View Full Version
Rabu, 12 Dec 2012

Tentang AS, Pejuang dan Rakyat Suriah Nyatakan Dukungan Kesetian pada Jabhat Al-Nusrah

SURIAH (voa-islam.com) - Kelompok pejuang pemberontak di seluruh Suriah menentang Amerika Serikat dengan melakukan sumpah setia kepada kepada Jabhat Al-Nusrah, kelompok yang Washington tunjuk sebagai sebuah organisasi teroris global kerena dugaan terkait dengan Al-Qaidah.

Sebanyak 29 kelompok oposisi, termasuk  "brigade-brigade" tempur dan komite-komite sipil, telah menandatangani sebuah petisi yang menyerukan demonstrasi massal hari Jum'at dalam mendukung Jabhat al-Nusrah, sebuah kelompok pejuang Islam yang Gedung Putih percaya merupakan cabang dari Al-Qaidah di Irak.

Petisi itu mempromosikan slogan "Tidak untuk intervensi Amerika, karena kami semua adalah Jabhat al-Nusrah" dan mendesak para pendukungnya untuk "mengibarkan bendera Jabhat Al-Nusrah sebagai rasa "terima kasih".

"Ini (Jabhat Al-Nusrah-Red) adalah para laki-laki untuk rakyat Suriah, orang-orang ini adalah pahlawan yang menjadi bagian dari kami dalam agama, dalam darah dan dalam revolusi," kata sebuah pernyataan beredar luas di halaman Facebook oposisi Suriah.

Keputusan untuk memblacklist kelompok Jabhat Al-Nusrah, yang diumumkan pada Senin (10/12/2012), meningkatkan prospek berlarut-larut, pemberontakan anti-Amerika jika dan ketika para pemberontak berhasil memaksa keluar Presiden Bashar al-Assad.

Washington mengambil langkah tepasebut sebagai bagian dari strategi baru untuk memaksakan "bentuk" pada oposisi yang diharapkan akan menggantikan Bashar Al-Assad.

AS legitimasi bombardir rezim Suriah

..Dengan menyebut Jabhat al-Nusra sebagai teroris, AS telah melegitimasi pemboman rezim Suriah terhadap kota-kota seperti Aleppo. Sekarang pemerintah Suriah bisa mengatakan negara itu tengah memerangi teroris..

Tak cuma para pejuang dilapangan, bahkan para aktivis oposisi utama menyatakan kemarahan pada apa yang mereka katakan adalah upaya di menit-menit terakhir Amerika menggunakan "otot pada revolusi mereka".

"Ini adalah waktu yang mengerikan pada bagian dari Amerika Serikat," kata Mulham Jundi, yang bekerja dengan badan amal oposisi Watan Suriah. "Dengan menyebut Jabhat al-Nusra sebagai teroris, AS telah melegitimasi pemboman rezim Suriah terhadap kota-kota seperti Aleppo. Sekarang pemerintah Suriah bisa mengatakan negara itu tengah memerangi teroris."

Munculnya Jabhat al-Nusra mewakili ketakutan 'terburuk' Amerika. Sejak awal konflik Suriah, AS dan sekutunya menolak untuk mempersenjatai para pemberontak dengan alasan untuk menghindari senjata-senjata tersebut jatuh ke tangan jihadis. Namun -berkat pertolongan Allah- perlahan tapi pasti dengan tanpa kehadiran Amerika dan sekutunya, kelompok jihad yang didanai secara baik oleh para pendukung di Teluk tersebut telah meningkat menjadi terkenal berkat kemenangan-kemenangan yang mereka peroleh dan juga keberanian mereka.

Jabhat al-Nusra telah menorehkan namanya awal tahun ini dengan serangkaian bom jibaku, sebuah taktik terus digunakan oleh kelompok itu. Dibantu oleh para pejuang dari luar negeri dan Suriah yang telah kembali dari perang lain di Timur Tengah, kelompok itu juga memimpin pertempuran untuk sejumlah pangkalan militer dan telah mendapatkan serangkaian kemenangan baru-baru ini. Bersama dengan kelompok-kelompok jihad sekutu, mereka merebut pangkalan militer Syekh Suleiman di barat dari Aleppo Ahad pagi, dan juga menghancurkan infrastruktur rezim Suriah di ibukota Damaskus.

Meskipun Jabhat al-Nusra tetap terpisah dari Tentara Pembebasan Suriah (FSA), banyak pemimpin FSA kini mengakui kekuatan mereka dan memerintahkan pasukannya untuk bekerja sama dengan mereka.

Campur tangan Barat tidak akan diterima

..Sejak awal anda (Amerika dan sekutunya-Red) sedang menonton kami mati, dan sekarang ketika kami dekat dengan kemenangan, Anda ingin ikut campur? Anda tidak diterima..

Barat berusaha untuk memperbaiki kebisuan mereka ini pada akhir pekan dengan mendukung pembentukan struktur komando FSA baru pada sebuah pertemuan di Turki. Kepemimpinan baru, yang diisi oleh para mantan komandan militer seperti Jenderal Mustafa al-Sheikh dan Kolonel Riad al-Assad, termasuk tokoh-tokoh senior tanpa latar belakang rezim. Banyak terkait dengan Ikhwanul Muslimin atau bahkan lebih radikal dari gerakan radikal Salafi, tetapi para pria tersebut dianggap Barat "dapat melakukan bisnis".

Komando tersebut dipandang sebagai calon sayap militer dari Koalisi Nasional Suriah yang baru, dibentuk bulan lalu juga di bawah naungan Barat di Qatar.

Para pemimpin Uni Eropa termasuk William Hague, Menteri Luar Negeri, bertemu kepala koalisi di Brussels kemarin, telah mengakui komando tersebut sebagai "wakil sah dari aspirasi rakyat Suriah".

Para pejuang oposisi di dalam wilayah Suriah mengatakan kepada The Daily Telegraph bahwa pengumuman AS terlalu terlambat, dan bahwa setiap upaya oleh Barat untuk campur tangan di Suriah akan ditolak. "Kami tidak mendukung komando militer baru FSA," kata Ous al-Arabi, seorang juru bicara dari dewan Revolusi Deir al-Zour.

"Untuk provinsi Deir al-Zour mereka telah memilih orang-orang yang tidak ada dalam perwakilan tersebut. Jabhat al-Nusrah adalah kelompok terkuat di sini dan mereka sendiri telah mengabaikan itu.

"Orang-orang tidak akan menerima intervensi oleh Barat sekarang. Sejak awal anda (Amerika dan sekutunya-Red) sedang menonton kami mati, dan sekarang ketika kami dekat dengan kemenangan, Anda ingin ikut campur? Anda tidak diterima." (an/tlgrp)


latestnews

View Full Version