

AMERIKA SERIKAT (voa-islam.com) - Klub sepak bola Amerika Serikat, Inter Miami mengutarakan simpati dan dukungan mereka terhadap para korban yang terdampak perang di Israel.
Dalam sebuah pernyataan resmi pada Selasa (10/10/2023), Inter Miami dengan tegas mengutuk serangan Badai Al-Aqsa yang dilancarkan oleh kelompok perlawanan Hamas.
Bersamaan dengan itu, Inter Miami juga mengaku ikut merasakan kesedihan atas tewasnya ratusan warga Israel dalam serangan Sabtu lalu (7/10/2023).
"Kami sangat sedih dengan hilangnya nyawa-nyawa tak bersalah di Israel. Kami mengutuk serangan-serangan tak masuk akal dari teroris dan berdoa untuk semua korban dan orang-orang terkasihnya," bunyi pernyataan tersebut yang diunggah di platform X.
Klub sepak bola yang menggandeng Lionel Messi sebagai pemain utamanya itu berharap konflik dapat segera terselesaikan secara damai.
"Semoga kasih dan perdamaian mengalahkan kebencian dan kekerasan," pungkasnya.
Perang kembali berkecamuk di wilayah Israel dan Palestina.
Hamas melancarkan Operasi Badai Al-Aqsa pada hari Sabtu dan mengatakan serangan mendadak itu sebagai respons terhadap penyerbuan Masjid Al-Aqsa dan meningkatnya kekerasan pemukim ilegal Yahudi. Dikatakan bahwa mereka menembakkan roket dan menangkap banyak warga Israel.
Lusinan pejuang bersenjata menyusup ke perbatasan Israel dan berhasil merebut lokasi-lokasi penting termasuk pangkalan militer sambil membunuh sedikitnya 900 warga Israel dan melukai ribuan lainnya. Setidaknya 150 warga Israel baik anggota militer maupun sipil ditangkap dan dibawa ke Gaza untuk pertukaran tahanan di masa depan.
Israel melancarkan kampanye pengeboman brutal sebagai tanggapannya. Mereka mengklaim telah menargetkan ribuan situs militer milik Hamas, kelompok Islam yang berkuasa di Gaza – namun Kementerian Kesehatan Gaza telah membantah klaim Israel, dengan mengatakan bahwa 95 persen dari korban adalah warga sipil.
​Gaza berada di bawah blokade Israel sejak tahun 2007 yang sangat membatasi kebebasan bergerak dan akses terhadap perawatan medis bagi dua juta penduduk wilayah tersebut. Kelompok hak asasi manusia menyebut Gaza sebagai 'penjara terbuka'. (DBS)