View Full Version
Sabtu, 26 Oct 2019

Bebas Bablas Crosshijabers dan Pregnant Crossdressers, Apa Kabar Kawula Muda?

 

Oleh:

Nindy Nur Rahmawati, S.Pd (Pendidik)

 

 

ADA lagi kemunculan suatu komunitas yang cukup viral dan sebenarnya ‘aneh’ di pandangan masyarakat pada umumnya. Komunitas tersebut ialah crosshijabers dan pregnant crossdressers. Suatu komunitas yang menyimpang dari fitrah manusia seharusnya. Mungkin ada yang sudah terbiasa dengan penampakan real pelakunya, dan memilih bersikap biasa saja. Namun jika didetailkan, hal ini dapat mengancam cara pandang masyarakat terkhusus kaum muda sebagai generasi penerus bangsa. Memilih memelihara komunitas ini atau menolaknya tanpa ampun?

Crossdresser sendiri merupakan realitas orang-orang yang berpakaian tidak sesuai dengan gendernya. Sedangkan pregnant crossdressers adalah fenomena laki-laki yang menggunakan pakaian wanita dan berpenampilan layaknya ibu hamil. Pemandangan ini cukup mudah didapatkan baik tv, internet, dll.

Meski sudah menyerbak sedemikian rupa di Indonesia, banyak yang berasumsi bahwa fenomena ini tidak sampai ke arah LGBT. Just for fun!  Tapi ketahuilah, hal ini merupakan salah satu jalan menuju ke arah sana. Tren ini menunjukkan bahwa manusia sudah terbiasa hidup bebas. Sangat berbahaya! Terlebih rasa waspada tinggi yang muncul bagi para wanita khususnya terkait pemberitaan heboh, yaitu laki-laki yang menyamar menggunakan cadar dan sengaja masuk ke ruang privat perempuan.

Manusia diciptakan oleh Allah SWT memiliki akal, yang berpotensi untuk dapat membedakan mana hal yang baik dan yang buruk. Islam telah mengatur secara lengkap bagaimana perempuan dan laki-laki dalam menjalankan fitrahnya masing-masing di kehidupan. Mulai dari cara berpakaian hingga aturan terkait fungsi yang dimiliki tubuhnya.

Lantas, jika manusia sudah keluar dari rambu-rambu Islam, muncul banyak pertanyaan, inikah kebebasan yang kebablasan? Sengaja diciptakan atau terjadi dengan sendirinya? Tak dapat dipungkiri, saat ini semakin banyak orang yang menyebrangi identitasnya. Mengapa semua ini terjadi?

Mungkin kita perlu mengingat kembali bagaimana PBB meresolusikan HAM sebagai agenda yang wajib diambil oleh setiap negara. Indonesia sebagai salah satu negara yang turut menyepakati HAM dan memperjuangkannya, terlihat dalam UU Tahun 1999 No. 39. Ada banyak kebebasan yang wajib diberikan haknya pada individu-individu.

Well, negeri ini masih belum tuntas mengenai aturan LGBT. HAM yang diperjuangkan di negeri ini, apakah menolak keberadaan LGBT atau memberi ruang padanya?

Sesungguhnya banyak pertanyaan di kepala kita, Why? Why? And Why? Tren menyimpang yang semakin banyak bermunculan ini, yang selalu membuat dahi mengernyit, terus terjadi bak fenomena gunung es. Kaum muda kita banyak terjebak pemikiran liberal alias kebebasan yang menabrak aturan sesuai fitrahnya, baik dalam berekspresi, berpendapat, beragama dan masih banyak lagi. Sejak dini, pola pikir anak terbiasa dengan pola pikir Barat yang memberikan otoritas kepada manusia untuk membuat aturan. Anak-anak kita terkhusus Muslim dibiasakan untuk menghilangkan hak Allah, dalam menentukan suatu pemikiran.

Darimana datangnya pemikiran liberal ini? Dari kehidupan yang berdasarkan aturan sekulerisme. Memisahkan agama dari kehidupan. Agama tidak menjadi aturan baku dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat. Agama hanya diserahkan kepada individu masing-masing. Terlepas dari kontrol negara secara tegas. Inilah sumber penyakit di tengah masyarakat saat ini.

Pemikiran bebas ini harus segera dibuang! Diganti dengan Islam, yang memiliki aturan menyeluruh termasuk bagaimana mengatur interaksi sosial di masyarakat. Dimulai dari ketakwaan individu yang dibangun, bahwa mereka pada akhirnya sadar jika fenomena menyimpang tadi adalah salah, otomatis individu tersebut akan serta merta menolaknya.

Namun, tidak cukup hanya bertumpu pada individu saja yang beriman dan bertakwa, kondisi masyarakat yang sadar terkait amar ma’ruf nahi munkar juga penting adanya, serta negara yang tegas dengan segenap aturan dan sanksi.

Islam adalah agama yang sempurna. Dengan aturannya, mampu menormalkan manusia menjadi manusia yang sesungguhnya. Apapun masalah yang terjadi dalam kehidupan ini, pasti ada solusinya. Jika fenomena kerusakan atas kebebasan itu terus terjadi dan tak pernah berhenti, bisa jadi kita tidak menggunakan Islam sebagai solusi! So, return Islam to the place it should be! *


latestnews

View Full Version