View Full Version
Ahad, 18 Jun 2023

Obrolan di Tempat Nongkrong, Menentukan Wajah Peradaban?

 

Oleh: Tari 

Aktivitas nongkrong atau kumpul-kumpul memang sudah biasa di tengah masyarakat kita, terutama di kalangan pemuda yang suka ngobrol di warung kopi. Mau lesehan atau kafe mewah, di tempat-tempat seperti inilah obrolan pemuda mengalir. Banyak opini yang mereka bahas.

Uniknya ada hubungan erat antara kopi dan opini. Dari warung kopi saja opini apapun bisa mengalir, karena penikmat kopi dari berbagai kalangan. Banyak berita yang mengudara di dalamnya, mulai dari berita artis, olahraga, sampai politik pun tak luput dari bahan obrolan yang renyah.

Nongkrong dan minum kopi tak hanya sebatas hobi atau sedang mencari inspirasi, tapi dengan siapa teman ngopi dan apa obrolan di dalamnya, akan menentukan siapa kita dan seperti apa pemikiran kita.

Penentuan tersebut tak hanya sebatas ranah individu saja, tetapi opini serta pemikiran yang berkembang di tempat masyarakat berkumpul, menjadi penentu seperti apa peradaban kita ke depannya.

Mengapa demikian? Karena estafet peradaban itu akan diteruskan oleh para pemuda. Sedangkan wajah peradaban itu tergantung seperti apa pemikiran para pemudanya. Ketika pemikiran pemudanya hanya seputar percintaan dan gaya hidup, maka kelak wajah peradaban kita akan diisi oleh orang-orang yang mementingkan dirinya sendiri.

Tapi jika obrolan di tempat-tempat ngopi adalah obrolan seputar pemikiran, seperti obrolan tentang kondisi rusaknya masyarakat dan bagaimana solusi tuntasnya, maka dipastikan tongkrongan seperti ini akan melahirkan pemuda yang memiliki jiwa pemimpin.

Inilah yang saat ini didambakan banyak orang. Pemuda yang berjiwa pemimpin, paham akan latar belakang persoalan masyarakat, serta mampu memberikan solusi tuntas terhadap persolan masyarakat. Karena sebenarnya masyarakat kita dari dahulu menantikan pemimpin ummat yang mampu memberikan solusi menyeluruh atas permasalahan mereka.

Tapi faktanya pemuda kita saat ini sedang terlena dengan kesibukan dan kesenangan duniawi. Hari demi hari mati-matian mengejar materi, sedangkan mereka sendiri tidak menyadari akan matinya ketaatan kepada Allah.

Di sisi lain sebenarnya pemuda kita juga sedang krisis jati diri. Mereka bingung mencari jalan hidup, bimbang dengan masa depannya. Ditambah dengan budaya sekuler yang sedang melanda kaum muslimin seluruh dunia, makin pelik saja masalah pemuda kita saat ini.

Maka tempat nongkrong para pemuda juga bisa dijadikan sebagai wadah kontrol masyarakat. Salah satu ciri dari kontrol masyarakat adalah adanya aktivitas saling nasehat menasehati dalam kebenaran. Mengajak pada kebaikan dan mencegah pada yang mungkar. Untuk itu diperlukan individu-individu yang bertaqwa, yang sadar betul akan pentingnya mengubah pemikiran masyarakat dengan Islam.

Ya, hanya dengan Islam saja pemikiran masyarakat bisa kita luruskan dan kita jernihkan dari pemikiran asing, atau dari sikap memikirkan dirinya sendiri menjadi empati terhadap ummat.

Mengapa masyarakat harus kita alihkan kepada jalan Islam?

Karena Islam bukan hanya agama spiritual saja, tapi juga sebagai ideologi bagi manusia. Islam mampu menjadi dasar pemikiran manusia. Dasar pemikiran inilah yang melahirkan seperangkat aturan yang akan menuntun manusia ke jalan yang benar, serta memberikan semua jawaban atas masalah manusia.

Maka mengarahkan masyarakat ke dalam opini Islam tidak hanya untuk mencari jalan keluar atas masalah saja, tapi juga kewajiban setiap muslim untuk melakukan amar ma'ruf nahi mungkar.

Ujung dari aktivitas ini adalah berlangsungnya kehidupan Islam dalam sebuah institusi negara. Di atas kita sudah bahas bahwa kita butuh individu yang bertaqwa serta masyarakat sebagai kontrol masyarakat. Dua pilar tersebut tidak mampu berdiri kecuali dengan pilar yang ketiga, yaitu institusi negara.

Ini adalah misi besar yang harus dijalankan setiap pemuda muslim. Selain akan mendapatkan pahala besar disisi Allah, misi ini juga  mengembalikan kembali kehidupan dan kejayaan Islam.

Kesimpulannya, dimana pun seorang muslim berada, mereka punya kewajiban untuk melakukan amar ma'ruf nahi mungkar. Dan itu tidak terbatas hanya di masjid atau  ruang-ruang diskusi tertutup. Sekelas warung kopi lesehan atau kafe mewah, jika kita mampu menciptakan obrolan dengan level Islam maka kita menjadi muslim pembawa perubahan bagi peradaban manusia. Wallahu alam. (rf/voa-islam.com)

Ilustrasi: Google


latestnews

View Full Version