View Full Version
Jum'at, 23 Mar 2018

Kota Santri Kini

Oleh: Chusnatul Jannah (Guru di Kota Pasuruan)

“Suasana di kota santri, asik senangkan hati. Tiap pagi dan sore hari, muda mudi berbusana rapi, menyandang kitab suci, mengkaji ilmu agama, menggapai cita-cita.”

Itulah sepenggal lagu lawas tentang gambaran kota santri. Lain dulu lain kini. Kota santri berubah seiring waktu terkini. Muda mudi beralih diri menjadi pribadi yang jauh dari nilai islami.

Komunitas pecinta sejenis mulai melebarkan diri. Eljibiti yang sudah menjangkiti merusak diri muda mudi. Kesana kemari umbar kemesraan tanpa malu diri. Pacaran menjadi budaya yang sudah tak asing lagi. Katanya pacarannya islami, tak ada sentuhan tangan, ataupun berduaan seperti pacaran versi ngeri.

Gaya hidup pun tak ketinggalan mengikuti zaman yang semakin mengalami modernisasi. Atas nama modernisasi dan globalisasi, mereka bikin komunitas yang bisa eksiskan diri. Salah satunya punk community. Maraknya komunitas pemuda yang mereka menyebut diri sebagai pemuda masa kini semakin membuat kita miris hati.

Belum lagi narkoba yang menggeluti pelajar kota santri. Semakin menambah daftar panjang betapa rendahnya kualitas diri anak muda kini. Katanya kota santri ini kota seribu begal. Banyak sudut-sudut kota yang sepi dari pemukiman menjadi incaran para pembegal untuk melakukan aksinya secara brutal. Dengan alasan ekonomi, mereka membenarkan perilakunya sebagai sebuah keterpaksaan karena tak mampu bertahan atas sulitnya mencari rezeki halal. Kasus perzinahan, pembunuhan bahkan pencurian pun cukup memilukan. Mengapa jadi begini?

Berbicara keadilan dan  kebijakan, ketika kita melewati jalan-jalan provinsi, banyak terdapat lubang dan gelombang aspal yang tak beraturan. Sedih benar, jalan umum rusak akibat kerakusan penguasa yang getol membangun infrastruktur besar. Rusaknya ruas jalan akibat dari kendaraan besar seperti truk yang mengangkut material berat dari proyek tol gempol-pasuruan (jawapos.com). Namun, kenyamanan rakyat menikmati jalan tak diperhitungkan. Mereka bilang, semua ini untuk menjamin kesejahteraan rakyat. Benarkah?

Kata mereka, jangan andalkan pemerintah saja, berusahalah untuk mandiri secara ekonomi. Namun, yang mengherankan, negeri ini tak kunjung berdikari, justru mengundang para investor asing untuk membangun fasilitas infrastruktur untuk dijual kembali. Sebut saja salah satu proyek tol waskita, yaitu tol pasuruan – probolinggo sepanjang 31 km itu, dibangun untuk dijual lagi tak ubahnya tukang mebel kayu yang membuat lemari untuk dijual kembali. Apakah ini naluri penguasa negeri?

Penguasa negeri harusnya mengayomi bukan mengacuhkan diri. Penguasa negeri harusnya berdedikasi untuk rakyat sendiri bukan untuk kapitalis asing. Penguasa negeri harusnya melakukan tugasnya sebagai amanah bukan sekedar obrol janji. Penguasa negeri harusnya mudah dinasehati bukan susah dinasehati. Menjadi penguasa negeri adalah amanah dari Sang Ilahi, jangan pernah mengkhianati sumpah sendiri. Semua itu tak akan ada arti jika mereka tak sadar diri.

Wahai petinggi negeri, janganlah menambah susahnya kami dengan kebijakan kalian yang mendzolimi. Kami hanya rakyat yang ingin hidup sejahtera ekonomi, rasa aman didapati, dan tidak dibohongi lagi dengan janji-janji manis semasa pencalonan diri.

Wahai petinggi negeri, selamatkan generasi kami. LGBT harus dibasmi. Virus ini semakin membuat kami selalu mawas diri, khawatir salah satu dari anak kami terjangkiti.

Wahai petinggi negeri, jangan manfaatkan suara kami untuk kampanye yang tak berarti. Karena kami butuh  bukti bukan janji.

Wahai Dzat yang menguasai negeri, jauhkan kami dari pemimpin yang korup, khianat, dan tak berakhlak. Jadikan negeri kami menjadi negeri yang patut diberkahi karena patuh pada aturan Ilahi. [syahid/voa-islam.com]

 


latestnews

View Full Version