View Full Version
Sabtu, 24 Sep 2022

Akmal Sjafril: Sains Tak Mampu Mengudeta Tuhan

BANDUNG (voa-islam.com) - “Masih banyak hal yang belum dapat dijawab oleh sains. Pengetahuan manusia di permukaan bumi saja masih sangat terbatas, apalagi yang ada di bawah permukaan bumi dan di alam semesta—masih sangat jauh untuk sains dapat menggantikan posisi Tuhan.”

Begitulah pemantik yang disampaikan pemateri Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Bandung, Akmal Sjafril pada Kamis (22/09) di Masjid Istiqomah.

Akmal yang merupakan kandidat doktor ilmu sejarah itu menjelaskan bahwa sains tidak mampu menggantikan konsep Tuhan dalam agama.

Perkuliahan SPI minggu ke-4 ini membahas tema TauhidullahTauhidullah membahas konsep Tuhan dalam agama Islam. Al-Qur’an memberikan penjelasan terkait konsep Tuhan untuk dapat diimani dan dipahami oleh akal manusia.

Akmal juga menjelaskan agama Islam dapat secara lugas menjelaskan konsep keesaan Tuhan.

Selain dari sudut pandang Islam, perkuliahan ini juga menjelaskan sejarah munculnya konsep Tuhan pada beberapa peradaban dan munculnya pemikiran anti-Tuhan dari pemikiran filsafat.

Akmal berpesan untuk dapat mempelajari hal tersebut, kita perlu mempelajari sejarahnya agar dapat memahami bagaimana konteks pemikiran tersebut lahir.

Perkuliahan ini membahas sejarah konsep Tuhan mulai dari sejarah Yunani Kuno dengan Tuhan Zeus. Lalu berbicara juga mengenai pemikiran filsuf yang mempertanyakan agama yang ada di peradaban Yunani.

Terdapat berbagai macam konsep Tuhan mulai dari konsep monoteisme, trinitas, politeisme, sistem kasta, dan buah pengetahuan. Salah satu konsep Tuhan digambarkan dengan pederitaan.

Dalam sejarahnya hal tersebut melahirkan budaya penyiksaan di dunia Barat, di mana penyiksaan dianggap sebagai cara untuk menebus dosa.  

Materi Tauhidullah tersebut membuka pandangan pada peserta, salah satunya bernama Fian yang merupakan seorang mahasiswa Bahasa Arab.  Ia menyampaikan.

“Peradaban yang selama ini dipuja-puji, ternyata memiliki sisi kelam yang jauh dari nilai-nilai yang logis dan ilmiah. Peradaban Barat yang selama ini dikenal sebagai pusat peradaban sains, ternyata memiliki masa kelam yang buruk layaknya masa peradaban Arab jahiliyyah,” tuturnya.

Di akhir perkuliahan, Akmal menyimpulkan.

“Manusia akan selalu membutuhkan konsep Tuhan, bagaimana pun bentuknya,” ujarnya. [wijaya/syahid/voa-islam.com]


latestnews

View Full Version