View Full Version
Ahad, 21 Mar 2010

Media Pelecehan Perempuan itu Bernama Iklan

Era keterbukaan media semakin gencar. Begitu juga dengan gerakan liberalisasi perempuan atas nama emansipasi. Kedua hal ini saling memanfaatkan dan dimanfaatkan. Iklan terasa garing tanpa perempuan, dan perempuan pun terseret arus materialisme sehingga sukarela saja menjadi model bintang iklan.

Coba saja kamu amati mulai iklan permen sampai ubin, mobil sampai cat tembok, semua menampilkan sosok perempuan berpakaian minim dan berpenampilan seksi. Secara akal sehat, apa hubungan iklan keramik dengan punggung telanjang seorang perempuan? Sama-sama muluskah? Atau sama-sama bisa diinjak-injak dan dibeli dengan gepokan rupiah?

Iklan rokok juga begitu. Selalu ada perempuan ditampilkan seolah-olah pria perokok adalah idaman wanita. Padahal kalo mau jujur dan berfikir dengan jernih, cewek yang suka cowok perokok pastilah bukan cewek cerdas. Ia tak tahu bahwa efek negatif merokok jauh lebih besar daripada manfaatnya. Trus, apa juga peranan cewek di iklan ini yang jelas-jelas hanya sebagai daya tarik seksual untuk meningkatkan penjualan? Masa iya sih cuma segitu saja cewek mau dihargai harga dirinya?

...iklan-iklan cewek dengan penampilan seronok, mendesah-desah kayak orang lagi kepedasan. Tragis nian bila cewek merasa bangga dan puas bila dirinya diperalat untuk mengais untung oleh perusahaan-perusahaan kapitalis...

Belum lagi iklan-iklan lain yang berisi cewek dengan penampilan seronok, mendesah-desah kayak orang lagi kepedasan dan kerlingan mata kayak orang lagi kelilipan. Tragis nian bila cewek merasa bangga dan puas bila dirinya diperalat untuk mengais untung oleh perusahaan-perusahaan kapitalis. Padahal sungguh, perempuan itu harganya mahal andai saja dia mampu menghargai dirinya sendiri. Bila dirinya sendiri saja tak mampu menghargai mahal, bagaimana mungkin mengharapkan orang lain mau menghargai dirinya?

Perempuan itu indah, memang sudah kodrat. Keindahan inilah yang sering dimanfaatkan dengan tidak bertanggung jawab oleh pihak-pihak yang suka melecehkan perempuan. Oleh karena itu, perempuan harus cerdas agar tak mudah diperdaya. Cerdas disini bukan hanya secara otak saja, tapi juga harus secara pribadi dan iman. Bila otak saja yang diunggulkan kecerdasannya tanpa unsur pribadi dan iman, jadinya banyak cewek yang terjerembab dalam eskploitasi fisik. Contoh semacam ini banyak ditemui di kontes putri-putrian dan ‘miss-miss’-an.

Cerdas otak saja tak cukup membekali perempuan untuk bisa menghargai dirinya sendiri. Selalu saja salah persepsi yang ia kemukakan seolah-olah eksploitasi cewek dalam iklan atau ajang kecantikan itu malah memuliakan perempuan. Apa iya acara kontes kecantikan dan model iklan akan banyak peminatnya bila saja imbalannya bukan uang dan mobil mewah? Coba saja sekali-kali iklan-iklan itu membayar model-modelnya dengan satu pasang mukena baru, misalnya. Trus, munculnya juga gak boleh pamer aurat. Cukup ujung jari tangannya saja yang dishooting, selebihnya adalah gambar pemandangan. Ditanggung cewek-cewek itu malas banget ikut casting iklan.

Peran cewek atau perempuan tidak berdiri sendiri dalam ajang pelecehan ini. Ada sebuah system yang memang menumbuhsuburkan pelecehan ini. Sebuah system yang sok mengatur manusia dengan hukum ciptaan manusia. System yang sok menandingi hukum ciptaan Yang Mahamencipta. So, hasilnya malah kacau balau.

...Jadilah perempuan cerdas dengan menolak eksploitasi apa pun bentuknya...

Hanya ada satu system yang benar-benar memuliakan perempuan dan menghargainya dengan harga yang sangat mahal. Sistem ini memberi imbalan kenikmatan abadi surga seluas langit dan bumi. Kuncinya Cuma satu yaitu nurut sama aturan yang menciptakan manusia dan memberinya aturan yang sempurna. Dijamin bakal mulia dunia akhirat dan kaya selama-lamanya, insya Allah. Aturan ini ada pada syariah Islam saja. So, aturan yang lain? Ke laut aje kali yee…

Jadilah perempuan cerdas dengan menolak eksploitasi apa pun bentuknya. Oke? Pasti donk! Seeeppp deh ^_^ [riafariana/voa-islam.com]


latestnews

View Full Version