View Full Version
Selasa, 24 Feb 2026

9 Rambu di Jalan Taubat

Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulillah ﷺ dan keluarganya.

Taubat adalah kembali kepada Allah dan meninggalkan perbuatan maksiat; meninggalkan perintah atau mengerjakan larangan.

Taubat juga dari -kesadaran diri- atas kekurangan dalam bersyukur kepada Allah dan dalam menaati-Nya. Karenanya, ia beristighfar secara terus menerus sebagaimana yang dikerjakan oleh Nabi Muhammad ﷺ.

Taubat merupakan tugas sepanjang hidup yang menuntut untuk segera dikerjakan, disertai dengan penyesalan, berhenti seketika dari dosa, dan bertekad untuk tidak mengulanginya.

Apabila taubatnya berhubungan dengan hak orang lain maka disertai dengan mengembalikan hak kepada pemiliknya, meminta maaf dan kehalalan darinya.

Para taaibin (orang-orang yang bertaubat) sejatinya sedang berjalan menuju Allah Subhanahu wa Ta'ala. Karenanya, hendaknya ia memperhatikan rute jalan dan rambu-rambut supaya bisa sampai ke tujuan tepat waktu dan selamat.

Pertama: Segeralah bertaubat dan jangan menunda

Umur itu singkat. Pertanggungjawabannya berat. Malaikat pasti menang mencabut nyawa kita.

Luqman berkata kepada anaknya:

يَا بُنَيَّ, لَا تُؤَخِّرِ التَّوْبَةَ؛ فَإِنَّ الْمَوْتَ يَأْتِي بَغْتَةً

Wahai anakku, jangan engkau menunda taubat, karena sesungguhnya kematian datang secara tiba-tiba.

Orang yang menunda taubat berhadapan dengan dua bahaya besar:

  1. Kegelapan dosa menumpuk di hatinya hingga menjadi sifat dan tabiat yang sulit dihapus.
  2. Penyakit atau kematian datang mendadak sehingga ia tidak sempat bertaubat.

Wahai orang yang berdosa dan lalai—dan kita semua demikian—bulan yang mulia telah datang kepada kita. Jika nasihatnya tidak membangunkan kita, maka kapan lagi kita akan bangun?

Betapa banyak jiwa yang diambil kematian dari rumahnya, betapa banyak jasad yang dipindahkan ke kuburnya, betapa banyak mata yang menangis karena perpisahan.

Maka sambutlah bulan ini dengan taubat. Kembalilah kepada Allah sebelum datang penyesalan:

أَن تَقُولَ نَفْسٌ يَا حَسْرَتَىٰ عَلَىٰ مَا فَرَّطتُ فِي جَنبِ اللَّـهِ وَإِن كُنتُ لَمِنَ السَّاخِرِينَ

“Agar jangan sampai seseorang berkata, “Alangkah menyesalnya aku atas kelalaianku terhadap Allah, dan sungguh aku dahulu termasuk orang-orang yang memperolok-olok.”” (QS. Az-Zumar: 56)

Kedua: Taubat adalah tugas seumur hidup

Taubat bukan hanya dari dosa, tetapi juga dari kekurangan dalam bersyukur kepada Allah. Siapa yang mampu memenuhi seluruh hak Allah dan bersyukur sepenuhnya?

Rasulullah ﷺ—padahal dosa beliau telah diampuni—tetap beristighfar dan bertaubat seratus kali sehari. Maka kita lebih pantas dan lebih membutuhkan taubat.

Allah berfirman kepada orang-orang beriman:

وَتُوبُوا إِلَى اللَّـهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Dan bertaubatlah kalian semua kepada Allah, wahai orang-orang beriman, agar kalian beruntung.” (QS. An-Nur: 31)

Hendaknya kita melakukan muhasabah (introspeksi) diri sehinggatahu kekurangan diri kkita. Tanpa muhasabah, kita pasti akan berada dalam kelalaian—semoga Allah melindungi kita darinya-.

Ketiga: Jangan berputus asa dari rahmat Allah

Jika engkau mengulangi dosa, ulangilah taubat.Jika engkau melakukan kesalahan, kembalilah kepada Allah.Jangan pernah menganggap dosamu terlalu besar untuk diampuni.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

إِنَّ اللَّـهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا

Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa.” (QS. Az-Zumar: 53)

Dia mengampuni orang musyrik, bahkan pembunuh seratus jiwa, saat ia bertaubat. Maka apakah dosamu lebih besar?

Jika engkau berdosa, bertaubatlah dan menyesallah. Jangan meniru Adam dalam dosanya saja, tetapi tirulah dia dalam taubatnya.

Keempat: Tinggalkan lingkungan maksiat

Jauhilah tempat dan jalan yang membawamu kepada maksiat. Lingkungan bisa mengikat seseorang dengan kejahatannya. Dalam hadits tentang pembunuh seratus jiwa, ia diperintahkan pindah ke negeri orang-orang saleh dan meninggalkan negerinya yang buruk.

Segala sesuatu yang mengingatkanmu pada dosa—gambar, media, internet, tempat, atau pergaulan—jika itu menarikmu kembali kepada maksiat, maka tinggalkanlah. Karena meninggalkannya adalah awal lembaran baru dalam taubat.

Kelima: Jangan pasif setelah bertaubat

Duduk diam setelah taubat adalah kelemahan. Dahulu engkau aktif dalam keburukan, maka sekarang aktiflah dalam kebaikan.

Setan menakut-nakuti dengan kemiskinan, tetapi Allah menjanjikan ampunan dan karunia.

Orang yang berdosa secara terang-terangan hendaknya bertaubat secara terang-terangan dengan amal shaleh, agar taubatnya menjadi cahaya bagi dirinya dan orang lain.

Kesibukan dalam kebaikan adalah sebab keteguhan di atas hidayah.

Keenam: Jangan mencela orang yang sudah bertaubat

Rasulullah ﷺ bersabda:

التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لا ذَنْبَ لهُ

Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak memiliki dosa.” (HR. Ibnu Majah)

Ibnu Taimiyah berkata: Orang yang bertaubat bisa menjadi lebih baik daripada sebelum ia berdosa.

Para sahabat dahulu musyrik, tetapi setelah taubat mereka menjadi manusia terbaik setelah para nabi.Maka jangan mencela orang yang sudah bertaubat.

Ketujuh: Bantulah orang yang jatuh dalam dosa

Jika saudaramu jatuh, bantulah ia bangkit. Jangan menjadi sebab kehancurannya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

لا تُعينُوا عليه الشَّيطانَ

“Jangan membantu setan dalam menjatuhkan saudaramu.” (HR. Al-Bukhari)

Para sahabat dahulu menasihati, bukan menghina.

Tujuan nasihat adalah memperbaiki, bukan mempermalukan.

 

Kedelapan: Lakukan amal sesuai kemampuan

Jangan berlebihan hingga akhirnya berhenti. Lakukan amal secara bertahap.

Ibnu Al-Jauzi berkata:

يَا صِبْيَانَ التَّوْبَةِ! ارْفُقُوا بِمَطَايَا أَبْدَانِكُمْ فَقَدْ أَلِفَتِ التَّرَفَ

Wahai para pemula dalam taubat! Bersikaplah lembut terhadap kendaraan (yaitu tubuh) kalian, karena tubuh itu telah terbiasa dengan kemewahan.Islam mengajarkan keseimbangan dan kesinambungan.

Kesembilan: Istiqamah setelah taubat

Tetaplah di jalan lurus. Teruslah beramal. Nikmati manisnya iman.

Sesungguhnya para sahabat, apabila mereka masuk Islam, mereka terus beramal dengan sungguh-sungguh hingga Islam mereka menjadi baik dan keadaan mereka menjadi sempurna.

Taubat bukan hanya penyesalan masa lalu, tetapi juga komitmen masa kini dan tekad masa depan.

Jika engkau bertemu Ramadhan, manfaatkanlah dengan baik. Setelahnya, lanjutkan dengan amal shaleh.

Bersabarlah bersama orang-orang shaleh. Ingatlah pertemuan dengan Allah.Dengan itu perjalanan akan terasa ringan, dan jalan menuju Allah akan menjadi indah. [PurWD/voa-islam.com]


latestnews

View Full Version