View Full Version
Sabtu, 30 Sep 2017

Lebih 60 Pengungsi Baru Rohingya Diyakini Tenggelam Saat Melarikan Diri dari Operasi Militer Myanmar

COX‘S BAZAR, BANGLADESH (voa-islam.com) - Lebih dari 60 pengungsi Muslim Rohingya dari Myanmar diyakini telah tenggelam saat kapal mereka terbalik.

Para pengungsi itu tenggelam di laut lepas dari Bangladesh pada hari Kamis (28/9/2017), bagian dari gelombang baru orang-orang yang melarikan diri dari sebuah kampanye militer Myanmar yang dimulai pada 25 Agustus dan telah memicu eksodus sekitar 502.000 orang.

Myanmar yang beragama Budha tidak mau mengakui tudingan pembersihan etnis dan kejahatan terhadap kemanusiaan dan telah mengecam pelanggaran hak asasi manusia.

Militernya melancarkan serangan besar dalam menanggapi serangan terkoordinasi terhadap pasukan keamanan oleh pejuang Rohingya di utara negara bagian Rakhine pada 25 Agustus.

Kolonel Anisul Haque, kepala penjaga perbatasan Bangladesh di kota Teknaf, mengatakan kepada Reuters bahwa lebih banyak pengungsi tiba dalam satu atau dua hari terakhir setelah jumlah tersebut sepertinya berkurang sama sekali, dengan sekitar 1.000 orang mendarat di titik masuk utama di pantai pada hari Kamis.

Perahu pengungsi tenggelam dalam hujan deras dan laut lepas saat kegelapan turun. Seorang pejabat Organisasi Internasional untuk Migrasi mengatakan 23 orang dipastikan tewas dan 40 lainnya hilang. Tujuh belas selamat.

"Kami sekarang mengatakan 40 hilang, yang menunjukkan tingkat kematian total akan berada di kisaran 63," pejabat tersebut, Joe Millman, mengatakan dalam sebuah konferensi pers di Jenewa.

Seorang korban selamat, Abdul Kalam, 55, mengatakan bahwa istrinya, dua anak perempuan dan cucu laki-laki termasuk di antara korban tewas, yang dimakamkan pada hari Jumat.

Kalam mengatakan bahwa para Budha bersenjata datang ke desanya sekitar seminggu yang lalu dan menjarah ternak dan makanan.

Dia mengatakan bahwa penduduk desa dipanggil ke sebuah kantor militer dan mengatakan bahwa tidak ada orang seperti Rohingya di Myanmar.

Setelah itu dia memutuskan untuk pergi dan menuju ke pantai bersama keluarganya, menghindari kamp militer di jalan.

Seorang juru bicara badan pengungsi PBB mengatakan seperlima pendatang baru menderita gizi buruk akut.

Bulan Sabit Merah Bangladesh mengatakan bahwa kliniknya merawat lebih banyak orang dengan diare akut.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan salah satu penyakit yang sangat dikhawatirkan adalah kolera.

"Kami melihat tempat berkembang biak yang sempurna untuk krisis kesehatan utama," kata Unni Krishnan, direktur Save the Children's Emergency Health Unit.


latestnews

View Full Version