View Full Version
Selasa, 04 Feb 2020

Februari: Valentine Day dan Budaya Pesta Pora

 

Oleh:

Qayyum Az’zahra

Siswi SMP HSG Mutiara Ummah Sidoarjo

 

BULAN Februari telah tiba. Banyak orang yang menanti kedatangannya. Terutama para pemuda–pemuda yang sedang teridentifikasi virus merah jambu. Meluapkan rasa sayang, kasih dan cintanya pada bulan ini. Karena di bulan ini suatu budaya Barat yang ditiru oleh para pemuda–pemuda dilaksanakan.

Apalagi kalau bukan valentine day. Dilaksanakan setiap 14 Februari.  Pusat pembelanjaan yang menyediakan semua kebutuhannya (coklat, viesta, bunga, boneka, dll) itupun ramai dikunjungi oleh konsumen. Hotel bintang lima pun tak mau kalah. Mereka menyediakan layanan terbaik yang mereka miliki, cukup dibayar dengan harga miring. Diskotik, taman dan tempat–tempat yang mendukung adanya valentine day ini pun ramai oleh  adanya para pemuda–pemudi yang sedang di mabok cinta.

Kesadaran atas kesalahan yang mereka lakukan tak kunjung mereka sadari. Oleh sebab itu banyak perayaan yang mereka desain sebaik mungkin dan semenarik mungkin, agar para anak–anak zaman “z” ikut serta dalam meramaikan acaranya. Kalau sudah bicara tentang perayaan, pastinya nggak akan jauh dari pelaksanaan pesta pora. Meski hanya berduaan atau dengan temen–temen. Itulah tradisi yang tetep lestari dari tahun ke tahun.

Mereka terjerumus dalam gaya hidup hedonisme. Parahnya, gaya hidup ini banyak didukung oleh tayangan televisi ataupun promosi produk yang berusaha merangkul konsumen remaja. Dan hasilnya, banyak sekali remaja yang terhanyut dalam budaya pesta pora dan melupakan bahaya gaya hidup hedonisme. Hati–hati!

 

Hedonisme dan Bahaya Pesta Pora

Paham hedonisme pertama kali dikembangkan oleh dua orang filsuf Yunani, yaitu Epicurus (341–270 SM) dan Aristippus of Cyrine (435-366 SM). Istilah hedonisme berasal dari bahasa Yunani, yaitu ‘hedon’ yang artinya kenikmatan, kegembiraan.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia hedonisme merupakan pandangan yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagi tujuan utama dalam hidup. Jadi kaum hedonis menganggap bahwa orang akan bahagia dengan mencari kebahagiaan sebanyak mungkin dan sebisa mungkin menghindari perasaan–perasaan menyakitkan baginya. Prinsipnya, carpe diem (raihlah kebahagiaan sebanyak mungkin selagi kamu masih hidup).

Bagi mereka, bersenang–senang, pesta pora dan pelesiran merupakan tujuan utama hidup, entah itu menyenangkan bagi orang lain atau tidak. Karena mereka beranggapan hidup ini hanya sekali, sehingga mereka ingin menikmati hidup senikmat nikmatnya. Hidupnya di jalani dengan sebebas-bebasnya demi memenuhi hawa nafsu yang tanpa batas. Pandangan mereka terangkum dalam pandangan Epikuris yang menyatakan, “bergembiralah engkauhari ini, puaskanlah nafsumu, karena besok engkau akan mati.”

Dari gaya hidup hedonisme inilah lahir budaya pesta pora. Kegiatan foya – foya yang menjanjikan kesenangan, kemeriahan dan hura- hura dalam kesehariannya. Budaya inilah, yang saat ini sedang digandrungi oleh para remaja. Naudzubillah!

 

Remaja Tangguh

Masa muda merupakan masa sempurnanya pertumbuhan fisik dan kekuatan seorang manusia. Itu merupakan nikmat besar dari Allah Ta`ala yang seharusnya dimanfaatkan dengan sebaik-sebaiknya untuk amal kebaikan guna meraih ridha-Nya. Dan sebagimana nikmat-nikmat besar lainnya yang diterima manusia, nikmat inipun nantinya akan ia pertanggungjawabkan di hadapan Allah Ta`ala.

Allah berfirman, yang artinya: “Tidakkah mereka itu yakin, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada suatu hari yang dahsyat, (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam.” (QS al-Muthaffifiin: 4-6).

Kita sebagai generasi penerus perdaban Islam yang gemilang sudah seharusnya kita berkontribusi menuangkan segala kekuatan hanya untuk berjuang bersama. Bukankah kita adalah khalifah  di muka bumi ini. Begitupun tenaga kita punya peran besar untuk menegakkan khilafah ala minhajinnubuwah. Sedikit banyak kita berkontribusi akan mempengaruhi potret masa depan kita.

Kita hidup di dunia itu untuk mengumpulkan bekal sebanyak banyak nya agar kita bisa masuk surga waktu di akhirat kelak. Makannya jadi pemuda jangan mau jadi pemuda yang biasa biasa aja. Tunjukkin diri, bahwa kita adalah pemuda cerdas, nggak akan ada ruginya kalau kita jadi pemuda cerdas.

Bahkan ada sabda Rasulullah, Orang yang cerdas adalah orang yang mampu menundukkan hawa nafsunya dan beramal untuk kehidupan akhirat, sedang orang yang lemah adalah orang yang memperturutkan hawa nafsunya dan panjang angan terhadap Allah.” ( HR Tirmidzi).

Jadilah pemuda yang mempesona, menentang zaman dalam dekapan Islam yang membuncah di dalam dada. Allahu Akbar!*


latestnews

View Full Version