

Oleh: Badrul Tamam
Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulillah, keluarga dan para sahabatnya.
Tauhid merupakan nikmat terbesar yang Allah Ta'ala anugerahkan kepada seorang hamba. Ia lebih berharga daripada harta yang melimpah, jabatan yang tinggi, kesehatan, bahkan umur yang panjang.
Sebab, seluruh kenikmatan dunia akan kehilangan nilainya apabila seseorang meninggalkan dunia tanpa membawa iman dan tauhid. Sebaliknya, orang yang hidup sederhana tetapi meninggal dalam keadaan bertauhid dan membawa iman kepada Allah Ta'ala, ia telah meraih keselamatan yang hakiki.
Karena itu, cita-cita terbesar seorang Muslim semestinya bukan sekadar memperoleh kehidupan dunia yang nyaman. Lebih dari itu, ia harus memohon kepada Allah agar diberikan keteguhan di atas iman dan tauhid sampai kematian menjemputnya.
Allah Subhanahu wa Ta'alaberfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.”(QS. Ali 'Imran: 102)
Ayat ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga keislaman hingga akhir kehidupan. Seseorang tidak cukup hanya menjadi Muslim pada suatu waktu. Ia harus berusaha istiqamah di atas Islam, iman, dan tauhid sampai ajal tiba.
Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan tentang makna “janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim” :
حَافِظُوا عَلَى الْإِسْلَامِ فِي حَالِ صِحَّتِكُمْ وَسَلَامَتِكُمْ لِتَمُوتُوا عَلَيْهِ، فَإِنَّ الْكَرِيمَ قَدْ أَجْرَى عَادَتَهُ بِكَرَمِهِ أَنَّهُ مَنْ عَاشَ عَلَى شَيْءٍ مَاتَ عَلَيْهِ، وَمَنْ مَاتَ عَلَى شَيْءٍ بُعِثَ عَلَيْهِ، فَعِيَاذًا بِاللَّهِ مِنْ خِلَافِ ذَلِكَ.
“Jagalah Islam dalam keadaan sehat dan sejahtera kalian, agar kalian meninggal dalam keadaan tetap memeluknya. Sesungguhnya Allah Yang Mahamulia telah menetapkan dengan kemurahan-Nya bahwa siapa yang hidup di atas sesuatu, ia akan meninggal di atasnya; dan siapa yang meninggal di atas sesuatu, ia akan dibangkitkan di atasnya. Maka, kita berlindung kepada Allah dari keadaan yang bertentangan dengan hal tersebut.”
Lantas, apa saja sebab yang dapat membantu seorang Muslim istiqamah di atas tauhid?
Pertama: Ikhlas (Memurnikan Ibadah Hanya untuk Allah)
Tauhid menuntut seorang hamba agar tidak mempersembahkan ibadah kepada selain Allah. Ia tidak berdoa kepada selain-Nya, tidak bertawakal kecuali kepada kepada-Nya, tidak mencari pujian manusia dalam amalnya, dan tidak menjadikan selain Allah sebagai tandingan dalam perkara yang menjadi kekhususan-Nya.
Allah Ta'ala berfirman:
أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ
“Ingatlah, hanya milik Allah agama yang murni.” (QS. Az-Zumar: 3)
Keikhlasan merupakan ruh amal. Semakin seseorang menjaga keikhlasannya, semakin kuat pula hubungannya dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Sebaliknya, riya, sum'ah, cinta popularitas, dan mencari pujian manusia dapat menggerogoti keikhlasan. Karena itu, seorang Muslim hendaknya senantiasa memeriksa niatnya: untuk siapa ia beribadah dan kepada siapa ia mengharapkan balasan?
Kedua: Memperbanyak Doa Memohon Keteguhan Hati
Hati manusia berada di antara jari-jari Ar-Rahman. Ia dapat berubah dan berbolak-balik. Karena itu, seorang mukmin tidak boleh mengandalkan dirinya sendiri dalam menjaga iman.
Di antara doa yang sering dipanjatkan Rasulullah ﷺ adalah:
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
“Wahai Dzat Yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Tirmidzi)
Ummu Salamah radhiyallahu 'anha pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ mengapa beliau sering membaca doa tersebut. Beliau menjelaskan bahwa tidak ada seorang manusia pun melainkan hatinya berada di antara jari-jari Allah; Dia membolak-balikkannya sesuai kehendak-Nya.
Jika Rasulullah ﷺ memperbanyak doa agar Allah meneguhkan hatinya di atas agama-Nya, tentu kita lebih membutuhkan doa tersebut.
Karena itu, jangan hanya berdoa meminta kesehatan, rezeki, pekerjaan, rumah, kendaraan, dan kesuksesan dunia. Mintalah pula keselamatan iman, keteguhan tauhid, dan husnul khatimah.
Ketiga: Berpegang Teguh kepada Al-Qur'an dan Sunnah
Istiqamah tidak mungkin dibangun hanya berdasarkan perasaan dan semangat sesaat. Seorang Muslim membutuhkan petunjuk yang benar. Petunjuk itu adalah Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah ﷺ.
Allah Ta'ala berfirman:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS. Ali 'Imran: 103)
Dengan mempelajari Al-Qur'an dan Sunnah berdasarkan pemahaman para ulama yang terpercaya, seorang Muslim akan memiliki bekal untuk menghadapi berbagai syubhat, fitnah, dan penyimpangan pemikiran.
Terlebih pada zaman ketika berbagai pemikiran dan keyakinan dapat masuk ke rumah melalui layar telepon. Tidak semua yang viral adalah kebenaran. Tidak semua yang banyak pengikutnya adalah jalan yanglurus.
Karena itu, ilmu merupakan benteng bagi tauhid. Semakin seseorang mengenal Allah, mengenal tauhid, memahami Sunnah, dan mengetahui bahaya syirik, semakin besar peluangnya untuk tetap teguh di atas jalan yang lurus.
Keempat: Bersahabat dengan Orang-Orang Shaleh
Manusia adalah makhluk yang mudah terpengaruh oleh lingkungannya. Teman dekat dapat memberikan pengaruh besar terhadap agama, akhlak, bahkan arah hidup seseorang.
Rasulullah ﷺ bersabda:
الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
“Seseorang berada di atas agama teman dekatnya. Maka hendaklah salah seorang di antara kalian melihat siapa yang menjadi teman dekatnya.”(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Teman yang shaleh akan mengingatkan ketika kita lalai, menasihati ketika kita salah, dan mengajak kepada kebaikan.
Sebaliknya, pergaulan yang buruk dapat membuat dosa terlihat biasa. Awalnya seseorang hanya ikut-ikutan. Lama-kelamaan ia terbiasa. Sesuatu yang dahulu dianggap dosa akhirnya tidak lagi terasa sebagai dosa.
Karena itu, memilih lingkungan bukan sekadar persoalan mencari teman yang menyenangkan. Ia adalah bagian dari ikhtiar menjaga agama.
Kelima: Menjauhi Dosa dan Maksiat
Dosa dan maksiat itu mengotori hati dan melemahkan iman.
Allah Ta'ala berfirman:
كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.”(QS. Al-Muthaffifin: 14)
Maknanya, dosa yang dilakukan terus-menerus dapat menjadi karat yang menutupi hati.
Karena itu, menjaga tauhid bukan hanya dengan mempelajari bab-bab tauhid secara teori. Seorang Muslim juga harus berusaha meninggalkan maksiat.
Ketika terjatuh dalam dosa, jangan berputus asa. Segera meminta ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya; menyesali dosa, meninggalkannya, dan bertekad untuk tidak mengulanginya.
Allah Ta'ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang banyak bertaubat.”(QS. Al-Baqarah: 222)
Keenam: Senantiasa Melakukan Muhasabah
Sebab berikutnya adalah muhasabah, yaitu mengevaluasi dan mengoreksi diri.Seorang mukmin tidak seharusnya merasa bahwa dirinya sudah benar-benar aman dari kesalahan dan penyimpangan. Ia perlu bertanya kepada dirinya sendiri:
Muhasabah membuat seseorang sadar bahwa dirinya membutuhkan Allah setiap saat.
Allah Ta'ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (QS. Al-Hasyr: 18)
Penutup
Tauhid adalah modal keselamatan yang paling berharga. Karena itu, jangan sampai seorang Muslim sibuk mengejar berbagai kenikmatan dunia tetapi lupa meminta nikmat yang paling agung: meninggal dalam keadaan beriman dan bertauhid.
Harta dapat hilang. Jabatan dapat berakhir. Kesehatan dapat melemah. Umur pasti berkurang. Namun, iman dan tauhidlah yang akan menentukan keselamatan seorang hamba di hadapan Allah Ta'ala.
Maka, mari kita jaga tauhid dengan memurnikan ibadah, memperbanyak doa, berpegang kepada Al-Qur'an dan Sunnah, memilih lingkungan yang saleh, menjauhi dosa, serta senantiasa bermuhasabah.
Semoga Allah Ta'ala menjaga kita di atas tauhid dan Sunnah, menjauhkan kita dari segala bentuk kesyirikan dan penyimpangan, serta menganugerahkan kepada kita husnul khatimah—wafat dalam keadaan Muslim, bertauhid, dan diridhai oleh-Nya.[PurWD/voa-islam.com]