View Full Version
Kamis, 29 Dec 2022

Pemuda, Agent of Change dan Mata Air Peradaban

 

Oleh: Yulweri Vovi Safitria

 

Wahai pemuda harapan ummat

Juga pengundi kuntum melati

Bekerja bekerjalah sebelum terlambat

Taburkan jasa sebelum mati

 

Jika ayah bunda telah pergi

Kamulah pembela agama dan bangsa

Menjadi bintang di malam hari

Menjadi pagar sepanjang masa

 

Pemuda pemudi kau harapan bangsa

Bangunlah segera dari tidur lena

(Lirik:Hijjaz)

 

Ya, pemuda merupakan harapan umat. Mereka merupakan generasi penerus bangsa, sebagai agent of change. Di pundak mereka banyak warisan amanah untuk melanjutkan kehidupan Islam. Menjadi generasi cemerlang dengan segudang prestasi sekaligus memberikan solusi bagi setiap masalah umat.

Pemuda memiliki peran dalam menghadapi ancaman dan tantangan terburuk bagi pembangunan, termasuk dampak perubahan iklim, pengangguran, kemiskinan, ketidaksetaraan gender, konflik, dan migrasi, serta berbagai masalah lainnya.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri, dari jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 275,36 juta jiwa pada Juni 2022, terdapat 190,83 (69,3%)  juta jiwa penduduk Indonesia yang masuk dalam kategori usia produktif (15-64 tahun). (katadata.co.id)

Jumlah tersebut diprediksi akan terus meningkat hingga 2030 mendatang. Hal tersebut menunjukkan bahwa pemuda turut memberikan pengaruh yang kuat bagi sebuah peradaban.

Generasi Pembangun adalah generasi yang masih mewarisi semangat dan ruh perjuangan pendahulu mereka. Biasanya pada masa merekalah sebuah peradaban akan mencapai puncak kemajuan, dan pemuda juga memiliki peran untuk menentukan arah masa depan bangsa.

Agent of Change

Pemuda sebagai agent of change sangat berpengaruh bagi perubahan dalam berbagai institusi, baik pemerintahan, perusahaan, dan juga masyarakat. Pemuda merupakan generasi harapan, mata air peradaban, penerus generasi mendatang, calon pengganti para pemimpin terdahulunya.

Ibnu Khaldun pun berbicara terkait kualitas pemuda dan peradaban dalam kitabnya Muqaddimah. Beliau mengatakan bahwa, "Generasi perintis adalah generasi yang memiliki semangat juang tinggi, pantang menyerah, cerdas, dan berkomitmen besar dalam membangun peradabannya. Generasi Pembangun adalah generasi yang masih mewarisi semangat dan ruh perjuangan pendahulu mereka. Biasanya pada masa merekalah sebuah peradaban akan mencapai puncak kemajuannya.”

Potret Pemuda Hari Ini

Sayangnya, potret pemuda hari ini jauh dari potensi sejatinya. Sebagian pemuda tumbuh menjadi generasi rapuh, emosional, dan tidak memahami hakikat penciptaan dirinya. Mereka yang dikatakan melek teknologi begitu mengandrungi dunia digital, game online, pinjaman online, hingga judi online.

Dan tidak sedikit pula dari para pemuda yang berkiblat pada fashion ala barat, K-Pop, drakor, anime, atau Citayam Fashion Week, yang merupakan sebagian dari sampah peradaban.

Sibuk mempercantik diri (tabarruj) untuk tampil menarik di ruang publik. Munculnya Selebgram, TikToker, YouTuber, dan dari kalangan anak muda, tidak lepas dari pengaruh revolusi industri yang terjadi saat ini. Gaya hidup bebas, hingga seks bebas, menjadi lifestyle sebagian para pemuda.

Ditambah lagi derasnya arus moderasi beragama hingga kasus-kasus kriminal dan narkoba, maupun pelanggaran hukum lainnya, sungguh menyesatkan para pemuda, dan semakin menjauhkannya dari agama.

Pemuda Islam yang Bagainakah?

Melihat potret pemuda hari ini yang jauh dari syariat, maka sudah sepatutnya kita terus berdakwah, mengembalikan fitrah mereka, sehingga memahami hakikat penciptaan diri, dan mengembalikan potensi mereka yang sesungguhnya.

Allah Subhanahu wa taala berfirman dalam QS Ar-Ruum [30] ayat 30:

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

Memang, pemuda terbaik adalah generasi awal Islam, pada masa Rasulullah salallahu alaihi wa sallam. Kisahnya realitas, dan tercatat dalam tinta sejarah perjuangan Islam. Mereka berjuang, membersamai Rasulullah salallahu alaihi wa sallam sejak masa beliau masih belia. Hati mereka dipenuhi cahaya iman dan Islam sehingga mereka begitu ringan dan rida membela dan menjaga kemuliaan Islam.

Para pemuda adalah pejuang, garda terdepan dan perisai bagi dakwah beliau. Mereka para sahabat, yang keberadaannya bagai mata air dan menjadi titik awal tegaknya peradaban Islam yang gemilang hingga menguasai ¾ dunia. Mereka adalah generasi terbaik Islam.

Oleh karena itu. Mengembalikan potensi pemuda tidak cukup hanya dengan perbaikan akhlak. Para pemuda harus memiliki akidah Islam yang kuat, bersyakhsiyah Islam, dan pemikiran yang mendalam tentang Islam dan syariat-Nya. Hal ini akan menjadi konter bagi mereka dalam menangkal derasnya arus moderasi yang terus meracuni otak generasi muda. Wallahu ‘alam. (rf/voa-islam.com)

Ilustrasi: Google


latestnews

View Full Version