View Full Version
Selasa, 22 Oct 2013

Mengapa Arab Saudi Harus Marah Kepada Amerika Serikat?

Riyad (voa-islam.com) Arab Saudi kecewa berat terhadap Amerika Serikat. Pasalnya, Amerika Serikat yang sudah berjanji akan menggunakan kekuatan militernya terhadap rezim Syiah Alawiyyin Bashar al-Assad, kemudian Obama mengurungkan rencananya.

Kekecewaan Arab Saudi berikutnya terhadap Obama, di mana Amerika Serikat mulai nampak lunak terhadap Iran, dan seperti menerima kompromi dengan Iran. Ini membuat kegelisahan dikalangan penguasa Arab Saudi terhadap Washington.

Selama ini, Arab Saudi yang menjadi boneka Amerika Serikat, dan selalu mengikuti perintah dan arahan Washington. Termasuk ikut mendukung rezim militer Mesir Jendral Abdul Fattah al-Sissi yang sudah melakukan pembantaian terhadap ribuan pendukung Presiden Mohammad Mursi. Tetapi, kali ini, Kerajaan Arab Saudi, agak meradang terhadap Washington, karena Washington tidak mau meluluskan permintaan Riyad, melakukan tindakan militer terhadap rezim Bashar al-Assad.

Karena sikap Washington yang dianggap tidak lagi memperhatikan keinginan bonekanya itu, maka Riyad merasa dikhianati, dan kemudian menolak kedudukan  sebagai anggota di Dewan Keamanan PBB, selama dua tahun. Ini merefleksikan kemaarahan Riyad terhadap Washington.

Washingtong tidak mau memperhatikan keinginan Arab Saudi yang selama ini, sudah berkorban dan memberikan apa saja yang diinginkan oleh Amerika. Termasuk ketika Amerika melakukan serangan terhadap Irak, dan Arab Saudi ikut berpartisipasi, dan bahkan Arab Saudi menjadi pangkalan militer Amerika untuk menyerang Irak.

Menghadapi kemarahan Kerajaan Arab Saudi itu, maka Menlu Amerika Serikat John Kerry, terbang ke Paris dan bertemu dengan Menlu Arab Saudi, Pangeran Saud al- Faisal, di rumah pribadinya, dan melakukan jamuan makan bersama sambil mendiskusikan situasi di Suriah, dan menenangkan Kerajaan Arab Saudi, Senin, 21/10/2013.

Arab Saudi menolak kursi di Dewan Keamanan, pada hari Jumat, (18/10/2013), sebagai cerminan kemarahan Kerajaan Arab Saudi,  dan menilai PBB menggunakan,"standar ganda".

Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Saud al-Faisal menyelenggarakan makan siang untuk Kerry di kediaman pribadinya di Paris, Senin. Para pejabat Amerika mengatakan Washington dan Riyadh berbagi pandangan tentang nuklir Iran, mengakhiri perang sipil Suriah, dan Mesir yang stabil. Tetapi, keduanya tidak mencapai kesepakatan tentang krisis di Suriah, Iran, dan Mesir.

Namapaknya, John Kerry tidak akan membujuk Saudi untuk menerima kedudukan kursi di Dewan Keamanan, tetapi Arab Saudi akan berperan dalam mempengaruhi terhadap 15  anggota Dewan Keamanan PBB yang dapat mengotorisasi tindakan militer, memaksakan sanksi dan mengatur operasi penjaga perdamaian .

Tidak ada negara yang sebelumnya telah terpilih menjadi anggota  Dewan Keamanan, dan kemudian mengundurkan diri. Sebagai anggota yang baru, Arab Saudi akan menduduki jabatannya, mulai 1 Januari untuk masa jabatan dua tahun.

Kemarahan Saudi memuncak setelah Amerika Serikat menjatuhkan ancaman serangan militer terhadap Suriah, tetapi kemudian Washington setuju dengan Rusia, dan menghentikan rencana serangan militer Suriah.

Arab Saudi juga prihatin tentang tanda-tanda rekonsiliasi antara Washington dan Tehran, dan ini ketakutan Riyadh dapat menyebabkan "grand bargain" pada program nuklir Iran, dan akan merugikan Arab Saudi. Tetapi, hubungan Arab Saudi dan Amerika tidak ada yang abadi, dan yang abadi hanyalah kepentingan. af/hh


latestnews

View Full Version