

AMERIKA SERIKAT (voa-islam.com) - Kelompok jihadis Islamic State (IS) memiliki 'pasukan' berupa para pejuang yang ditahan di fasilitas penahanan di Irak dan Suriah, menurut militer AS.
Ribuan pejuang Islami State, juga dikenal sebagai IS atau ISIS dapat bergabung kembali dengan kelompok jihadis tersebut jika mereka dapat melarikan diri, menurut pernyataan dari CENTCOM, komando militer AS yang bertanggung jawab untuk Timur Tengah serta Asia Tengah dan Selatan.
"Ada 'tentara ISIS' dalam tahanan di Irak dan Suriah," kata komandan CENTCOM, Jenderal Michael "Erik" Kurilla seperti dikutip dalam pernyataan tersebut.
“Saat ini ada lebih dari 10.000 pemimpin dan pejuang ISIS di fasilitas penahanan di seluruh Suriah dan lebih dari 20.000 pemimpin dan pejuang ISIS di fasilitas penahanan di Irak,” kata Kurilla.
“Pembobolan penjara ISIS Januari 2022 di Al-Hasakah, Suriah adalah pengingat akan risiko yang ditimbulkan oleh penjara-penjara ini.”
Pernyataan tersebut lebih lanjut mengatakan bahwa anak-anak yang dipenjara di kamp Al-Hol di Suriah adalah "target utama radikalisasi ISIS" dan merupakan "potensial generasi berikutnya dari ISIS".
Kelompok IslamicState memproklamasikan dirinya sebagai 'kekhalifahan' menyusul kebangkitan meteorik di Irak dan Suriah pada tahun 2014 yang membuatnya menaklukkan sebagian besar wilayah.
Itu akhirnya dikalahkan di Irak pada 2017 dan di Suriah dua tahun kemudian, tetapi sel-sel tidur kelompok jihadis itu masih melakukan serangan di kedua negara.
Amerika Serikat dan sekutunya membunuh hampir 700 tersangka anggota kelompok Islami State di Suriah dan Irak pada tahun 2022, dan menahan 374 lainnya di Irak dan Suriah, menurut CENTCOM.
“Misi untuk mengalahkan ISIS akan berlanjut pada tahun 2023 karena CENTCOM dan mitra Koalisinya tetap berkomitmen untuk mengalahkan kelompok teror tersebut untuk mempertahankan dan meningkatkan keamanan global, stabilitas, dan hak asasi manusia,” demikian pernyataan CENTCOM. (TNA)