View Full Version
Jum'at, 14 Jun 2013

Karakteristik Musuh Allah dari Kalangan Munafiqin

Oleh : Abdurrohim Ba’asyir

Sudah menjadi sunnatullah bahwa setiap kebenaran pasti memiliki musuh yang akan berusaha untuk menghalanginya. Begitu juga dengan kebenaran Islam yang akan dimusuhi oleh syaitan dan pengikutnya.

Melihat hal demikian maka sudah menjadi keharusan bagi kita untuk mengetahui siapa saja yang sebenarnya menjadi musuh-musuh Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan mengenali sifat-sifat mereka. Hal demikian supaya dapat kita antisipasi dan segera mengambil langkah-langkah dalam mengatasinya.

Di antara musuh-musuh Allah atau pengikut syaitan (Hizbu syaithon) yang gencar memusuhi Islam ialah golongan munafikin. Golongan ini adalah mereka yang berpura pura menjadi mukmin dan menyembunyikan kekufurannya. Mereka benci dan memusuhi terhadap kebenaran yang datang dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala serta berusaha untuk menghancurkan dan menghalangi penyebaran cahaya Islam.

Zaman ini di mana orang-orang munafik memiliki duri-duri yang begitu tajam. Kenyataan ini sebagaimana dikatakan Hudzaifah Radhiyallahu 'Anhu, beliau berkata: “Orang-orang munafik pada hari ini lebih berbahaya bagi kaum muslimin daripada di masa Nabi saw.” Dikatakan: “Kenapa demikian ?” Beliau berkata: “Mereka dahulu pada masa Rasulullah saw menyembunyikan (kemunafikannya) sedangkan sekarang mereka menampakkannya.” (Bagaimanakah seandainya Hudzaifah menyaksikan kondisi kita sekarang ini ??? pen.)

Di masa sekarang ini segala urusan dikendalikan oleh mereka (orang-orang munafik). Sehingga kita menyaksikan bahwa mereka berpakaian sebagaimana orang-orang yang mengadakan perbaikan. Mereka layaknya seorang ulama atau penasihat yang penuh belas kasihan, bahkan mereka memakai pakaian seperti halnya seorang ahli ibadah atau orang shalih. Telah dipersiapkan bagi mereka mimbar-mimbar dan markas-markas ilmu agar berbicara tentang Islam. Telah dipersiapkan lembaran-lembaran kitab dan majalah untuk mereka tulis dengan mengatasnamakan Islam. Namun, kenyataannya mereka sangatlah jauh dari Islam, bahkan bertentangan dengan ajaran Islam.

Di dalam Al-Qur'an, Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah membuka kedok kepura-puraan mereka hingga sangat jelas bagi kita yang ingin mengetahui dan mengenali karakteristik musuh yang satu ini.

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آَمِنُوا كَمَا آَمَنَ النَّاسُ قَالُوا أَنُؤْمِنُ كَمَا آَمَنَ السُّفَهَاءُ أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ وَلَكِنْ لَا يَعْلَمُونَ

“Apabila dikatakan kepada mereka, "Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman." Mereka menjawab, "Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?" Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak tahu.” (QS. Al Baqarah 2 : 13).

Di dalam ayat ini Allah Subhanahu Wa Ta'ala menjelaskan bahwa orang-orang munafik menganggap orang-orang beriman yang istiqamah dengan syariat Allah Subhanahu Wa Ta'ala sebagai orang-orang yang bodoh tidak tahu perkembangan zaman bahkan menganggap ketingalan zaman dan lain sebagainya. Namun, kalau kita lihat kehidupan mereka sangatlah jauh dari aturan-aturan Allah swt. Anggapan ini juga mereka serukan melalui berbagai media dan corong yang menyebarkan suara ‘miring’ atas kaum mukminin dengan harapan agar manusia terpengaruh dan menjauhi orang orang beriman yang taat terhadap syariat Allah Subhanahu Wa Ta'ala/. Allah berfirman, “…sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yag indah-indah untuk menipu (manusia).” (QS. Al An’am 6 : 112)

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آَمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? Mereka hendak berhukum kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. Apabila dikatakan kepada mereka, "Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul", niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.” (QS. An Nisa’ 4 : 60-61)

Di dalam ayat ini Allah Subhanahu Wa Ta'ala memberi tahu tentang ciri-ciri orang munafik adalah apabila mereka memutuskan suatu hukum, mereka meninggalkan hukum Allah bahkan tidak mau berhukum dengan hukum Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Walaupun mereka tahu bahwa mereka dilarang untuk meninggalkan hukum Allah. Mereka lebih senang untuk berhukum kepada thaghut (yaitu penguasa-penguasa yang berhukum dengan hukum buatan manusia). Kemudian mereka selalu menghalagi usaha apapun untuk penerapan dan pelaksanaan syariat Allah di muka bumi. Mereka menghalangi sekuat tenaga supaya manusia tidak kembali kepada syariat Allah. Jalan apapun akan mereka tempuh demi tercapainya tujuan, termasuk menyakiti para pejuang syariat, memenjarakan mereka atau mungkin hanya sekadar membuat fitnah keji yang mereka sebarkan supaya manusia jauh dan terhalang dari kesadaran melaksanakan dan menerapkan syariat Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ نَسُوا اللَّهَ فَنَسِيَهُمْ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh berbuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma'ruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik.” (QS. At Taubah 9 : 67).

Di dalam ayat ini sangat jelas, bahwa orang-orang munafik menyuruh dan mengusahakan supaya kemungkaran bisa tegak, dan sebaliknya menghalang-halangi usaha apapun yang dilakukan untuk menegakkan yang ma’ruf. Kita lihat bahwa setiap kemungkaran pasti didukung dan dibela mereka, walaupun sangat jelas keburukannya. Mereka selalu menghalangi usaha yang bertujuan membina umat dalam memperbaiki akhlak dan akidah.

بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا

Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.” (QS. An Nisa’ 4 : 138-139)

Dalam ayat ini Allah Subhanahu Wa Ta'ala memberitahukan ciri yang lain yaitu sikap wala yang di berikan kepada orang kafir. Wala berarti loyalitas, keberpihakan, kebanggaan bahkan kecintaan. Sesuatu hal apapun yang merugikan orang kafir, maka mereka juga merasa ikut dirugikan. Hal ini dikarenakan sikap loyalitas mereka yang tinggi terhadap orang-orang kafir. Wala dapat juga berarti mengambil menjadi panutan dan pemimpin. Orang-orang munafik sangat tidak senang jika dipimpin oleh seorang mukmin yang taat terhadap syariat Allah, mereka lebih berharap untuk menang dalam perjuangan membela kekafirannya.

Demikian beberapa karakter dan ciri golongan munafikin yang menjadi musuh dalam selimut bagi Islam dan cahaya keberanaran Allah swt. Hendaknya kita selalu mewaspadai golongan ini dan kita mempunyai sikap yang tegas memusuhi mereka sebagaimana Allah swt memusuhi mereka. Secara umum dapat kita simpulkan, siapapun manusia yang mengaku beriman kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala tetapi menolak syariat Allah dalam berbagai aspek kehidupan maka dia dikategorikan sebagai orang munafik dan menjadi salah satu kelompok musuh Allah  dan rasul-Nya serta orang-orang yang beriman.

Semoga kita tidak termasuk golongan ini dan di jauhkan dari sifat kemunafikan. Wallahu a’lam. [PurWD/voa-islam.com]


latestnews

View Full Version