View Full Version
Sabtu, 22 Dec 2018

Prancis Berjanji Dukung SDF Setelah AS Pergi dari Suriah

PARIS, PRANCIS (voa-islam.com) - Seorang pejabat Prancis mengatakan negaranya telah berjanji mendukung apa yang disebut Tentara Demokratik Suriah (SDF), aliansi yang didukung AS yang sebagian besar terdiri dari militan Kurdi, di tengah rencana penarikan pasukan Amerika dari negara Arab tersebut.

Pejabat Elysee Palace mengatakan bahwa penasihat Presiden Prancis Emmanuel Macron telah meyakinkan SDF tentang dukungan mereka dalam pertemuan dengan tokoh-tokoh kelompok itu, termasuk ketua bersama Ilham Ahmed dan Riad Darrar, di Paris pada Jum'at (21/12/2018).

"Para penasihat menyampaikan pesan dukungan dan solidaritas dan menjelaskan kepada mereka pembicaraan yang telah dilakukan Prancis dengan otoritas AS untuk melanjutkan perang melawan Daesh," pejabat itu menambahkan.

Pernyataan itu datang dua hari setelah Presiden Donald Trump secara tak terduga mengumumkan bahwa AS akan menarik semua 2.000 pasukannya dari Suriah. Dia juga mengklaim kemenangan atas Islamic State (IS) di negara yang dilanda perang tersebut.

Namun, Prancis, anggota terkemuka koalisi pimpinan-AS, yang memerangi jihadis di Suriah, mengatakan bahwa mereka akan tetap menempatkan pasukan di Suriah.

"Untuk saat ini tentu saja kami tetap di Suriah," kata Menteri Urusan Eropa Prancis Nathalie Loiseau di televisi CNews, sambil menyatakan "perang melawan terorisme belum berakhir."

Secara terpisah, Kementerian Luar Negeri Prancis mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa Paris telah memulai pembicaraan dengan Washington mengenai jangka waktu dan persyaratan untuk penarikan pasukan AS dari Suriah.

Sementara itu, Turki, yang telah menentang dukungan Amerika untuk SDF karena percaya mereka adalah kelompok yang sama dengan Partai Pekerja Kurdistan (PKK) yang dilarang, menekankan bahwa mereka akan mengambil alih perang melawan IS di Suriah.

Dalam pidatonya di Istanbul, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan Turki akan memobilisasi untuk memerangi elemen Islamic State yang tersisa dan untuk sementara menunda rencana untuk menyerang militan Komunis Kurdi di timur laut Suriah.

Para pejabat Amerika dan Turki mengatakan kepada The Associated Press bahwa Trump telah membuat keputusan untuk penarikan pasukan dari Suriah selama percakapan telepon 14 Desember dengan Erdogan.

Pada hari Kamis, Menteri Pertahanan Turki Jenderal Hulusi Akar memperingatkan bahwa militan  Komunis Kurdi yang beroperasi di sebelah timur Sungai Eufrat akan "dikubur di parit" yang mereka gali.

"Sekarang kami memiliki Manbij dan sebelah timur Sungai Eufrat di depan kami. Kami bekerja secara intensif dalam masalah ini," katanya seperti dikutip oleh kantor berita Anadolu.

"Saat ini dikatakan bahwa beberapa parit, terowongan digali di Manbij dan di sebelah timur Efrat. Mereka dapat menggali terowongan atau parit jika mereka mau, mereka dapat pergi ke bawah tanah jika mereka mau, ketika waktu dan tempat datang, mereka akan dikubur di parit yang mereka gali. Tidak ada yang meragukan ini. " (st/ptv)


latestnews

View Full Version