View Full Version
Jum'at, 28 Aug 2026

Bolehkah Mengucapkan Shalawat kepada Selain Nabi Muhammad?

Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam.  Shalawat dan salam atas Rasulillah, keluarga dan para sahabatnya.

Ketika nama Rasulullah ﷺ disebut, seorang Muslim dianjurkan mengucapkan shalawat dan salam. Allah Ta'ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuknya dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan.” (QS. Al-Ahzab: 56)

Lalu, bagaimana jika shalawat ditujukan kepada selain Rasulullah ﷺ? Misalnya seseorang mengatakan, “Shallallahu 'ala Umar” atau “'alaihis shalatu was salam” kepada seorang tokoh?

Para ulama memberikan rincian dalam masalah ini.

Jangan Mengkhususkan Shalawat kepada Tokoh Tertentu

Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata:

مَا أَعْلَمُ الصَّلَاةَ تَنْبَغِي مِنْ أَحَدٍ عَلَى أَحَدٍ إِلَّا عَلَى النَّبِيِّ ﷺ

Sepengetahuanku, shalawat itu hanya layak ditujukan secara khusus kepada seseorang jika ia adalah Nabi ﷺ.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah (no. 8808) dan Ibnu Abdul Barr dalam kitab Al-Istidzkar (2/324). Sanad hadis ini dinilai sahih oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (11/174) dan Ash-Shan'ani dalam Subulus Salam (4/325). As-Sakhawi berkata dalam Al-Qaulul Badi' (hlm. 81): “Para perawinya adalah para perawi kitab hadis sahih.”)

Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa perkataan Ibnu Abbas tersebut berkaitan dengan munculnya kebiasaan sebagian ahli bidah yang mengkhususkan shalawat kepada Ali atau tokoh tertentu dari Ahlul Bait, sementara mereka tidak melakukan hal yang sama kepada sahabat lainnya. (Majmu' Al-Fatawa, jilid 27, halaman 411.)

Beliau menegaskan bahwa mengkhususkan seseorang dengan shalawat hingga menjadi syiar yang selalu melekat pada namanya adalah bidah.

Persoalannya bukan sekadar pada kalimat shalawatnya, tetapi pada pengkhususan dan menjadikannya sebagai simbol keagamaan bagi tokoh tertentu.

 

Boleh Sesekali Mendoakan (shalawat) Selain Nabi

Meski demikian, para ulama tidak menganggap setiap shalawat kepada selain Nabi ﷺ sebagai sesuatu yang terlarang.

Ibnu Taimiyah menukil pendapat Imam Ahmad dan mayoritas ulama Hanabilah bahwa tidak mengapa mengucapkan shalawat kepada selain Nabi dalam kondisi tertentu. Di antara dalilnya adalah riwayat bahwa Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu pernah berkata kepada Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu:

صَلَّى اللَّهُ عَلَيْكَ

“Semoga Allah melimpahkan shalawat kepadamu.” (Majmu' Al-Fatawa, jilid 4, halaman 496.)

Ibnul Qayyim juga memberikan rincian serupa. Jika seseorang sesekali mengucapkan shalawat kepada seorang Muslim dan tidak menjadikannya sebagai syiar khusus, maka hal tersebut tidak mengapa.

Yang tercela adalah ketika shalawat tersebut dikhususkan kepada orang tertentu, selalu diucapkan setiap kali namanya disebut, dan dijadikan identitas atau syiar yang membedakannya dari orang lain.

Beliau mencontohkan, “seperti yang dilakukan oleh kaum Rafidhah terhadap Ali radhiyallahu ‘anhu. Setiap kali mereka menyebut nama Ali, mereka mengatakan, ‘‘alaihis shalatu was salam’ (semoga shalawat dan salam tercurah kepadanya), tetapi mereka tidak melakukan hal yang sama kepada orang yang lebih utama daripada Ali.” Yaitu Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma.

Jangan Berlebihan kepada Ahlul Bait

Pembahasan ini penting agar kecintaan kepada Ahlul Bait tidak berubah menjadi sikap ghuluw (berlebihan).

Ahlus Sunnah mencintai Ahlul Bait dan juga mencintai seluruh sahabat Rasulullah ﷺ. Tidak boleh kecintaan kepada seseorang membuatnya diangkat melampaui kedudukan yang Allah berikan kepadanya.

Demikian pula, penghormatan kepada ulama dan orang-orang saleh tidak boleh berubah menjadi pengkultusan.

Rasulullah memiliki kedudukan yang khusus. Karena itu, shalawat dan salam kepada beliau memiliki keistimewaan yang tidak boleh disamakan dengan manusia lainnya.

 ## Infak Dakwah Media www.voa-islam.com melalui Bank Muamalat, No.Rek: 34.7000.6141 a/n: Badrul Tamam, konfirmasi (087781227881)

Kesimpulan

Dengan demikian, masalah ini perlu dipahami secara proporsional bahwa mengucapkan shalawat kepada selain Nabi ﷺ sesekali bukanlah perkara yang sama dengan menjadikan shalawat sebagai syiar khusus bagi seseorang.

Yang menjadi persoalan adalah mengkhususkan tokoh tertentu dengan shalawat secara terus-menerus hingga menjadi simbol keagamaan yang melekat pada dirinya.

Seorang Muslim hendaknya mencintai Rasulullah ﷺ, mencintai Ahlul Bait dan para sahabat beliau, tetapi tetap berada di atas jalan pertengahan: tidak meremehkan dan tidak pula berlebihan.

Sebab dalam agama, cinta harus mengikuti tuntunan, dan penghormatan tidak boleh berubah menjadi pengkultusan.Wallahu a'lam bish-shawab. [PurWD/voa-islam.com]


latestnews

View Full Version