View Full Version
Jum'at, 22 Jan 2016

Perlu Kewaspadaan Terhadap Permainan Asing di Freeport

Oleh: Mujalal

Sahabat VOA-Islam...

Asumsi saya, bangsa Barat, yang notabenenya mayoritas kaum kuffar, mereka (kaum kuffar) tidak berpikir tentang akhirat, tidak ada dibenak mereka bahwa berbuat jahat itu akan berdosa dan akan dibalas neraka kelak diakhirat. Yang ada dibenak mereka bagaimana memperoleh keuntungan dunia sebanyak-banyaknya, menikmati dunia seindah-indahnya tak peduli merugikan atau menjajah negeri lain.

Karena itulah, patut kita waspada bahwa sangat mungkin terjadi kejahatan terhadap negri kita Indonesia ini karena pihak asing ingin memperoleh sumberdaya alam sebesar-besarnya dari negri kita. Mereka (pemimpin kafir) akan melakukan kejahatan secara sistematis dengan menumpang kereta “war on terorisme”. 

Ketika sumberdaya alam diprediksi akan mampu menghasilkan harta yang melimpah, maka pemimpin kafir asing akan mengatur strategi tanpa mempedulikan apakah itu disebut menjajah atau dengan sebutan lain, yang penting mereka dapat mendapatkan apa yang diinginkan.

Salah satu yang sedang kita perhatikan saat ini adalah Freeport di Papua yang telah mengelola Gunung Emas. Singkat kata, jika Indonesia terlihat akan mempersulit perpanjangan kontraknya dan bahkan akan menasionalisasi perusahaan tambang itu, maka bisa jadi mereka pemimpin kafir asing akan membela perusahaan itu dengan cara-cara yang destruktif.

Berdasarkan pengamatan saya dari berbagai informasi, sangat perlu diwaspadai bahwa bisa saja para pembela kepentingan kaum kafir Barat akan melakukan kekacauan di wilayah tambang itu dengan meminjam tangan dari orang-orang awam papua atau tempat lain yang akan di “didik” menjadi pelaku kejahatan teror di dalam dan di luar area tambang yang dikuasai itu.

Kalau sudah terjadi kekacauan, ledakan, pembunuhan ataupun kerusakan berat lainya, tahap selanjutnya akan diopinikan dengan bantuan media massa pembela penjajah bahwa Freeport dan area pertambangan di situ dalam keadaan darurat, maka perlu pengamanan ekstra. Maka akan didatangkan militer asing dari negara asal perusahaan penguasa tambang dengan dalih menjaga aset vital negara, dengan alasan Indonesia tidak mampu menjaga keamanannya.

Jika sudah demikian keadaannya, maka itulah negara telah dalam keadaan dikuasai oleh negara lain alias dijajah. Dan jika sudah tingkat demikian pun, Indonesia tetap tidak mau memperpanjang kontrak, maka bisa jadi militer akan diperbanyak, dan kekacauan akan semakin tak terkendali.

Saya makin khawatir jika terjadi seperti itu maka militer Indonesia akan berhadapan dengan militer asing, dan itulah sudah masuk ke ranah perang, sekalipun tanpa pernyataan dari Presiden.

Harapan saya, pemerintah harus secara tegas dan sigap dalam mengantisipasi segala kemungkinan yang bisa saja terjadi sedini mungkin dan tidak menolerir sekecil apapun indikasi adanya gerakan-garakan yang mengarah pada pengacauan sistematis seperti yang saya maksud di atas. Lebih dari itu pemerintah, TNI, POLRI harus bersikap analitis, bukan hanya bertindak setelah kejadian tetapi menganalisa secara kritis demi martabat negeri berdaulat.

Langkah-langkah yang patut ditempuh, menurut saya adalah mulai saat ini, harus dimulai mengurangi jumlah militer asing masuk ke Indonesia, mengurangi diplomat asing masuk ke wilayah Indonesia, membatasi warga asing dengan memperketat visa  atau dengan cara lain. Kunjungan pihak asing harus ditinjau secara proporsional, keberadaan pejabat asing dari sisi jumlah harus pula proporsional, tidak berlebihan. Kita harus ingat, mereka mayoritas kafir, tak beragama, tak tau dosa, tak tau pahala, tak berpikir surga tak peduli neraka. Yang mereka pikir hanya dunia. Sifat itu yang bertolak belakang dengan kita bangsa Indonesia yang mayoritas muslim, selalu berfikir akhirat. Kita, kaum muslimin harus tegas kepada kaum kufar.

Pemerintah harus menghitung jumlah diplomat di masing-masing perwakilan negara asing yang ada di Indonesia, mengetahui dengan detail apa fungsi masing-masing dengan jelas, dan kita harus menyusun rumus perhitungan sendiri, bukan berdasarkan rumus perhitungan mereka. Ini demi kedaulatan negeri kita Indonesia. Harus tegas kepada orang asing, bukan sebaliknya, tegas terhadap rakyat sendiri tapi menyambut riang para serigala berbulu domba.

Waspada, karena kita negeri berdaulat, bukan negri persemakmuran, bukan negeri koloni, bukan pula bangsa jongos para penjajah asing pengeruk sumberdaya alam kita.Wallahu a’lam. [syahid/voa-islam.com]


latestnews

View Full Version