View Full Version
Selasa, 14 Jan 2014

Strategi Ikhwanul Muslimin Gagalkan Referendum Mesir

KAIRO, MESIR (voa-islam.com) - Sebuah sumber dari Ikhwanul Muslimin mengatakan kepada Al - Masry Al -Youm bahwa Aliansi Nasional untuk Mendukung Legitimasi telah menyiapkan " kejutan "untuk menghentikan referendum dengan aksi demonstrasi di Tahrir Square.

Sumber yang tak ingin identitasnya disebutkan itu mengatakan bahwa mahasiswa pro-Ikhwanul Muslimin di Kairo dan Universitas Al-Azhar akan mencoba untuk berdemo di Tahrir Square Senin malam dan mengibarkan gambar Presiden terguling Muhammad Mursi dan tanda Rabaa. Dan diperkirakan sore ini banyak masa akan datang dari Ramses dan jalanAbdel Moneim Riad dan Jembatan Qasr al - Nil, dan akan memulai menduduki Tahrir, di samping juga akan mengepung komite referendum.

Pemimpin Aliansi Nasional untuk Mendukung Legitimasi Mohamed Al-Qoddousy mengatakan Ikhwanul Muslimin setuju dengan aturan anti-militer lainnya di dalam sebuah pertemuan yang berlangsung selama tujuh jam. Dia menambahkan bahwa mereka memiliki cara yang inovatif untuk menggagalkan referendum . "Apa yang telah kita sepakati akan diingat secara global dan diabadikan dalam sejarah manusia," Qoddousy menulis di akun Facebook-nya.

Qoddousy memperingatkan pemilih bahwa membicarakan respon dari aparat keamanan atas demonstrasi di komite dapat membahayakan keselamatan mereka. "Pelihara darah (nyawa) Anda, kami berjanji untuk menjadi damai, tapi kita tidak dapat memastikan apa yang para penjahat yang mungkin lakukan, karena mereka tidak akan punya pilihan lain selain menyerang semua orang," tulis Qoddousy.

Sementara, Pemimpin Aliansi Nasional dan kepala Partai Fadila Mahmoud Fatehy mengatakan, bahwademonstrasiyang lalu tidak cukup untuk menjatuhkan rezim. Dia menambahkan bahwa aliansi berencana untuk meningkatkan intensitas demonstrasi untuk membuat kewalahanaparat keamanan dan akhirnya membatalkan rancangan konstitusi.

"Kami sangat menyadari bahwa negara telah memperoleh “kekebalan” dari demonstrasi damai setelah pengalaman panjang sejak 25 Januari dan pergerakan revolusioner berikutnya akan berpengaruh dan menyakitkan untuk tubuh pemerintah dan kepala kudeta ," tambah Fatehy. (st/IslamiaNews)


latestnews

View Full Version