View Full Version
Sabtu, 05 Sep 2009

Waspadai Program Ramadhan di Televisi

Wakil Presiden Jusuf Kalla menyampaikan keluhan tentang program Ramadhan di televisi sejak mulai memasuki bulan suci ini. Beliau menganggap televisi kita tidak memberikan bimbingan yang benar kepada masyarakat bagaimana seharusnya beramaliyah di bulan penuh barokah ini.

Keluhan seumpama itu bukanlah yang pertama, tetapi sudah beratus kali di suarakan oleh masyarakat tentang rendahnya mutu acara yang disajikan. Malah cenderung ada semacam kesengajaan dari stasiun televisi kita menayangkan hal-hal yang bisa menumbuhkan sikap mental konsumtif, hedonis, bebas nilai, easy going, dan liberal.

Coba saja simak tayangan musik. Para remaja kita terus menerus disuguhi prilaku bebas nilai. Cara berpakaian, bicara, canda, dan sebagainya dipertontonkan dengan vulgar. Para remaja yang melihat langsung di arena pertunjukkanpun semacam diharuskan untuk bergaya sesuai yang dikehendaki oleh para pembawa acara atau konsep acara itu sendiri.

Sementara lawakan yang disajikan saat menjelang hingga selesai sahur, tidak sama sekali mengingatkan para pemirsa untuk memperbanyak istighfar, tetapi malah dibuat tertawa terbahak-bahak. Padahal Rasulullah mengingatkan kita bahwa banyak tertawa itu dapat mematikan (sensitifitas) hati. Belum lagi bahasa dan prilaku para pelawak itu sendiri yang sama sekali tidak mencerminkan budaya bangsa. Yang lebih ironis lagi kalau para ustadz ikut serta dalam lawakan mereka, meskipun tidak melawak tetapi nasihat yang diberikannya menjadi tidak berarti sama sekali karena tenggelam oleh derai tawa dan canda.

Patut bagi kita mewaspadai dengan cermat program-program televisi kita, baik di bulan Ramadhan maupun sesudahnya. Sepanjang pengamatan kami, televisi dengan berbagai tayangannya itu begitu kuat "mendikte" para pemirsanya. Bahkan kekuatannya melebihi pemerintah yang seharusnya mengatur mereka. Dengan bahasa lain, masyarakat kita yang memang tidak bisa dipisahkan dengan televisi, lebih mendengar dan memahami apa yang disampaikan oleh televisi daripada apa yang disampaikan oleh pemerintah. Kalaulah seperti itu keadaannya, maka bisa kita katakan bahwa penguasa negeri ini sebenarnya adalah para pemilik stasiun televisi. Karena mereka bisa menentukan warna bangsa ini.

Sudah saatnya pemerintah berfungsi sesuai dengan amanat yang telah diberikan rakyat, yaitu mencerdaskan dan membangun kesadaran rakyat akan pentingnya membangun jati diri yang berkualitas. Untuk itu, pemerintah harus mengatur dengan tegas bagaimana seharusnya televisi menyajikan program-program sesuai dengan tujuan pencerdasan dan pembangunan jati diri bangsa. Mungkin untuk itu pemerintah menjadi tidak populer, pasti akan dituding pemberangus kebebasan media, dan berbagai tudingan lain yang biasanya akan dikaitkan dengan demokrasi dan Hak Asasi Manusia. 

Keberanian pemerintah campur tangan mengatur program  televisi sudah menjadi keharusan, karena kebebasan yang ada sudah kebablasan. Di negara maju saja seperti Amerika dan Eropa, pemerintah campur tangan dengan membuat peraturan-peraturuan yang harus dipatuhi oleh para pemilik stasiun televisi, diikuti dengan tindakan tegas bagi mereka yang melanggar aturan tersebut.

Televisi memang menghibur. Namun bangsa ini tidak berjalan maju hanya dengan status terhibur. Televisi sudah menjadi benda wajib bagi masyarakat kita bahkan melebihi jumlah buku yang sepatutnya dimiliki oleh setiap orang di negeri ini. Hal ini menunjukkan bahwa bangsa ini masih terbelakang karena belum membudayakan ilmu dalam kehidupannya.

Oleh itu, sudah saatnya kita mematikan televisi dan menyalakan api ilmu dalam kehidupan kita.


latestnews

View Full Version