View Full Version
Senin, 17 Feb 2020

Februari Bulan Cinta, atau Kebebasan Seks atas Nama Kasih Sayang?

 

Oleh: Desi Wulan Sari

 

Tanggal 14 Februari telah berlalu, tapi bulannya masih bernuansa 'kasih sayang' saja. Itu karena bulan Februari seolah menjadi bulan yang diartikan sebagai bulan kasih sayang, yang disebut valentine's day. Perayaan tentang kemaksiatan ini sungguh jauh dari akhlak dan akidah seorang muslim.

Setiap zaman mempunyai tantangan masing-masing. Salah satu tantangan dan ujian kita saat ini adalah gelombang budaya sesat produk kaum kapitalis yang serakah. Gelombang budaya yang hanya menuruti nafsu yang mengejar kesenangan sesaat.

Adapun fakta sejarah yang perlu diketahui tentang asal muasal valentine's day ini sungguh sangat mengerikan. Sebagai seorang muslim melihat fakta tersebut, justru  akan merasa bersyukur bahwa kita dilahirkan dan diberi hidayah sebagai seorang muslim yang selalu diatur oleh syariat. Ustazah Irena Handono menjelaskan bahayanya valentine's day bagi generasi muda muslim mana pun. Menurutnya valentine's day digunakan sebagai jalan penyebaran ajaran kristen di negara-negara pemuja dewa-dewa saat itu.

Banyak simbol kesyirikan sebagai tradisi penyembah berhala. Seperti lambang Dewi Cinta (Queen of Feverish Love) Juno Februata, cupid bayi bersayap, Dewa LUPERCUS, dewa kesuburan yang digambarkan setengah telanjang dengan pakaian dari kulit domba. Bahkan yang paling mengerikan saat ini valentine's day ini dianggap sebagai hari cinta (love) padahal makna ‘love’ adalah sebagaimana sejarah GAMELION dan LUPERCALIA pada masa masyarakat penyembah berhala, yakni sebuah ritual seks/perkawinan. Jadi Valentine’s Day memang tidak memperingati kasih sayang tapi memperingati love/cinta dalam arti seks. Atau dengan bahasa lain, Valentine’s Day adalah HARI SEKS BEBAS. (WadahAspirasiMuslimah,14/2/2020).    Naudzubillahimindzaliik.

Seks bebas adalah salah satu dari budaya sesat yang terus mendapat  sponsor dari kaum kapitalis. Bukan karena apa-apa, semua itu hanya karena uang semata. Budaya seks bebas ternyata merupakan ladang bisnis yang cukup menggiurkan. Industri film porno di Jepang konon telah menduduki industri terbesar kedua di negara itu di bawah industri otomotif. Budaya seks bebas ini juga bisa menggerakkan lahan bisnis yang lain seperti jaringan prostitusi, obat-obatan terlarang, serta obat semisal permen pembangkit syahwat yang kemarin sempat tenar di Indonesia.

Untuk itu kaum muslimin harus senantiasa waspada dan selalu memperkuat dasar iman di hati dan menjaga keluaraga. Karena Allah memang akan terus menguji keimanan umat islam, sehingga yang kuat , lulus dari segala kemaksiatan sajalah yang layak mendapatkan syurga-NYA kelak.

Serangan masif  bagi generasi muda dari para pengusung paket kemaksiatan seperti  liberalis, sekuleris dan kapitalis, digunakan sebagai cara pelemahan akidah dan pelunturan keimanan remaja muslim. Cinta yang dimaknai versi liberalis dikemas secara manis untuk membuat daya tarik agar para pemuda mau mengikuti perayaan ini. Banyak dalih para temaja yang dijadikan alasan mereka ikut peringatan ini, dari sekedar hanya ungkapan kasih sayang, pegang tangan, cium pipi, gerayang sana gerayang sini, atau hanya memberi bunga dan coklat saja, dianggap ya tidak akan melanggar aturan agama. 

Sampai seperti inilah gambaran kerusakan generasi muda yang sangat menyayat hati. Persoalan serius bagi para orangtua, pendidik dan kaum muslimin di dunia dalam menghadapi perang pemikiran bahkan sudah sampai pada tahap penyebaran di lini terkecil yaitu sebuah keluarga. Maka umat muslim  harus mulai berpikir cemerlang bagaimana cara mengatasi  kerusakan ini secara sistemik. Seperti apakah  solusinya?

Cinta Hanya pada Illahi

Sebagai umat Islam yang memiliki peradaban mulia, semestinya kita memakai pandangan iman untuk filterisasi kebudayaan kafir dan tidak sekedar ikut-ikutan apalagi dalam urusan keimanan.

Dalam al-Qur’an surat al-Israa’ [17] ayat 36, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.”

Begitupun  firman Allah dalam al-Qur’an surat al-Baqarah [2] ayat 145 yang artinya:“…Dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, Sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang zalim.”

Dua firman Allah tersebut secara jelas melarang umat Islam mengikuti budaya orang kafir seperti valentine’s day. Terlebih-lebih peringatan tegas dari Rasulullah dalam haditsnya, “Tidak termasuk golonganku orang-orang yang menyerupai selain golongan ummatku (ummat Islam).” (Riwayat Tirmidzi).

Begitu mudah musuh-musuh Islam memperdaya generasi muslim dengan budaya hedonis hasil rekayasa mereka. Dan keadaan ini sudah diprediksi oleh Rasulullah dalam haditsnya, “Akan terjadi, bersatunya bangsa-bangsa di dunia menyerbu kalian seperti sekelompok orang menyerbu makanan.” Salah seorang sahabat bertanya, “Apakah karena jumlah kami di masa itu sedikit.” Rasulullah menjawab, “Jumlah kalian banyak tapi seperti buih di lautan. Allah mencabut rasa takut dari dada musuh-musuh kalian dan Allah menanamkan penyakit ‘wahn’ dalam hati kalian.” Lalu ada yang bertanya lagi, “Apakah penyakit ‘wahn’ ituya Rasulullah?” Beliau bersabda, “Cinta kepada dunia dan takut mati.” (Riwayat Abu Dawud).

Bukankah peradaban Islam sudah cukup jelas memberi teladan mulia? Sebagaimana teladan dari nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam yang mencontohkan tingginya rasa kasih sayang beliau kepada sesama makhluk Allah. Kasih sayang yang tidak terkhusus pada satu hari atau pun satu orang saja.

Cinta pada ilahi terwujud dari ketaatan kita pada perintah dan larangan-Nya, yaitu berupa syari'ah Islam dan itu adalah hal yang mutlak. Diturunkannya kitab suci al-Qur’an kepada seluruh umat manusia adalah berkah bagi mereka yang memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya mendapat pelajaran bagi orang-orang yang berpikir.

Berbagai macam propaganda yang dilakukan demi tercapai tujuan untuk neruntuhkan keimanan umat muslim akan terus dilakukan. Maka saatnya umat kembali kepada hukum Allah sebagai jalan keselamatan dunia dan akhirat.  Islam kaffah adalah satu-satunya institusi yang mampu mengatasi segala problematika kerusakan pemikiran jahat dari kaum kapitalis. Karena sejatinya syariat Islam sama sekali tidak akan pernah mengajarkan kepada para generasi mudanya dengan perbuatan yang sia-sia, kecuali kebaikan yang terdapat keridhoan Allah di dalamnya. Wallahu a'lam bishwab. (rf/voa-islam.com)

Ilustrasi: Google


latestnews

View Full Version