View Full Version
Rabu, 24 Oct 2018

Plin-plan Menentukan Harga Premium?

Oleh: Daaniyah Zahraa (Aktivis Dakwah)

Ketidakseriusan pemerintah dalam mengurussi rakyat tampak jelas lagi terlihat, plin plan dalam memutuskan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis premium.

Padahal, pemerintah melalui Kementerian ESDM rencananya akan menaikkan harga premium pada (10/10) pukul 18.00 WIB. Namun dibatalkan oleh Menteri ESDM Ignasius Jonan satu jam setelah konferensi pers kenaikan digelar.(detik.com. Kamis, 11 Oktober 2018)

Plin-plan sekali bukan?. Baru saja diputuskan untuk menaikkan harga sekitar 7%, namun satu jam setelahnya dibatalkan. Ternyata, pembatalan ini disebut sebagai pencitraan di hadapan umat, dimana penguasa masih berhasrat untuk melanggengkan kekuasaannya.

Umat kembali ditipu dengan alasan pembatalan pemerintah yang pro rakyat kecil. Harusnya pemerintah memikirkan dengan matang untuk memutuskan apapun, termasuk menentukan harga premium. Dan tentunya secara maksimal dalam mengurus dan melayani rakyat, karena begitulah seharusnya seorang pemimpin.

Lalu bagaimana seharusnya pemimpin yang baik dalam Islam? Bisa kita lihat pada diri Rasulullah sebagaimana firman Allah swt, “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (TQS Al-Ahzab: 21)

Maka dalam hal memimpin pun hendaknya melihat Rasulullah yang memiliki 4 karakter agar menjadi pemimpin yang baik.

Seperti karakter pertama, yakni Sidik. Sidik artinya benar. Untuk menjadi pemimpin yang baik haruslah terdapat kebenaran dalam dirinya, dari hatinya, ucapannya juga perbuatannya.

Jika sudah tertanam kebenaran dalam dirinya maka umat akan percaya bahwa yang dilakukan pemipin tersebut benar dalam bertindak, misalnya. Kebenaran tersebut menjadi penghubung dirinya pada Allah swt. Berbeda sekali dengan pemimpin sekarang yang kebanyakan hanya kata-katanya yang manis, namun ucapan dan perbuatannya berseberangan.

Yang kedua, amanah. Amanah artinya dapat dipercaya. Menjadi seorang pemimpin harus memiliki sikap dapat dipercaya, agar apa yang diucapkan dan dilakukan dipercaya akan dilaksanakan sebaik-baiknya.

Sebagaimana Rasulullah sebelum diangkat menjadi Rasul pun sudah mendapat julukan Al Amin, yang artinya dapat dipercaya. Setiap ucapan dan perbuatan Rasulullah selalu berisi tentang kebenaran dan kejujuran, tidak dilebih-lebihkan ataupun dikurangi.

Rakyat akan senantiasa melihat apakah seorang pemimpin tersebut dapat dipercaya untuk mengurusi umat atau tidak.

Ketiga, Fathonah. Fathonah artinya cerdas. Tentu saja! Seorang permipin harus cerdas. Kecerdasan seorang pemimpin dalam mengurusi rakyat sangat dibutuhkan, dalam hal menyelesaikan permasalahan untuk rakyatnya.

Kita bisa lihat kembali kecerdasan Rasulullah yang tak dapat dipungkiri. Rasulullah mampu menerima dan menyampaikan kembali firman Allah, Al Qur’an yang berjumlah 6.236 ayat serta melanjutkannya dengan ribuan hadits, Masya Allah.

Saat pemimpin tidak memiliki kecerdasan, maka apa yang akan terjadi pada rakyatnya? Bisa jadi semuanya terbengkalai, tidak bisa menyelesaikan sebuah permasalahan dalam skala kecil maupun besar. Ingat bahwa setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.

Dan terakhir adalah Tabligh. Tabligh artinya menyampaikan. Karakter yang keempat ini tidak kalah penting, seorang pemimpin harus menyampaikan apa yang benar ataupun salah kepada rakyatnya. Sekalipun itu menyinggung dirinya atau keluarga terdekatnya, jadi standar dalam menyampaikannya pun haruslah Islam.

Nah, keempat karakter di atas bisa menjadi sebuah gambaran seorang pemimpin yang baik dengan melihat pada diri Rasulullah. Agar seorang pemimpin dapat melaksanakan tugasnya dengan baik.

Hanya saja, semuanya memang takkan tercipta jika masih menggunakan sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Sehingga penguasa tidak menjadikan aturan Islam sebagai tolak ukur kebijakannya. Sehingga wajar jika melahirkan mental penguasa yang kering dari nilai Islam, bahkan mereka mengibiri ajaran Islam itu sendiri. Na'udzubillahi mindzalik.

Maka solusi satu-satunya hanya dengan menggunakan aturan Islam yang haq, yang menjadi rahmat bagi siapapun yang menerapkannya apalagi jika diterapkan dalam lingkup negara. Semuanya akan terjamin sebab berasal dari aturan pencipta manusia. [syahid/voa-islam.com]


latestnews

View Full Version