View Full Version
Sabtu, 22 Oct 2016

Protes Penutupan Masjid, Ratusan Muslim Italia Laksanakan Shalat Jum'at Dekat Colosseum Roma

ROMA, ITALIA (voa-islam.com) - Ratusan umat Muslim melaksanakan shalat Jum'at di dekat Colosseum Roma untuk memprotes penutupan masjid dan tempat ibadah lainnya di Italia, Al Jazeera melaporkan Jum'at (21/10/2016).

Demonstrasi itu dilakukan atas apa yang mereka lihat sebagai pembatasan yang tidak adil pada kebebasan untuk mempraktekkan keyakinan mereka di negara itu, menurut panitia yang menyebut protes itu menyusul penutupan baru-baru ini terhadap lima masjid darurat dengan alasan administrasi.

Umat muslim berlutut di atas sajadah dan terpal beberapa meter dari trotoar amphitheater kuno. Sejumlah spanduk bertuliskan "Perdamaian" dan "Buka masjid" terbentang di lokasi.

Banyak Muslim Italia menduga pemerintah daerah menanggapi iklim ketidakpercayaan yang disebabkan oleh serangan baru-baru ini di Eropa dengan menutup tempat-tempat ibadah dengan alasan masalah yang sepele, seperti jumlah toilet di tempat tertentu.

Protes itu diorganisir oleh kelompok imigran Bangladesh, Dhuumcatu, yang telah mengeluh bahwa tempat ibadah umat Muslim di Roma telah dicap ilegal oleh otoritas untuk berbagai pelanggaran aturan bangunan.

Kelompok itu ingin agar pihak pemerintah kota turun tangan.

"Kami merasa orang menunjuk jari pada kami," kata Francesco Tieri, seorang mualaf yang bertindak sebagai koordinator untuk sejumlah kelompok Islam.

"Tidak ada kemauan politik untuk mengakui bahwa kita di sini dan bahwa kita adalah masyarakat yang damai. Kami terpaksa menyewa tempat untuk beribadah - yang bagi kita adalah seperti menghirup udara. Jika kita tidak dapat melakukannya, kita mati."

Politikus Barbara Saltamartini - dari kelompok anti-imigrasi Partai Liga Utara - menuduh demonstrasi Jum'at "sebuah provokasi yang tidak dapat diterima" yang seharusnya tidak pernah diizinkan untuk mengambil tempat di Roma.

Polisi mengkonfirmasi penutupan beberapa tempat shalat. Dalam sebuah pernyataan, polisi mengatakan pihak berwenang menjamin kebebasan berpikir, tetapi dalam kerangka hukum.

Islam bukan agama resmi

Di Italia, Islam tidak diakui sebagai agama resmi, tidak seperti Yudaisme atau Mormon, dan banyak umat Islam dari Afrika Utara dan Asia Selatan merasa didiskriminasikan atas dasar ras dan agama.

Menurut angka resmi, ada lebih dari 800.000 Muslim yang tinggal di Italia secara hukum, dan para pejabat memperkirakan 100.000 lainnya hidup di sana secara permanen tanpa surat-surat resmi.

Angka itu menunjukkan komunitas Muslim mencakup 1,5 persen dari populasi Italia dan Islam adalah agama kedua di negara itu yang paling banyak pengikutnya setelah Katolik Roma.

Sebagian besar tempat shalat terdapat di rumah-rumah atau pusat-pusat kebudayaan Islam. Hal itu membuatnya sulit dimonitor, sehingga meningkatkan resiko “radikalisasi,” menurut para politisi sayap kanan.

Menteri Dalam Negeri Angelino Alfano mengatakan pada bulan Agustus lalu bahwa “masjid-masjid mini di garasi” seharusnya tidak diperbolehkan.

Parti-partai beraliran sayap kanan menyerukan agar diberlakukan pelarangan menyeluruh atas masjid yang didirikan dengan donasi dari luar Italia.

Di Roma sendiri terdapat masjid terbesar di dunia Barat, tetapi proposal untuk mendirikan masjid bergaya arsitektur tradisional di tempat-tempat lainnya seringkali mendapat penentangan dari pemerintah setempat. (st/AJE)


latestnews

View Full Version