai sholat, kami relawan Indonesia kembali berkumpul di posko MER-C Cabang Gaza dan menerima kunjungan dari sahabat-sahabat baru di Gaza. Khusus Abdillah Onim, yang belum lama ini menikah dengan muslimah Gaza, pemuda asal Galela Maluku Utara ini sangat bersyukur bisa merasakan Iedul Fitri dengan keluarga barunya, keluarga Gaza. Seperti halnya di Indonesia, Abdillah dan istri juga menyempatkan bersilturahmi ke keluarga istrinya yang kebanyakan tinggal di wilayah Gaza bagian Utara.

Pukul 6 sore waktu Gaza, relawan MER-C Indonesia mengunjungi rumah kontraktor RS Indonesia yaitu Yaser Keshko atau Abu Mansur untuk berhari raya dan bersilaturahmi. Di rumah sang kontraktor kami disuguhkan kue khas Gaza yaitu kue kaek, kacang arab/mukassarat, teh panas dan ditutup dengan kopi sada yaitu kopi pahit dan kurma mentah yang segar dan manis. [taz/mer-c]


latestnews

View Full Version