View Full Version
Senin, 14 Mar 2022

Tawuran, Potret Nge-Blur Generasi Sekuler

 

Oleh: Diana Rahayu

Baca berita tawuran seperti nggak ada habisnya. Sejak jaman gen-X sampai Z hingga milenial yang bejibun saat ini, tawuran ibarat cemilan yang nagih. Tawuran sudah begitu lekat pada geng anak laki. Rasanya bagi mereka nggak jantan kalau nggak ikutan gelut demi solidaritas teman. Rasa pede dan hilang takut pun makin fix saat berkelompok. Naga-naganya sih generasi Alpha pun kelak juga bakal mengikuti jejak generasi moyangnya yang doyan tawuran. Benarkah?

Hmm... begini. Sifat tawuran itu kayak rasa menunjukan harga diri dan kedudukan mereka di hadapan lawan. Rasa ingin dipandang sebagai lelaki jantan, tak lembek, macho, no anak mami adalah hal yang paling bikin lelaki punya harga. Apalagi mereka merasa makin eksis dengan berkelompok atau bergabung dalam sebuah geng yang saling menguatkan.

Rasa untuk ngumpul nunjukin eksistensi diri ini sebenarnya ada pada semua makhluk bernyawa. Mereka akan nyaman dan merasa terlindungi oleh kelompoknya di saat menghadapai bahaya. Lihat aja kalau sore menjelang, sekelompok burung terlihat akur terbang menuju satu arah pulang. Segerombol ikan akan berenang dengan tenang bersama spesiesnya. Pun segerombol rusa akan nyaman bersama kawannya. Ketika ada yang mengusik maka mereka akan menyelamatkan diri bersama-sama dan saling melindungi.

Fix, manusia yang juga bagian dari makhluk hidup pun pastilah juga punya rasa mempertahankan diri bersama kelompok atau komunitasnya. Istilah kerennya sih naluri ego, fitrah membentengi diri. Alhasil polah generasi yang suka tawur bahkan sampai pada tingkat ngawur ya gara-gara naluri ini. Emang naluri ini jadi penyebab utamanya kah? Kalau misal nggak ada naluri egoisme pastilah penduduk bumi aman. Yakin?

Enggak juga ya. Naluri egoisme kalau bahasa kerennya naluri baqa’ sejatinya Allah SWT ciptakan sebagai pelengkap sempurna bagi manusia untuk bisa bertahan hidup di bumi. Bisa dibayangkan kalau tak ada naluri ini, tentulah tak akan muncul perjuangan dan perlawanan saudara kita di Palestina menghadapi zionis Israel yang sudah merampas tanah mereka. Ujung-ujungnya manusia bisa habis dimakan manusia lain yang lebih jahat bin kejam. Nah, naluri ini sifatnya fitrah, dia bisa dibawa ke arah baik seperti semangat mengusir penjajah, pun bisa juga dibawa ke arah jelek macam tawuran ini.

So, bagaimana bisa menjadikan naluri ego ini menjadi baik dan tidak membuat kerusakan? Tentunya ada sesuatu yang harus menjadi latar belakang atau alasan yang benar untuk memunculkan naluri tersebut. Untuk itulah perlu standar hakiki dari Sang Maha Tahu untuk menentukan arah dan alasan terbaik memunculkan naluri ego ini. Alasan tersebut tentunya alasan yang mengantarkan pada kebaikan hakiki dunia akhirat. Apalagi jika bukan syariat dari agama yang benar yaitu Islam.

Nah, bagaimana bisa terjadi tawuran yang ujungnya menyakiti bahkan mendzalaimi teman sendiri hingga berujung kematian? Bisa kita tebak karena alasan yang memunculkan naluir ego mereka tak lagi berdasar syariat islam. Mereka just fun dan supaya dipandang hero, tak terkalahkan, hingga bisa jalan dengan kepala mendongak dan dada membusung. “Ini loh gue, jagoan tak terkalahkan”. Widiw alasannya cuma biar dilihat keren dan beken aja yang standarnya otot bukan otak. Ngenes banget lihat potret generasi kayak gini. Ya kalau Pitung, jagoan ngusir penjajah, lah ini?

Ujung semua masalah sih kalau boleh ditumpahkan gegara si sekuler. Pasalnya sekuler ini lah yang jadi biang keladi generasi jadi nggak ngeh sama agamanya. Nge-blur banget tentang aturan syariat Islam. Jangankan baca Qur’an dengan tartil, palingan anak-anak yang suka tawuran, alif sampai ya’ aja kebalik-balik urutannya kalah sama anak-anak Madin, malu-maluin aja, eh sorry ya jadi nge-judge.

Sekuler inilah yang mencabut aturan agama, nggak boleh ikutan main ngatur keseharian manusia. Bisa dibayangin kalau aturan main hidup di dunia dibiarkan diatur sama manusia yang punya naluri ego, bakalan arahnya hanya buat menangin diri sendiri dan kelompoknya secara nafsu. Hukum rimba pun berlaku. Ngeri!

Lebih jauh sekuler sudah gagal menghadirkan pendidikan yang bisa membimbing generasinya mengenal tuhannya. Mapel agama minim banget diberikan di sekolah umum. Jelas bikin generasi making gagal faham dengan agamanya, hingga nggak kenal siapa Rabbnya yang Maha Memberi Aturan sempurna. Kenal aja enggak, bagaimana bisa taat? Parah banget kan? Yang lebih sadis lagi gelombang insyafnya generasi karena pengaruh positif dakwah dikambingputihkan sebagai kelompok radikul. Astaghfirullah.

Lah gimana coba, masak generasi good looking yang mereka rajin sholat, pinter ngaji dibilang ekstrem. Yaelah yang ada mereka emang ekstrem pingin ke surga, makanya ekstrem mengejar kebaikan. Pilih mana hayo, good looking atau bad looking? Para emak sih bakalan pilih menantu yang good looking lah. Ortu pun pastinya akan gelisah kalau anaknya masuk daftar bad looking. Suer deh. Bahagia dunia pun di akhirat bakal hilang. Kehidupan jadi kacau karena semua hanya ngikuti nafsu.

And now, nggak jaman ya ngedukung hal yang nggak benar. Yakin usia sampai tua dan ada kesempatan bertobat? So, start now to change for the better with the right religion. Sebelum datang penyesalan di ujung nafas kita. Yuk ah ikrarin diri, leave the secularism that makes our lives blurry, get ready to be a person who is obedient forever. Bismillah. (rf/voa-islam.com)

Ilustrasi: Google


latestnews

View Full Version