View Full Version
Selasa, 27 Mar 2018

Pemimpin yang Dirindukan

Sahabat VOA-Islam...

Udara Kota Udang siang itu begitu panas. Terik matahari membuat mata silau menatap benda-benda yang berada diluar mobil.  Paksu menghentikan laju mobil tua kami sejenak,  karena sudah ada janji bertemu teman sebentar untuk membeli pointer yang sedari pagi sudah dipesan. 

Aku memilih duduk manis di dalam mobil,  ku sandarkan kepala di kursi yang sengaja ku buat lebih landai, sembari menikmati pemandangan bermacam aktifitas di luar.

Tiba-tiba mata ini menangkap aktifitas seorang bapak yang tengah bersusah payah membawa sampah dari dalam pasar menuju keluar dengan gerobak tuanya, entah tujuan kemana.  Gerobak yang penuh dengan sampah itu di dorong oleh anak lelaki kecil bertubuh kurus dan kumal, yang tersengal-sengal berjalan mengikuti laju gerobak yang bergerak cepat. 

Sedetik kemudian,  dari belakang berlarian pula seorang anak kecil perempuan tak kalah kumal, ikut menyusul mendorong laju gerobak. Anak laki-lakinya berusia lebih kecil dari anak sulungku yang berusia 9th. Yang perempuan pun sama,  lebih kecil dari anak perempuanku yang berusia 5th. Tangan-tangan kecil mereka terus mendorong gerobak sembari terlihat sesekali mengobrol.

Sejenak aku terpaku dengan pemandangan realita hidup yang kini kusaksikan di depan mata. Ingin rasanya memberi uang kecil pada 2 bocah ini  tapi khawatir jadi salah faham.  Karena mereka memang bukan peminta-minta.  Lagipun apa yang bisa aku berikan untuk mereka? Jika ada uang 100 atau 200ribu lantas kuberikan tentu bukan solusi bagi kehidupan mereka. Akh... Parau suara hati meradang tanya,  ini salah siapa??

Berita kesempitan hidup tersaji setiap hari dilayar kaca.  Bahkan ada acara khusus yang menyuguhkan kisah derita-derita orang pinggiran, pinggiran dari kemakmuran dan kesejahteraan. Beberapa kasus besar mewakilinya.

Kasus gizi buruk di Asmat,  Papua, yang merenggut banyak jiwa. Jika dinalar,  penyakit gizi buruk tentu tidak terjadi instant dalam hitungan hari. Dari kasus ini,  terlihat adanya problem terkait pengurusan gizi masyarakat disana.  Pun kisah duka petani garam dan petani padi jelang panen raya, saat kebijakan impor membuat jerih payah mereka jadi sia-sia.

Namun,  kontras dengan kisah-kisah diatas,  beberapa pekan ini media diramaikan dengan pemberitaan Hak Imunitas atas para petinggi dan penguasa dinegri ini. Sebagian ada yang masih berbentuk Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP)  namun ada juga yang sudah di sah kan berupa Undang-Undang tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD (UU MD3).

Dengan hak ini,  siapapun akan terkena sanksi jika menyampaikan aspirasi tidak dengan cara yang sopan, menyinggung perasaan para wakil rakyat termaksud yang menyebabkan adanya rasa terhina,  dalam bentuk apapun.

Sedangkan makna penghinaan itu sendiri sesuatu yang bersifat subjektif dan tak bisa di ukur dengan nilai yang pasti. Lantas bagaimana kita akan berhukum dengan sesuatu yang tak terukur?

Jauh sebelum masa ini,  bila berbicara ihwal mengkritisi penguasa,  maka akan kita temukan sederet kisah masyhur yang dapat menjadi tauladan

Kisah Khaulah,  seorang wanita tua,  yang mengkritik Umar bin khattab ra. Saat sang khalifah yang dikenal dengan ketegasannya itu tengah blusukan di kota Madinah. Dengan suara lantang dan keras,  khaulah berkata:

“Wahai Umar aku telah mengenalmu sejak namamu dahulu masih Umair (Umar kecil) tatkala engkau berada di pasar Ukazh, aku juga menjumpaimu mengembala kambing dengan tongkatmu, kemudian berlalulah hari demi hari sehingga engkau memiliki nama Amirul Mukminin. Wahai Umar bukan main megah sekali sekarang dirimu. Hendaklah kau bertakwa pada Allah dan ingat pada rakyat jelata, dan ketahuilah barangsiapa yang takut akan siksa Allah maka yang jauh akan menjadi dekat dengannya, dan barangsiapa yang takut mati maka dia akan takut kehilangan, dan barangsiapa yang yakin akan adanya hisab maka ia takut terhadap azab Allah.”

Mendengar kata-kata keras dari perempuan tua di pinggir jalan itu sang khalifah terdiam dan merunduk wajahnya. Matanya pun berkaca-kaca. Lain lagi dengan pengawal khalifah yang murka atas tingkah Khaulah karena di nilai telah tidak sopan pada Khalifah.  Maka serta merta dihardiknya sang nenek tua Khaulah,  namun justru Khalifah marah dengan tindakan sang ajudan,  dan meminta untuk bersabar sampai Khaulah menyelesaikan nasehat pedasnya tersebut.

Adapula kisah Khalifah Harun Ar Rasyid yang sering kali mencari-cari para ulama untuk dimintai masukan dan kritikannya. Sebagaimana beliau pernah meminta pada seorang ulama, Fuddail bin Iyyadh, untuk memberi nasehat terkait kepemimpinan yang telah beliau lakukan selama ini. Nasehat-nasehat bertuah tersebut membuat sang khalifah merasa tenang.

Dan masih sangat banyak kisah serupa yang kesemuanya menunjukkan keinginan para pemimpin untuk banyak mendengarkan keluh kesah, nasehat maupun kritik yang disampaikan seluruh rakyat yang dipimpinnya, tanpa memandang siapa dan cara menyampaikannya.

Sejatinya inilah kepemimpinan.  Pemimpin yang memimpin manusia dengan penuh kesadaran, bahwa jabatannya adalah amanah berat untuk dipertanggungjawabkan, bahwa jabatannya. merupakan kontrak kerja antara Sang Manusia terpilih dengan Tuhannya, jalan besar namun berliku untuk menuju syurga.

Namun kini,  kita berada pada zaman yang teramat jauh dari masa ketauladanan. Saat kekritisan justru salah disikapi, malah di kriminalisasi.

Entah menunjukkan apa?  Kegagalan memahami arti atau kepekaan yang sudah mati

Entah bagaimana rakyat jelata akan mengadu? Saat beban kehidupan teramat berat mereka rasakan,  atau sekedar ingin mengingatkan bila ada Penguasa yang salah jalan.

Semoga suatu saat ummat tersadarkan,  ihwal 2 hal yang saling berkaitan yakni Pemimpin dan Sistem Kepemimpinan. Pemimpin terbaik hanya lahir dari sistem terbaik.

Muhammad Rasulullah, Abu Bakar ra,  Umar bin khattab ra, Umar bin Abd. azis,  Muhammad Al Fatih,  dan sederet panjang sejarah peradaban Islam telah membuktikan. Itulah yang kita tunggu dan rindukan. [syahid/voa-islam.com]


latestnews

View Full Version