View Full Version
Rabu, 08 May 2024

Ngawi sebagai Incaran Investasi Asing, antara Untung dan Rugi

 

Oleh: Sunarti

 

"Bulan jatuh dalam ribaan" yang artinya mendapat untung besar. Begitu harapan masyarakat bersama para pemangku kebijakan di negeri ini. Seperti halnya yang diinginkan oleh masyarakat dan pemangku kebijakan di Ngawi, sebuah kota kecil di Jawa Timur dengan apa-apa yang bisa mewujudkannya.

Salah satu yang diharapkan adalah adanya investasi pihak asing yang masuk ke wilayah Ngawi. Harapan besar untuk memperoleh kesejahteraan masyarakat juga ditaruh di sana, di dalam kesuksesan investasi para pemilik modal dengan pertimbangan memajukan Ngawi dari berbagai sektor.

Sebut saja investor taipan asal Hong Kong, yang telah berhasil memenangkan kontrak untuk mendirikan pabrik di Ngawi. Ini juga dianggap sebagai sebuah keuntungan bagi Ngawi terkait penyerapan tenaga kerja yang besar dan juga alasan memajukan sektor perekonomian di Ngawi.

Saat ini investor asal Jakarta telah melirik Ngawi sebagai peluang investasi mendirikan bioskop di Ngawi. Dalam laman Jawa Pos Radar Madiun disebutkan jika perusahaan bioskop asal Jakarta dikabarkan siap beraudiensi dengan Pemkab Ngawi terkait investasi tersebut.

Menurut Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMTSP) Ngawi, Totok Sudaryanto, Selasa (26/3), mereka para pengusaha sudah berkontak ingin kirim proposal terkait keinginannya audiensi. Menurut Totok ketertarikan pemodal di bidang hiburan ini menjadi modal awal pemkab dalam menarik investasi. Dan keuntungan dan potensi pasar Ngawi.

 

Latar Belakang Industrialisasi di Ngawi

Bukan hal aneh jika untung-rugi menjadi standar dalam sistem sekular-liberal saat ini. Pikiran dangkal berupa keuntungan yang ingin diraih dengan adanya pendirian industri di kota Ngawi sangat wajar. Karena sistem kapitalisme saat ini melahirkan penguasa yang berpikir materialistis dan minim visi-misi yang menuju kepengurusan rakyat serta kesejahteraannya.

Taruhlah contoh berdirinya bioskop di Ngawi. Kehadiran bioskop akan memicu maraknya pergaulan bebas. Generasi muda yang saat ini sudah rusak akan semakin bertambah terlena kehidupannya dan tak lagi mau berpikir tentang masalah masa depan diri dan negaranya.

Seperti diketahui, kawasan industri di Ngawi masuk dalam prioritas pembangunan nasional sesuai Peraturan Presiden Nomor 80 Tahun 2019 tentang Percepatan Pembangunan Ekonomi, di kawasan Gresik-Bangkalan-Mojokerto-Surabaya-Sidoarjo-Lamongan, kawasan Bromo-Tengger Semeru, serta kawasan selingkar Wilis dan lintas selatan Jatim (Solopos Jatim).

Dengan keberadaan kawasan industri tersebut, nantinya diharapkan mampu mendongkrak potensi wilayah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di masing-masing kabupaten.

Pemkab Ngawi pun terus melakukan berbagai upaya untuk mewujudkan kawasan industri tersebut. Seperti terkait pemenuhan infrastruktur pendukung, mulai dari pelebaran jalan guna mengakses jalan tol yang telah tersedia, penyediaan SPAM, penyediaan listrik, pembebasan lahan, dan penyediaan air baku.

Melalui proyek strategis nasional tersebut, Presiden Joko Widodo ingin Kabupaten Ngawi memiliki kawasan tematik bidang ketahanan pangan. Seperti industri pengolahan pangan pascapanen dan hilirisasi bahan mentah ke siap jual dan distribusi. Hal itu menyusul keberadaan Kabupaten Ngawi selama ini sebagai lumbung padi nasional.

Namun faktanya perencanaan ini berlawanan dengan proyek industrialisasi yang merambah Ngawi yang beberapa bulan terakhir telah dimulai. Bagaimana mungkin menjadi lumbung padi, sementara lahan pertanian yang terus berkurang dengan adanya gedung-gedung industri (pabrik-pabrik) maupun industri hiburan.

Bahkan bagi warga setempat, dua puluh tahun atau sepuluh tahun ke depan masyarakat bisa menjadi rakyat yang hanya menumpang di negeri sendiri. Akibat tanah dan industri sudah pindah kepemilikannya ke tangan investor asing. Kondisi yang sangat miris yang akan dialami tidak hanya penduduk Ngawi, tapi juga oleh penduduk negeri yang gemah ripah loh jinawi ini. Kaum imperialis yang terus disebut kehadirannya dengan karpet merah oleh penguasa yang mementingkan diri sendiri dan kelompoknya serta lalai akan nasib rakyatnya.

 

Bagaimana Islam Mengatur Sistem Perindustrian

Dalam negara yang menerapkan aturan Allah, keuntungan dan kerugian secara materi bukan sebagai pertimbangan utama dalam pendirian industri, terlebih hanya industri hiburan. Negara yang menerapkan sistem Islam akan mengutamakan kepentingan rakyat banyak dalam proyek industrialisasi. Terutama industri berat, bahan baku maupun bahan siap pakai. Untuk industri hiburan bukanlah proyek negara yang terkait kebutuhan dasar.

Negara akan mendirikan pabrik alat berat maupun industri lain di daerah-daerah yang bukan lahan pertanian yang subur. Lahan milik rakyat, yang merupakan kepemilikan individu, tidak akan digunakan untuk industri. Karena pangan termasuk kebutuhan dasar manusia yang harus dijaga keberlangsungannya oleh negara.

Negara akan mempertimbangkan berbagai resiko rusaknya lingkungan terkait dengan industri. Demikian pula dengan kebutuhan dasar masyarakat. Untuk urusan pangan adalah sektor pertanian maupun perkebunan. Maka negara tidak dengan mudah akan mengalihfungsikan lahan pertanian sebagai area industri.

Selain sebagai lapangan pekerjaan bagi petani maupun buruh tani, lahan pertanian merupakan hak rakyat atau kepemilikan individu yang harus dilindungi oleh negara. Negara tidak serta-merta mengambil atau membeli lahan pertanian tersebut. Apalagi menjualnya kepada asing.

Memang alam kapitalisme telah merusak eksistensi negara sebagai pelindung masyarakat dan merusak pula para penghuninya. Menjadikan orientasi industri sebatas keuntungan materi untuk segelintir atau beberapa gelintir manusia sahaja.

Sebenarnya tidak cukup sampai pada keuntungan para pengusaha bidang hiburan, akan tetapi lebih jauh lagi, mereka sedang mengincar masyarakat, terutama generasi muda. Tujuan utama dari industri hiburan tidak lain dan tidak bukan adalah merubah peradaban kawula muda dengan adab Barat/kafir yaitu kebebasan. Fakta yang juga telah membuktikan generasi muda saat ini banyak yang menyibukkan dirinya dalam kegiatan hiburan semata. Seperti pergi ke konser, nonton drama, berlomba mendapatkan outfit terkini dan lain sebagainya. Dan hampir seluruhnya didominasi oleh budaya Korea Selatan. Mulai dari film-film, K-Pop, K-Drama hingga fashion dan makeup. Bisa dibayangkan jika ini pun masuk ke kota-kota kecil seperti Ngawi.

Karena telah nyata kerusakan yang terjadi di negeri ini berasal dari sistem sekular-liberal atau sistem kapitalisme, maka yang dibutuhkan juga perubahan secara mendasar, yaitu perubahan secara sistemik. Selama periode kurang lebih satu abad, belum ada sistem yang membuktikan kebaikan, kesejahteraan dan ketentraman.

Masyarakat hendaknya melek mata dan melek politik akan kejadian-kejadian atau persoalan-persoalan kehidupan yang terjadi saat ini bukan akibat individu yang tidak menjalankan aturan yang ada. Akan tetapi lebih kepada sistem yang diterapkan adalah sistem yang bisa ditarik ulur sesuai kepentingan manusia. Sehingga di manapun berada kemaksiatan dan keburukan pasti terjadi, entah di negeri mayoritas muslim maupun di negeri-negeri pengusung ide sekularisme.

Aturan Islam sebenarnya sangatlah komplit. Mulai dari urusan agama, pemerintahan, ekonomi, pergaulan dan lain sebagainya, semua diatur dalam Islam.

Dalam kepemilikan tanah, pendirian industri dan juga urusan muamalah, secara lengkap Islam mengaturnya. Manusia tinggal menerima dan menerapkannya dalam sebuah sistem yang diterapkan negara.

Dalam industri hiburan khususnya, Islam tidaklah memprioritaskan pembangunannya. Apalagi hanya hiburan film-film unfaedah. Negara akan membatasi pemutaran film-film yang beredar di masyarakat. Pun, negara akan lebih mengutamakan periayahan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat dengan menjaga kestabilan ekonomi berdasarkan sistem ekonomi Islam.

Ketika ada para pengusaha, tentunya pengusaha dalam negeri yang usahanya juga dibutuhkan masyarakat. Seperti industri pakaian, teknologi (komputer, HP, dll.), dan yang lainnya.

Khususnya industri alat berat akan dikuasai oleh negara demi keamanan dan ketertiban masyarakat. Tidak akan dibiarkan swasta apalagi Asing untuk menguasai industri alat berat.

Inilah fakta propaganda asing yang sesungguhnya. Tidak sekedar meraup keuntungan yang sebesar-besarnya secara materi akan tetapi juga pengerusakan generasi. Sistem sekular-liberal telah membawa masyarakat ke arah kehidupan bebas.

Umat dunia butuh solusi mendasar dengan sistem yang sempurna yaitu sistem Islam. Agar kesejahteraan secara hakiki atau rahmatan lil alamin bisa diraih. Waallahu alam bisawab. (rf/voa-islam.com)

Ilustrasi: Google


latestnews

View Full Version