View Full Version
Rabu, 27 Dec 2017

Rusia Akan Bangun Kehadiran Militer Permanen di Suriah

MOSKOW, RUSIA (voa-islam.com) - Rusia telah mulai membangun sebuah penempatan militer permanen di pangkalan angkatan laut dan udara di Suriah, kata menteri pertahanan pada hari Selasa (26/12/2017) saat parlemen meratifikasi kesepakatan dengan Damaskus untuk memperkuat kehadiran Rusia di negara tersebut, kantor berita RIA melaporkan

Viktor Bondarev, kepala komite keamanan dan pertahanan majelis tinggi, mengatakan kepada RIA bahwa kesepakatan tersebut akan memperluas fasilitas angkatan laut Tartus, satu-satunya pangkalan angkatan laut Rusia di Laut Tengah, dan memberikan akses kapal perang ke perairan dan pelabuhan Suriah.

Kesepakatan tersebut diharapkan bisa ditandatangani pada 18 Januari.

"Pekan lalu Panglima Tertinggi (Presiden Vladimir Putin) menyetujui struktur dan pangkalan di Tartus dan di Hmeimim (pangkalan udara). Kami telah mulai membentuk kehadiran permanen di sana," kata Sergei Shoigu, menteri pertahanan.

Perjanjian tersebut berarti bahwa Rusia akan dapat mempertahankan 11 kapal perang di Tartus, termasuk kapal nuklir. Kesepakatan itu akan berlangsung selama 49 tahun, dan bisa diperpanjang nanti.

Fasilitas angkatan laut Tartus terlalu kecil untuk menjadi tuan rumah bagi kapal perang yang lebih besar.

Menurut kesepakatan tersebut, pangkalan udara Hmeimim sekarang bisa digunakan tanpa batas waktu oleh Rusia. Pangkalan udara itu menjadi tempat peluncuran banyak serangan udara oleh Rusia untuk mendukung sekutu mereka Bashar Al-Assad melawan oposisi Suriah.

Rusia membawa pengaruh besar bagi rezim tersebut dan memiliki kekuatan militer yang besar di Suriah.

Meskipun didirikannya zona de-eskalasi yang disponsori Turki-Rusia-Iran"Pesawat Moskow masih terus menyerang daerah-daerah oposisi dan pemboman baru-baru ini di Ghouta Timur bertepatan dengan perundingan damai.

Konflik Suriah dimulai ketika rezim Baath, yang berkuasa sejak 1963 dan dipimpin oleh Assad, menanggapi demonstrasi damai yang menuntut reformasi demokratis selama gelombang pemberontakan Musim Semi Arab, dengan kekuatan militer yang memicu perlawanan bersenjata yang didorong oleh pembelotan massal dari tentara Suriah.

Menurut pemantau independen, ratusan ribu warga sipil terbunuh dalam perang tersebut, kebanyakan oleh rezim dan sekutu-sekutunya dan jutaan orang telah mengungsi baik di dalam maupun di luar Suriah.

Taktik brutal yang dilakukan terutama oleh rezim Assad, yang mencakup penggunaan senjata kimia, pengepungan, eksekusi massal dan penyiksaan terhadap warga sipil telah menyebabkan penyelidikan kejahatan perang. (st/TNA)


latestnews

View Full Version