View Full Version
Selasa, 13 Feb 2024

Tgk Yusran Hadi: 'Pilihlah Pemimpin Yang Sesuai Dengan Kriteria Dalam Islam'

BANDA ACEH (voa-islam.com) - Ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Provinsi Aceh  Dr. Tgk. Muhammad Yusran Hadi, Lc., MA. menjelaskan kriteria pemimpin sesuai dengan Islam rangka untuk memilih pemimpin pada pemilihan umum (pemilu) yang akan berlangsung pada hari Rabu 14 Februari 2024.

Hal ini disampaikan oleh Tgk Yusran Hadi dalam acara Dialog Interaktif di Radio Serambi FM yang berjudul "Kriteria Pemimpin Pilihan Keluarga Muslim" pada  hari Ahad  (11/2/24) kemarin pukul 10.10 - 11.15 WIB di Radio Serambi FM, Kantor Harian Serambi Indonesia, Meunasah Manyang, Ingin Jaya, Aceh Besar. Acara Dalog Interaktif yang dimoderatori oleh host Amelia ini diselanggarakan oleh Sahabat Wanita dan Anak (SWA) Aceh bekerjasama dengan Radio Serambi FM.

Tgk Yusran menegaskan bahwa Islam merupakan agama yang sempurna. Islam mengatur segala aspek kehidupan manusia, baik aspek agama, sosial, politik, tatanegera, kepemimpinan, ekonomi, pendidikan, hukum dan sebagainya. Semua persoalan kehidupam di dunia ini sudah di atur dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah. Sudah lengkap aturan  Allah ta'ala yang diberlakulan kepada para hambanya. Inilah Syariat Islam. Syariah itu maknanya hukum-hukum Allah ta'ala.

Menurutnya, Berbicara meigenai kriteria pemimpin, seorang muslim wajib merujuk kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah. Karena, keduanya merupakan pedoman, petunjuk, dan aturan hidup seorang muslim untuk mencapai kebahagian di dunia dan akhirat. Kita harus melihat Al-Qur'an dan As-Sunnah berbicara tentang kepemimpinan atau sifat-sifat seorang pemimpin.

Terkait masalah ini, kita akan mengadakan Pemilihan Umum (Pemilu) dalam waktu dekat, yaitu pada hari Rabu14 Februari 2024. Dalam pemilu ini, rakyat Indonesia akan memilih pemimpin untuk 5 tahun ke depan, baik pemimpin negara (presiden beserta wakilnya) maupun pemimpin perwakilan rakyat yang duduk di parlemen..

Dalam pemilu kali ini, ada tiga pasang Capres-cawapres dan ada ribuan Caleg di seluruh Indonesia. Sebagian umat mungkin masih ada kebimbangan dan kebingungan dalam menjatuhkan pilihan. Kira-kira siapa pemimpin yang layak dipilih dan diangkat sebagai pemimpin Indonesia untuk lima tahun ke depan, baik di lembaga eksekutif mau pun legislatif.

Untuk itu, kita perlu memilih kriteria calon pemimpin yang tepat untuk memimpin bangsa ini sesuai dengan kriteria pemimpin yang ditetapkan dalam Islam agar negera ini menjadi negara yang Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafuur yaitu negara yang damai, berkeadilan, makmur, mendatangkan kebaikan, dan mendapat keberkahan dari Allah ta'ala.

Ia mengingatkan umat Islam agar dalam memilih pemimpin itu harus berhati-hati dan penuh pertimbangan. Tidak boleh asal pilih ikut hawa nafsu karena iming-iming materi, pangkat, jabatan dan uang dan tidak boleh pula fanatik buta karena calon pemimpinnya dari keluarga, kelompok atau partainya. Karena, pilihan kita hari ini akan diminta pertanggung jawaban oleh Allah ta'ala kelak di hari Kiamat.

Oleh karena itu, pilihlah pemimpin yang sesuai dengan kriteria dalam Islam. Gunakan iman, hati nurani dan logika sehat dalam memilih pemimpin. Memilih pemimpin yang tidak sesuai Islam hukumnya haram. Karena bertentangan dengan Islam. Selain itu,  karena bisa mendatangkan mudharat terhadap agama dan umat Islam serta menghancurkan tatanan kehidupan bangsa dan negara.
 
Menurut Tgk Yusran, ada lima kriteria pemimpin dalam Islam yang harus kita ketahui sebelum kita masuk ke bilik suara untuk mencoblos, yaitu:

Pertama; Seorang pemimpin itu harus muslim yang taat beragama. Ini syarat pertama dan paling utama dari beebagai kriteria lainnya. Karena itu, ketika kita memilih pemimpin, maka kita harus melihat kepada ibadahnya, dan ibadah yang paling penting adalah shalat. Kita lihat apakah ia menjaga shalatnya atau tidak. Karena, baik atau buruk seseorang itu  tergantung kepada shalatnya.

Jika shalat shalat seseoramg baik yaitu senantiasa dilakukan dan sesuai dengan petunjuk Rasulullah SAW, maka perilakunya menjadi baik. Kalau shalatnya tidak baik yaitu meninggalkan atau tidak sesuai dengan petunjuk Rasulullah SAW, maka perilakunya menjadi tidak baik.

Allah SWT berfirman, "Dan laksanakanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (shalat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Ankabut: 45).

Rasulullah SAW bersabda, "Amalan yang dihisab pertama kali pada hari Kiamat adalah shalat. Jika shalatnya baik (benar), maka baiklah semua amalannya. Dan jika shalatnya buruk (rusak), maka buruklah semua amalannya."

Kedua; Seorang pemimpin itu harus mampu menjadi imam dan khatib. Dalam sejarah, setelah wafatnya Rasulullah SAW para sahabat sepakat mengangkat Abu Bakar RA sebagai pemimpin. Alasannya, selain beliau taat beragama, beliau juga pernah ditunjuk oleh Rasul SAW sebagai imam shalat. Beliau mampu menjadi imam dan sekaligus menjadi khatib.

Kenyataannya, ketika Rasul SAW masih hidup dan beliau berhalangan, maka beliau menunjuk Abu Bakar sebagai imam. Di sini tersirat pesan penting bahwa ketika Abu Bakar diangkat sebagai imam shalat, sudah sangat layak pula beliau diangkat sebagai pemimpin.

Kita tidak perlu bingung dan banyak pertimbangan dalam memilih seorang pemimpin. Kita bisa lihat track record (rekam jejak) seseorang dalam masalah salat. Siapakah yang istiqamah shalatnya, bahkan sampai bisa menyampaikan khutbah dan menjadi imam shalat, itulah sosok pemimpin yang layak kita pilih.

Ketiga, Pemimpin  itu harus cerdas dan berilmu. Ketika Bani Israil meminta pemimpin untuk berjuang melawan musuh mereka Allah memilih Thalut sebagai pemimpin mereka karena kelebihan ilmu dan kekuatan fisik yang dimilikinya, bukan pemimpin yang kaya seperti diinginkan Bani Israil sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 247.

Lihatkah ketika Nabi Yusuf menawarkan dirinya untuk menduduki jabatan Menteri di Kerajaan Mesir beliau menyebut kelebihan beliau dari  sisi amanah dan ilmu sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an surat Yusuf ayat 55..

Lihatlah Zulqarnain adalah pemimpin besar yang Allah berikan kekuasaan yang luas karena ilmu yang dimilikinya dan konsisten mengikuti ilmu tersebut sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur'an surat Al-Kahfi ayat 44-45.. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dan sebagian tabi’in menafsirkan kata “sababa” dalam ayat tersebut adalah ilmu,

Seorang pemimpin itu harus cerdas dan berilmu sebagaimana Rasulullah SAW, Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khatthab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib, Muawiyah bin Abi Sofyan, dan Umar bin Abdul Aziz. Mereka adalah para pemimpin yang cerdas dan berilmu. Maka Islam menjadi kuat, maju dan berperadaban.

Maka pilihlah pemimpin yang cerdas dan berilmu. Tidak boleh kita memilih pemimpin yang bodoh. Kita diharuskan memilih pemimpin yang memiliki kecerdasan, punya skill (keahlian) dan intelektualitas yang mumpuni. Sungguh berbahaya negeri sebesar dan sekaya Indonesia jika sampai dipimpin oleh pemimpin yang bodoh. Maka memberikan kemudharatan bagi Islam dan umat Islam serta menghancurkan negara.

Keempat:  Seoramg pemimpin memiliki akhlak yang mulia; tawadhu, tidak sombong, jujur, amanah, penyayang, tidak suka marah dan emosional, merasakan penderitaan yang dirasakan oleh rakyatnya dan sangat menginginkan kebaikan bagi mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah pemimpin yang memiliki sifat tersebut sehingga beliau menjadi pemimpin yang dicintai oleh umatnya. Kalau harus merasakan kesulitan beliaulah orang yang paling merasakan kesulitan tersebut. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an surat At-Taubah ayat 128.

Seorang pemimpin itu bersikap lemah lembut kepada rakyatnya, mendoakan rakyatnya bahkan bermusyawarah serta mendengarkan pendapat-pendapat rakyatnya setelah itu bertawakkal dan menyandarkan urusan kepada Allah yang menjadi lambang tauhid yang benar. Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur'an surat Ali Imran ayat 159.

Memilih pemimpin yang tidak beretika apalagi sampai menganggap etika itu tidak penting, bisa jatuh pada sikap pengkhianatan kepada Allah SWT, Rasulullah SAW dan kaum beriman, sesuai sabda Rasulullah SAW, “Siapa yang memberi jabatan seseorang dari suatu kelompok, sementara di tengah-tengah mereka ada orang yang lebih diridai Allah dari pada yang dia pekerjakan, maka dia telah mengkhianati Allah, Rasul-Nya, dan Kaum Mukminin.” (HR. Hakim)

Dari hadits ini kita belajar tentang memilih pemimpin. Kita pilih pemimpin yang paling diridai Allah SWT dengan melihat rekam jejaknya dalam masalah ibadah : salatnya bagus, salatnya istiqamah, bisa mengaji Alquran, disiplin, memiliki intelektual dan integritas, cerdas, berilmu, santun, berwibawa, jujur, beretika, dan lain sebagainya. Insya Allah pemimpin semacam ini adalah pemimpin yang diridhai Allah SWT dan akan memimpin dengan kasih sayang terhadap rakyatnya.

Kelima;  Seorang pemimpin itu berkeprobadian yang baik dan menjadi teladan bagi rakyatnya. Kepribadian seorang pemimpin akan membawa pengaruh kepada orang-orang yang ia pimpin. Umar bin Khattab RA berkata, "Manusia akan mengikuti karakter keagamaan pemimpin mereka."

Memilih seseorang untuk memimpin diri kita, selain bernilai ibadah karena perintah agama, juga membangun karakter bangsa, membangun kepribadian anak cucu keturunan kita. Jika kita memilih pemimpin yang memiliki karakter taat beribadah, taat pada ketentuan agama, intelek, bersih dari korupsi, kolusi, dan nepotisme, maka karakter ini akan mempengaruhi rakyat di bawah. Rakyat akan menjadi masyarakat yang agamis, menjunjung tinggi etika, giat belajar ilmu agama, menjauhi korupsi dalam segala bentuknya, dan lain sebagainya.

Sebaliknya, pemimpin yang memiliki kepribadian buruk seperti suka meminum minuman keras, berjudi, menonton tayangan yang tidak layak ditonton, berjoget ria, tidak shalat, tidak mengaji, mudah emosi, suka berbohong, korupsi, nepoatisme, dan berbagai akhlak buruk lainnya, maka rakyatnya akan meniru perilaku buruknya ini.

Di akhir pernyataannya, Tgk Yusran mengajak umat Islam untuk memilih pemimpin yang ta'at beragama, jujur, amanah, cerdas, berilmu, kuat fisik, beretika,, dan menjadi teladan. Inilah kriteria pemimpin yang sesuai dengan Islam sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya khulafaurrasyidin serta para pemimpin Islam lainnya yang mengikuti mereka. .

Menurutnya, lima menit di bilik suara untuk memilih pemimpin menentukan keadaan bangsa untuk lima tahun ke depan. Jika salah pilih, maka rakyat akan menderita selama lima tahun ke depan. Namun jika pilihan benar, rakyat akan hidup bahagia, berkeadilan dan makmur.

Harapan dan doa kita kepada Allah ta'ala, semoga Allah ta'ala memberi petunjuk kepada kita untuk bisa mendapatkan pemimpin yang taat beragama, jujur, amanah, menjaga shalat, cerdas, berilmu, beretika, dan berintegritas. Dan semoga pemimpin yang terpilih nanti sesuai dengan kriteri pemimpin dalam Islam atau mendekati kriteria ini. Amin.


latestnews

View Full Version