View Full Version
Jum'at, 23 Nov 2018

[Story Hamka-10] Jejak Hamka di Surau Batu

Oleh: Roni Tabroni*

Namanya Surau Batu. Letaknya persis di bibir danau Singkarak, danau terbesar di Sumatera Barat. Lokasinya di Padang Lawe Malalo, Kecamatan Batipuh Selatan yang kini berubah menjadi Kecamatan Batipuh Hilir.

Menurut tokoh masyarakat setempat, untuk menuju ke lokasi ini, Haji Rasul (ayah Hamka) jika akan memberikan ceramahnya harus menempuh perjalanan sekitar 22 KM. Di tahun 1920-1930an, jarak seperti ini tentu sangat jauh, mengingat tidak ada kendaraan, jalan terjal, dan harus melewati hutan.

Namun dengan tekun Haji Rasul melakukan dakwah ke tempat yang banyak tantangan ini. Selain rute yang sulit, Batipuh juga dikenal sebagai masyarakatnya masih tradisional. Disana banyak mistik dan kehidupan masyarakat yang tidak mudah menerima perubahan.

Selain itu, para jawara pun banyak di Batipuh. Satu di antara yang paling dikenal dan disegani warga adalah Ali Akbar. Bahkan sebagian lagi menyebut Ali Akbar sebagai pentolannya Jawara.

Namun ada yang cukup menarik dikala Haji Rasul datang ke Surau Batu. Warga yang tidak suka dengan hal-hal baru justru senang mendengar gaya berceramahnya Haji Rasul. Bagi ulama pembaharu ini, kondisi masyarakat yang mau mendengarkan ceramahnya saja sudah senang. Sebab dengan mau mendengarkan, lama kelamaan pesan-pesan pembaharuan itu akan diterimanya.

Nyata saja dalam waktu yang tidak terlalu lama, warga yang asalnya terpukau dengan retorika ceramahnya Haji Rasul kemudian menerima perubahan. Walaupun belum mengenal Muhammadiyah, namun warga sudah siap menjadi bagian dari keluarga besarnya.

Hingga suatu waktu dijanjikan akan ada pertemuan untuk mendirikan Muhammadiyah disana. Tetapi seperti biasa Haji Rasul tidak akan datang di momentum itu. Yang justru diutus untuk mendirikan Muhammadiyah adalah anaknya sendiri yang masih berusia 22 tahun yaitu Hamka.

Di hari yang telah dijanjikan, Hamka berangkat dari Padang Panjang ke Batipuh dengan naik kereta api. Sesampainya di stasiun, Hamka dijemput secara spesial oleh warga setempat dengan pengawalan ketat Ali Akbar. Dengan menaiki Bendi (kendaraan berkuda), Hamka langsung menuju Surau Batu.

Sesampainya dilokasi, waktu menunjukkan shalat ashar. Kemudian salah satu diantara jamaah langsung adzan ashar. Sebagaimana mafhum bersama tidak ada shalat sunat di antara adzan dan iqomah di waktu ashar.

Namun, menjelang iqomah itu, seorang Hamka merasakan ada yang janggal. Dirinya tahu di luar Surau ada seorang lelaki yang tidak ikut masuk ke Surau. Hamka kemudian menghampiri dan mengajaknya shalat berjamaah. Tetapi lelaki itu beralasan tidak akan shalat dulu karena celananya kotor. Dirinya akan menunggu saja di luar.

Rupanya, lelaki yang tidak mau berjamaah itu diketahui seorang mata-mata Belanda bernama Malin Marajo. Dia diutus untuk melihat dan mendengar apa yang akan dilakukan dan diceramahkan Hamka di tempat itu. Hamka dianggap berbahaya bagi penjajah.

Ketika Malin menolak shalat ashar berjamaah, Hamka tidak puas dengan jawabannya. Melihat gelagat yang kurang baik, Hamka pun curiga. Hamka tahu jika dirinya sedang diintai dan setiap perkataannya akan dilaporkan kepada pihak Belanda.

Dalam waktu yang sangat sempit Hamka mengambil keputusan sangat cepat. Dikumpulkan para jamaah, ditunjuklah orang-orang yang ada di Surau untuk menjadi pengurus Muhammadiyah. Dan Hamka menunjuk pentolan pendekar yaitu Ali Akbar sebagai ketuanya.

Setelah penunjukkan dilakukan, Hamka menyuruh salah seorang untuk iqomah. Ba’da shalat ashar tidak ada pembicaraan apapun. Hamka pun langsung pulang, meninggalkan kepengurusan Muhammadiyah baru di Batipuh.

Surau Batu kini sudah tidak ada. Tahun 1970an dirobohkan dan dibangun mesjid dan diberi nama Tamaddun. Kini berubah lagi, setelah direnovasi kembali mesjid itu kemudian bernama mesjid Taqwa.

Di sinilah terdapat salah satu kenangan manis tentang peran Hamka yang singkat tetapi sangat mengagumkan. Maka warga setempat kemudian menyebutnya peristiwa itu sebagai peristiwa “antara adzan dan iqomah”. Kini, kita dapat menyaksikan mesjid yang sudah berubah bentuk dan nama.

Halaman mesjid ini langsung menghadap ke danau Singkarak yang indah dan sejuk, seindah syair dan goresan sastra Hamka, sesejuk pesan-pesan dakwahnya Hamka. [syahid/voa-islam.com]

*) Penulis adalah Dosen Prodi Ilmu Komunikasi USB YPKP, UIN SGD Bandung dan Pengurus MPI PP Muhammadiyah


latestnews

View Full Version