View Full Version
Selasa, 14 Nov 2017

Remaja Zaman Now

Oleh:

Yayuk Fatmawati, Pelajar asal Blitar

 

LIMA bulan berpacaran, FPS (17) siswi SMP baru mengetahui kalau kekasihnya yang selama ini dia cintai adalah seorang perempuan. Ia langsung syok dan menangis sedih, apalagi selama berpacaran sudah 6 bulan mereka melakukan hubungan badan. Kepada penyidik FPS bercerita ia melakukan hubungan badan sampai keperawanan FPS hilang. Atas dasar cinta FPS merelakan walaupun mahkotanya sebagai seorang perempuan harus hilang. “Dari pengakuannya sudah lima kali mereka melakukan hubungan badan. Dua kali di kos-kosan dekat lai-lai, kemudian tiga kali di kosan belakang Sping. Kosan itu adalah milik teman-temannya,” sebut Kanit Reskrim Polsek Batu Ampar Iptu Ferry Supriadi, Kamis (9/11/2017)  siang. (Tribunnews.com)

Pelaku diketahui berinisial SD (21), tidak pernah mengakui dirinya perempuan. Saat berhubungan badan pelaku menggunakan baju dan celana dalam dan melakukan hubungan di dalam selimut. “Dari pengakuan korban memang keperawanannya hilang saat melakukan hubungan badan ini, tetapi dia tidak tahu pakai apa, tentunya pakai alat apa alatnya kita tidak tahu,” tegasnya.

Pasangan lesbi ini akhirnya di bawa ke Polsek Lubuk Baja untuk dimintai keterangan lebih lanjut. Sekarang SD sudah diamankan oleh pihak kepolisian, namun FPS sudah dipulangkan oleh pihak kepolisisan. Terakhir dikatakan Ferry, walaupun perempuan SD berperawakan seperti seoreang lelaki biasa, bahkan buah dadanya tidak seperti perempuan biasa normal.

Kasus di atas hanyalah segelintir kasus yang diakibatkan oleh remaja dan anak-anak zaman sekarang. Kata mereka, generasi ‘kids zaman now’. Pada faktanya  kids zaman now, mereka berbuat tanpa pernah berpikir apa dampak yang akan ditimbulkan. Contoh yang tidak asing lagi seperti hamil di luar ikatan pernikahan yang diakibatkan oleh pergaulan bebas. Kasus seperti ini sudah menjadi berita sehari-hari yang kerap kali muncul. Mereka berpacaran mengikuti tren orang barat. Mereka meniru apa yang orang barat lakukan ketika berpacaran. 

Miris sekali melihat akhlak anak-anak beserta pemuda dan pemudi saat ini. Mereka yang seharusnya dipersiapkan untuk menjadi generasi pejuang di masa depan memiliki akhlak yang bobrok. Kenapa hal ini terjadi? Hal ini terjadi karena rusaknya sistem di suatu Negara. Negara seharusnya menanamkan nilai-nilai islamiyah pada semua aspek kehidupan. Siapakah yang bisa disalahkan ketika kondisi generasi penerus sudah seperti ini? Apakah kesalahan mutlak pada orang tua dan guru yang mendidik anak di rumah dan di sekolah? Tidak. Pemerintah pun turut andil dalam hal ini. Pemerintah seyogyanya memberikan edukasi parenting kepada para pemuda, terutama kepada pemudi sebagai bekal persiapan dirinya untuk berumah tangga dan mengasuh anak. Sehingga ketika para pemuda dan pemudi menikah sudah memiliki bekal untuk setiap permasalahan rumah tangganya termasuk bagaimana mendidik anak secara Islam.

Masa remaja merupakan masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa. Dalam tahap ini, remaja mulai mencari jati dirinya masing-masing. Masa remaja adalah masa di mana seseorang mengalami emosi yang tidak stabil. Oleh karena itu diperlukan kontrol dan pendampingan orang tua agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Kontrol  pemerintah terhadap edukasi parenting dapat diterapkan ketika suatu Negara menerapkan ideologi Islam. Dapat dilihat keberhasilan Islam dalam membentuk suatu generasi pejuang, yang tercermin pada era ke-Khilafahan :

  • Usamah bin Zaid 18 tahun; memimpin pasukan yang anggotanya adalah para pembesar sahabat seperti Abu Bakar dan Umar untuk menghadapi pasukan terbesar dan terkuat di masa itu.
  • Sa’d bin Abi Waqqash 17 tahun; yang pertama kali melontarkan anak panah di jalan Allah. Termasuk dari 6 orang ahlus syuro, Rasulullah saw bersabda tentangnya “Ini adalah pamanku, ayo mana paman kalian”
  • Al-Arqom bin Abil Arqom 16 tahun; menjadikan rumahnya sebagai markas dakwah Rasul saw selama 13 tahun berturut-turut.
  • Zubeir bin Awwam 15 tahun; yang pertama kali menghunuskan pedang di jalan Allah. Diakui oleh Rasulullah saw. Sebagai Hawarinya.
  • Zaid bin tsabit 13 tahun; penulis wahyu. Dalam 17 malam mampu menguasai bahasa Suryani sehingga menjadi penerjemah Rasul saw. Hafal kitabullah dan ikut serta kodifikasi Al-Quran.
  • Atab bin Usaid; diangkat oleh Rasul saw. Sebagai gubernur Mekah pada umur 18 tahun.
  • Muadz bin Amr bin Jamuah 13 tahun dan Mu’awidz bin ‘Afra 14 tahun; membunuh Abu Jahal, jenderal kaum musyrikin, pada perang badar.
  • Thalhah bin Ubaidullah 16 tahun; orang Arab paling mulia. Berbai’at untuk mati Rasul saw. Pada perang Uhud dan menjadikan dirinya tameng.
  • Muhammad al-Fatih 22 tahun; menaklukkan Konstantinopel ibukota Byzantium pada saat jenderal agung putus asa.
  • Abdurrahman an-nashir 21 tahun; pada masanya Andalusia mencapai puncak keemasannya. Dia mampu menganulir berbagai pertikaian dan membuat kebangkitan sains yang tiada duanya.
  • Muhammad Al-Qosim 17 tahun; menaklukkan India sebagai seorang jendral agung pada masanya. (Tanjung, Yanti, 2015)

Apakah seorang ibu tidak menginginkan putra dan putinya menjadi pejuang Islam yang menjadi garda terdepan tentara Islam?

Dalam sebuah hadist “Ketahuilah masing-masing kamu adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpin. Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban terhadap yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin anggota keluarganya dan ia dimintai pertanggungjawaban terhadap mereka. Seorang istri juga pemimpin bagi rumah tangga serta anak suaminya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap yang dipimpinnya.”

Nah, berdasarkan hadis diatas, tidak hanya suami yang dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah. Seorang istri pun juga dimintai pertanggungjawabannya sebagai ummun wa robbatul bayt (ibu dan manajer rumah tangga). Dengan apa seorang ibu mendidik anak-anaknya? Apakah dengan Islam atau dengan sistem kapitalisme, sosialisme? Kapitalisme tegak atas dasar sekularisme (pemisahan agama dengan kehidupan). Ide ini menjadi akidahnya (asas), menjadi qaidah fikriyah (kaedah berpikir), dan qiyadah fikriyah (kepemimpinan berpikir). Di dalam ide sekularisme mereka mengakui eksistensi agama. 

Tetapi menolak membawa agama ke dalam kehidupan sehari-hari. Ketika berbicara agama, maka hanya ibadah yang mereka maksud. Mereka menolak penerapan hukum-hukum agama  dalam kehidupan. Padahal, pembuat hukum tertinggi ialah Allah Sang Maha Pencipta (Al-Khaliq) dan Pengatur (Al-Mudabbir). Allah SWT berfirman : “Hak membuat hukum itu hanyalah milik Allah. Dia telah memerintahkan agar kalian tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak tahu.” (QS. Yusuf 12:40)

Dalam suatu sistem, ketika input baik maka baik pula outputnya. Dampak dari sekularisme tidak bisa dibiarka secara berkelanjutan. Mereka ingin memisahkan agama dari kehidupan. Pada faktanya, ketika sekulerisme diterapkan di suatu Negara hanya kerusakan dalam seluruh aspek kehidupanlah yang ada. Agar sistem ini tidak menyebar semakin dalam ke seluruh sendi kehidupan, diperlukan solusi dari setiap masalah-masalah yang ada, yaitu khilafah ala minhaj an-nubuwah

Share this post..

latestnews

View Full Version