View Full Version
Sabtu, 02 Nov 2019

Radikal Itu, Liberalisasi yang Mengintai Remaja

 

Oleh:

Ana Nazahah, Revowriter Aceh

 

PERNAH di suatu moment, udah lama sih. Jadi ceritanya gini, aku dan dua orang temenku baru pulang dari suatu tempat, jalan kaki gitu. Nah, di pinggir jalan yang memang ada tamannya, ada tiga bocah sedang duduk- duduk ributin sesuatu. Mereka lagi ngobrolin masalah cinta- cintaan. 

Terang saja kami kaget, saling lempar pandang dan nahan senyum. Neh bocah masih ingusan juga, udah bisa ngomong cinta? Kepo, kami curi denger cerita mereka.

"Eh, cewek aku tuh si Nisa (entah Nisa mana). Cewek kamu siapa?" salah satu yang paling kecil bertanya ke kedua temennya.

"Jelek juga dia, mending aku sukanya sama kak Maya!" jawab si Mas ganteng yang baru kemarin masuk TK. FIY, si Maya ini udah tamat S1 lho. Tetangganya si Mas ganteng. Mungkin seumuran tantenya dia.

Gemes campur miris. Udah ga lucu juga. Mendengar obrolan mereka ngelantur kemana- mana. Udah ke bahasan panggilan papa bunda, ngomongin nikah juga. Bisa dibilang ini udah radikal. Bahaya.

 

Karena itu, ga habis pikir dengan pernyataan menkopulhukam, Prof Mahfud MD yang menstigmakan radikal anak kecil yang diajarkan syariat Islam, "Ada anak kelas 5 SD, gak mau bareng teman lawan jenis karena bukan muhrim. Masak anak kecil kelas 5 udah diajarkan yang begitu. Ini contoh yang harus di-deradikalisasi." (ILC, Sabtu 26/10/19).

Aneh bukan? Bagaimana bisa anak kecil yang dipahamkan tentang syariat Islam sejak dini disebut radikal. Apa hubungannya? Dimana-mana dekadensi moral yang menimpa anak bangsa, justru terjadi karena hidup jauh dari aturan agama. 

Ada banyak kasus rusaknya pergaulan remaja. Pacaran, hamil, aborsi hingga pembuangan bayi- bayi. Ga pernah sepi dari pemberitaan media. Apa itu karena agama? Karena mereka diajarkan apa itu mahram sejak kecil?

Di dalam Islam, anak- anak sejak dini wajib dikenalkan mahramnya. Diajarkan yang mana aurat bagi laki- laki, pun aurat anak perempuan. Siapa saja yang boleh bergaul dengan mereka, melihat aurat mereka. Termasuk berteman dengan yang mahram. Agar kelak dewasa mereka terbiasa menjaga iffah dan izzahnya.

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhu, ia berkata bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Suruhlah anak kalian shalat ketika berumur tujuh tahun dan pukullah mereka ketika berusia sepuluh tahun (jika mereka meninggalkan shalat). Dan pisahkanlah tempat tidur mereka (antara anak laki-laki dan anak perempuan)" Hadits hasan diriwayatkan oleh Abu Dawud, no. 495; Ahmad, II/180, 187; Al-Hakim, I/197).

Sangat berbanding terbalik dengan pemikiran Pak Mahfud, yang seolah menyudutkan ajaran Islam. Bahwa radikalisme itu ajaran Islam. Orang- orang taat berpotensi jahat. Bener- bener ga logis, bukan?

Pemikiran seperti itu, hanya akan membuat Muslim semakin alergi dengan ajaran agama sendiri. Bisa- bisa generasi Islam ga akan tau bagaimana pergaulan Islami. Liberalisasi akan merajela. Pergaulan remaja yang sudah rusak ini, akan semakin rusak. Pada akhirnya, tuduhan radikalisme yang tidak pada tempatnya, hanya akan membawa kita pada jurang binasa.*


latestnews

View Full Version