View Full Version
Selasa, 19 Dec 2017

Islam dan Politik


Jumat 2 Desember 2017 para alumni aksi 212 2016 melakukan reuni di monas Jakarta acara itupun dihadiri  menurut ketua panitia reuni 212 yaitu Bernard Abdul Jabbar kurang lebih sekitar 7,5 juta orang, tak ayal kawasan monaspun  dibanjiri lautan manusia dari berbagai daerah di Indonesia yang hadir dengan berbagai cara dan sarana yang berbeda.

Ada  para mujahid pejalan kaki dari Ciamis dan Tasik adapula keluarga yang naik ontel dari Tangerang menuju Jakarta demi menghadiri acara tersebut, semua hadir dan disatukan dalam acara tersebut atas dasar ikatan akidah islam yaitu ikatan yang sangat kuat bahkan melebihi ikatan darah sekalipun.

Lalu di kesempatan itu pula aksi reuni yang dihadiri banyak ulama, serta tokoh tersebut merupakan aksi pergerakan politik menuju pemilu tahun 2018-2019 mendatang lalu apa sebenarnya politik di dalam Islam itu?

Di dalam kamus bahasa arab politik adalah mengurusi urusan umat,kadang masih ada kata-kata atau ungkapan "jangan bawa -bawa agama dalam politik atau jangan bawa-bawa politik dalam agama" pernyataan seperti ini jelas-jelas pernyataan sekuler yang jauh dari dalil agama dan juga kenyataan.

Karena pada kenyataannya seseorang punya cara pandang yang khas berdasarkan dengan prinsip hidup dan ini menjadi sumber dan referensinya saat mengambil keputusan contohnya ketika kita mau makan maka standar kita orang yang beriman kepada Alloh adalah Halal dan Haram jelas, beda dengan orang yang tidak beriman kepada Alloh standar mereka bisa jadi enak dan murah ataupun yang lainnya.

Dalam level kebijakan publik jika orang tak beriman jadi penguasa,maka dia juga akan bertindak sama misalnya melegalkan miras,prostitusi dan semisalnya yang di larang agama.

Politik hanya salah satu ranah dalam kehidupan yang dipengaruhi cara pandak atau prinsip hidup dan di dalam islam ini namanya Akidah.

Maka jika seorang muslim teguh dan mantap akidahnya dia pasti akan berusaha menyesuaikan segala aktivitasnya sesuai dengan islam tetmasuk saat berpolitik.

Karenanya di dalam islam justru agama menjadi dasar mutlak dalam berpolitik dan politik harus sesuai dengan agama karena sejatinya semua amal kita akan di pertanggung jawabkan di hadapaan Alloh SWT.

Karenanya politik menjadi salah satu jalan yang di tempuh Abu Bakar, Utsman, Umar, Ali, Muawiyah, Amru bin Ash Muhammad al Fatih dan yang lainnya. 

Dan kita tau politisi paling hebat ialah Rasulalloh  SAW, beliaulah yang mengajari para sahabat dan beliaulah kepala negara yang paling berhasil sepanjang masa begitu kata Michael H.Hart, bahkan sufi sekelas imam Ghazali menulis "Agama dan kekuasaan seperti saudara kembar bagi agama dasarnya bagi kekuasaan pelindungnya" beliau lanjutkan "tanpa agama pastilah runtuh kekuasaan,tak ada kekuasaan maka hilang agama" ulama bahkan tak hentinya mengingatkan kepada kita.

Jadi jika masih ada yang menganggap dan memandang jangan bawa-bawa agama dalam politik atau sebaliknya mungkin saja dia belum faham atau justru itu cara politisnya untuk meluluskan kekuasaan yang tak islami siapapun orangnya. Wallahu a'lam bi ash shawab. [syahid/voa-islam.com]


latestnews

View Full Version