

BEIRUT, LIBANON (voa-islam.com) - Kelompok oposisi utama Suriah hari Jumat (21/12/2012) mengecam inisiatif perdamaian Iran untuk Suriah, mengatakan bahwa inisiatif tersebut hanya merupakan saluran tawaran terakhir untuk menyelamatkan rezim Presiden Bashar al-Assad dari kejatuhan.
"Ketika kekuatan bebas dari rakyat Suriah mencapai satu kemenangan politik dan militer yang menentukan setelah yang lainnya, rezim Assad dan sekutunya terus meluncurkan inisiatif politik yang bersemangat dan terlambat," kata Koalisi Nasional.
"Inisiatif Iran merupakan salah satu contoh dari upaya putus asa untuk melemparkan tali penyelamat ke kapal dari rezim Assad yang pasti tenggelam," katanya dalam sebuah pernyataan.
Teheran, sekutu regional paling kuat dari rezim Assad, merinci inisiatif perdamaian enam poin pada hari Ahad, menurut laporan media Iran.
Rencana tersebut tidak menggambarkan keluarnya rezim Assad dari kekuasaan, tapi malah menyerukan "penghentian segera kekerasan dan tindakan bersenjata di bawah pengawasan Perserikatan Bangsa-Bangsa".
Inisiatif ini juga menyerukan pengangkatan sanksi terhadap Suriah, memulai dialog nasional, pembentukan sebuah pemerintahan transisi, dan pemilihan umum yang bebas.
Koalisi Nasional mengatakan inisiatif tersebut "mengklaim peduli terhadap kehidupan, persatuan, dan kemerdekaan rakyat Suriah".
Tapi kelompok oposisi itu menambahkan bahwa "jika maksud dari rezim Iran tulus dalam hal ini, Iran akan mampu memberikan kontribusi kepada rakyat Suriah untuk mencapai tuntutan dan kepentingan utama mereka.
"Rezim Iran dapat melakukan ini dengan mengakhiri dukungannya terhadap rezim Assad baik secara politik, militer, dan ekonomi, dan dengan menekan rezim untuk pergi secepat mungkin," kata blok oposisi.
"Rezim Iran secara serius harus mempertimbangkan masa depan hubungan antara rakyat Suriah dan Iran, ketika rezim yang sedang didukungnya jatuh."
Koalisi Nasional, yang dibentuk di Qatar bulan lalu, telah diakui oleh puluhan negara sebagai wakil tunggal dan sah rakyat Suriah.
Perang sipil Suriah dimulai pada Maret 2011 sebagai gerakan protes damai pro-reformasi yang terinspirasi oleh Musim Semi Arab, tetapi kemudian berubah menjadi pemberontakan bersenjata setelah pemerintah Assad mulai secara brutal menghancurkan demonstrasi tersebut.
Pemberontakan selama 21 bulan tersebut hingga kini telah menelah korban jiwa lebih dari 44.000 orang, monitor mengatakan. (st/ds)