View Full Version
Jum'at, 31 Aug 2012

Presiden Mesir Mursi : Bersama Jihadis Menyelesaikan Konflik Sinai

Cairo (voa-islam.com) Presiden Islam Mesir bersama mantan jihadis menengahi dan menyelesaikan konflik dengan Islam radikal di Sinai. Mursi melalui tokoh-tokoh jihadis, ingin memastikan serangan kelompok serangan militan berhenti, sebagai imbalan menghentikan operasi militer di semenanjung Sinai, ujar seroang pejabat di Cairo, Jum'at.

Langkah ini menandai perubahan dramatis dari kebijakan tangan besi tindakan tegas  dan gelombang penangkapan di bawah Hosni Mubarak. Selama pemerintahan Mubarak, berlangsung penangkapan dan penyiksaan terhadap kelompok militan dari kalangan Badui di Sinai.

Langkah dialog dan gencatan senjata yang diambil Murs, sangat mencemaskan Israel  yang menginginkan pembasmian secara menyeluruh terhadap kelompok militan di Sinai. Israel mendesak Mesir agar menghancurkan secara total terhadap kelompok militan di Sinai.

Dialog menimbulkan kekhawatiran Israel dan sejumlah kalangna di  Mesir yang akan memberikan pengakuan de facto terhadap kelompok garis keras, yaitu gerakan Islam yang mendapatkan dukungan kuat  di Sinai. Upaya mediasi menunjukkan kesediaan Presiden Mohammed Mursi, seorang tokoh Ikhwanul Muslimin yang menjadi pemimpin pertama Mesir, mengatasi krisis di Semenanjung Sinai, terutama  membangun hubungan dengan kelompok militan.

Militer Mesir melancarkan operasi militer besar-besaran di Sinai setelah militan Islam yang diduga melakukan kejutan penyergapan tentara Mesir di perbatasan dengan Israel dan Gaza pada 5 Agustus, menewaskan 16 tentara.Sejak serangan itu, Mesir ribuan tentara yang didukung oleh tank dan alat berat telah dikerahkan di Sinai utara, dekat perbatasan Israel.

Serangan itu mengejutkan militer, dan ini sebagai indikasi semakin kuatnya kekuatan militan di Sinai.  Selama tahun terakhir serangan terhadap kantor polisi oleh sejumlah pria bersenjata, menunjukkan betapa semakin kuatnya kelompok militan di Sinai, yang dituduh  mempunyai  hubungna dengan al-Qaidah. Mereka berhasil mengumpulkan senjata dari Libya,lewat perbatasan Mesir, yang kemudian di kirimkan ke Sinai.

Namun, Presiden Mursi memilih menghindari operasi dan konfrontasi militer langsung dengan fihak militan, dikawatirkan akan menimbulkan kerugian yang sangat besar terhadap penduduk sipil.

Para pejabat militer membiarkan tokoh utama dari kelompok militan Sheikh Zuwayid. Presiden Mursi selama akhir pekan menginstruksikan langkah dialog. Kelompok Islamis melakukan dialog dengan pemerintah yang dimediasi para tokoh jihadis.

Juru bicara Presiden Mursi, mengatakan selama kunjungan ke China, tidak bisa dihubungi untuk mengkonfirmasi bahwa Mursi mengirim mediator. Surat kabar independen El-Shorouk mengutip para pejabat di kantor Mursi sebagai mengkonfirmasikan bahwa delegasi pergi ke Sinai di kendaraan dengan plat nomor presiden.

Para tokoh jihadis yang pernah melancarkan kampanye berdarah melawan pemerintah, tetapi mereka bersedia menjad mediator dengan militan Sinai  meyakinkan mereka untuk menghentikan serangan. Dalam pembicaraan, kedua belah pihak mencapai kesepakatan yang akan "menenangkan situasi selamanya," kata Salman Hamdeen Saad, seorang tokoh Islam Sinai yang berpartisipasi dalam pertemuan, kepada The Associated Press.

Dalam kesepakatan, tentara Mesir dan pasukan keamanan tidak akan menyerang Sinai dan Jihadis, sebagai imbalannya, tidak akan ada serangan balik atau pertumpahan darah lebih lanjut, katanya. Mereka juga akan berhenti "penyusup" yang bertujuan untuk melaksanakan "sabotase" di Mesir, ujar tokoh jihadis kepada wartawan.

Hasil pertemuan itu mengatakan bahwa di bawah pengaturan, senjata akan diserahkan kepada pemerintah, Minggu. Seorang tokoh el-Barahma menyerahkan senjata anti-pesawat, senapan mesin dan sejumlah besar amunisi kepada militer, sebagai bentuk perjanjian yang suda disepakati.

Peserta juga mengatakan Mesir akan sepenuhnya membuka Rafah ke Jalur Gaza, ketika menghancurkan bagian dari jaringan terowongan bawah tanah yang digunakan dalam penyelundupan, bersama dengan barang-barang dan obat-obatan, senjata dan militan ke dan dari Gaza.

Delegasi dipimpin oleh seorang tokoh jihadis, Magdi Salem, yang pernah dipenjara 18 tahun, yang dikenal sebagai Vanguards (Penakluk) yang melakukan serangan di Mesir pada 1990-an, termasuk pembunuhan percobaan perdana menteri dan pejabat lainnya. Delegasi yang lain mantan militan Islam dan seorang pengacara terkemuka dari gerakan Salafi, Nizar Ghorab, ungkap  pejabat keamanan di Sinai.

Para pejabat Mesir dan tokoh jihadis itu bertemu dengan sekitar 40 tokoh terkemuka dari gerakan Islam garis keras Sinai, yang ikut membahas situasi keamanan di Sinai.

Safwat Abdel-Ghani, seorang jihadis yang membantu mengatur pertemuan, mengatakan dialog yang bertujuan menciptakan situasi yang lebih baik di Sinai, ujarnya. Ahmed el-Jehaini, tokoh terkemuka Salafi Sinai yang bertemu dengan mediator, memuji Mursi untuk "menjangkau anak-anak Sinai untuk membangun kepercayaan diri."

Presiden Mursi berusahas melakukan solusi menghadapi situasi di Sinai, yang membawa ke arah perang terbuka, melaui sebuah dialog, dan menghindari penggunaan kekuatan militer dengan konfrontasi bersenjata. mh.


latestnews

View Full Version