View Full Version
Kamis, 03 Apr 2014

China Dicurigai Punya Agenda Intelijen dalam Pencarian MH370

JAKARTA (voa Islam) - Sebagaimana yang disampaikan Samuel P Huntington, seorang futurolog Yahudi dalam tesisnya "Clash of Civilizations-Remarking of World Order", bahwa China akan menjadi ancaman bagi peradaban Barat yang dikomandoi Amerika Serikat dan Eropa, disamping apa yang disebutnya sebagai kebangkitan fundamentalisme Islam.

Kemarin Rabu, 02/03/2014), atjehcyber.net memuat berita bahwa sejumlah negara mencurigai Cina tengah melakukan aksi mata-mata terhadap kunci pertahanan negara-negara yang ikut melakukan pencarian pesawat Malaysia Airlines dengan nomor penerbangan MH370 yang hilang sejak Sabtu, 8 Maret 2014.

Meski negara-negara itu tergabung dalam satu tim investigasi dengan Cina, tapi mereka juga wanti-wanti atas motif lain Beijing.

Seorang pejabat senior India mengatakan India pekan lalu menolak permintaan Cina agar kapal-kapalnya diizinkan melakukan pencarian pesawat MH370 di perairan India di dekat gugus Pulau Andaman.

Cina dicurigai akan menggunakan misi pencariannya itu untuk mengumpulkan informasi intelijen tentang kunci pertahanan India di kawasan itu. "Mereka sanggup mempermainkan emosi dan berusaha memasuki wilayah itu. Kami memiliki semua peralatan dengan kemampuan modern untuk mampu mencari sendiri pesawat itu jika jatuh di perairan India," kata pejabat itu, seperti dilansir The Wall Street Journal, Rabu, 26 Maret 2014.

Menurut Direktur Low Institute Kebijakan Internasional untuk Program Keamanan Internasional, Rory Medcalf, misi Cina dengan mengerahkan sejumlah kapal mencari MH370 sebagai pengingat.

Apakah kesediaan Cina yang meningkat untuk menempatkan pasukannya di tempat-tempat yang tidak dikenal adalah semata-mata membantu warganya atau seolah-olah membantu warganya.

Dalam pencarian MH370, Cina mengerahkan sejumlah kapal dan pesawat ke Samudra Hindia selatan. Cina juga telah menelisik obyek-obyek yang terekam oleh 21 satelit.

"Belum pernah terjadi Cina mengerahkan begitu besar peralatannya, baik itu angkatan lautnya maupun polisi perairan," kata Rory.

Analis senior maritim, Gary Li, mengatakan sungguh mengesankan betapa cepatnya alat-alat itu dimobilisasi. "Padahal kita dulu relatif enggan dengan Cina karena berisiko,"ujarnya.

Pengerahan peralatan militer terbesar Cina sebelum tragedi MH370 adalah ketika Cina ikut bergabung dalam patroli anti-pembajakan di Teluk Aden. Patroli gabungan itu berlangsung selama beberapa tahun. Cina mengirimkan dua kapal induknya dan satu kapal logistik.

Saat sengketa di Laut Cina Selatan, Cina juga mengirim tiga kapal perangnya melintasi Laut Cina Selatan dan laut Indonesia di bagian selatan memasuki Samudra Hindia.

Lantas, kenapa -tidak ada angin dan tidak ada api- ujug-ujug SBY selaku RI 1 sekarang meminta kita untuk tidak lagi memakai sebutan Cina dan menggantinya dengan Tiongkok?

Lalu kekuatan siapa yang sangat ambisius menjagokan seorang Jokowi untuk menjadi RI 1? Apa kaitannya dengan masih adanya resistensi kaum militan muslim di negri ini dengan kemenangan politik etnis tertentu? Monggo dikaji... (Abu Fatih/voa Islam)


latestnews

View Full Version