View Full Version
Ahad, 05 Aug 2018

Artis, Cameo Panggung Politik Praktis?

Oleh: Juliatin, S. Pd*

 

Menjelang Pileg 2019, masing-masing Parpolmakin gencar mencari dukungan. Selain para politisi yang ramai-ramai pindah partai, migrasi artis dari penggung hiburan menuju panggung perpolitikan pun seakan tak mau ketinggalan. Hal ini tentu menambah daftar panjang deretan artis yang telah lebih dulu menjajaki dunia perpolitikan.

Dilansir dari Okami.id, terdapat 54 artis yang mendaftarkan diri menjadi calon legislatif. Nama-nama seperti Nurul Arifin, Rieke Diah Pitaloka, Katon Bagaskara, Annisa Bahar, hingga Giring Nidji masuk dalam daftar artis yang mencalonkan menjadi wakil rakyat. Pro-kontra pasti ada. Perkara biasa. Wajar jika ada pihak yang optimis ataupun pesimis terhadap kemampuan para artis tersebut dalam mengakomodir asipirasi umat.

Partai Nasional Demokrat (NasDem) tercatat sebagai partai yang paling banyak mengajukan kadernya dari kalangan artis, yakni mencapai 27 orang, antara lain Olla Ramlan, Vicky Shu, dan Sahrul Gunawan. Di urutan kedua, PDI Perjuangan (PDI-P) dengan kader dari artis sebanyak 13 orang dan di posisi ketiga dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sebanyak 7 orang (Katadata.co.id, 20/07/2018).

Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI, Wahyu Setiawan, meyakini bahwa partai politik sudah mempertimbangkan matang-matang kemampuan dan rekam jejak artis tersebut. Wahyu menyerahkan kepada masyarakat untuk menilai, apakah layak untuk dipilih atau tidak. Sebab, pihaknya hanya berwenang memastikan apakah bakal caleg dari kalangan artis tersebut memenuhi persyaratan yang ditentukan Undang-Undang atau tidak (Kompas.com,19/07/2018).

Masuknya para artis kedunia politiktelah menjadi warna-warni politik tersendiri di negeri kita. Sejak PAN (Partai Amanat Nasional) memberi peluang bagi para artis untuk ikut mengambil bagian sebagai politikus, parpol lainnya tak mau ketinggalan. Alhasil, ada yang mendapat banyak kursi semisal Dede Yusuf, Rano Karno, dan Primus Yustisio.Namun ada pula yang boleh kita sebut gagal lalu memilih mundur dan akhirnya turun panggung. Sebut saja, Dicki Chandra, Helmy Yahya dan Andre Taulany.

Keberadaan artis di tubuh Parpol, tak dapat dipungkiri, sebagai salah satu cara untuk meraup banyak keuntungan bagi Parpol yang menaunginya. Tersebab, nama mereka yang sudah mendapat tempat di masyarakat. Tapi, apakah kemudian mereka memiliki kemampuan dalam memberikan kontribusi kepada masyarakat? Mengingat, profesi artis dan politikus itu bertolak belakang. Yang satu harus pentas di atas panggung hiburan untuk menghibur rakyat, sedang yang satu lagi harus pentas di panggung politik mengurus urusan orang banyak.

Padahal, untuk memasuki ranah politik tidaklah cukup hanya dengan menjual popularitas semata. Yang dibutuhkan adalah orang-orang yang kapabel di dalamnya, bukan untuk main-main. Yaitu orang-orang yang cakap politik dan memiliki kemampuan untuk mengemban amanah mengurusi rakyat. Sebab, politik bukanlah panggung hiburan seperti yang disuguhkan dari layar kaca. Jika kemudian ranah kekuasaan jatuh ketangan orang-orang serakah, maka semakin jatuhlah wibawa negara. Negara akan semakin rusuh jika diatur oleh orang-orang yang tidak mempunyai kemampuan untuk mengurusi politik negara.

Selain itu, kiprah artis dalam panggung politik belum memberikan kontribusi signifikan dalam menyelesaikan masalah-masalah yang berkembang di masyarakat. Keberadaan mereka dalam tubuh Parpol sebagian besar hanya berdasar ikatan kepentingan. Saling mengambil keuntungan satu sama lain.

Jika salah satu dari kedua pihak mulai merasa rugi, akan wajar jika kedua pihak mulai saling tendang. Terlepas dari status apakah dia adalah seorang artis yang berperan sebagai pemain lama atau pemain baru dalam Parpol, tetap sajajika rekam jejak mereka kurang membawa hasilpositif,maka wajar jika keberadaan mereka tak ubahnya seperti cameo dalam panggung politik. Hanya sekelebat muncul, lama-lama pindah Parpol.

Hal seperti ini dalam sistem demokrasi yang berasaskan sekuler materialistik adalah hal wajar. Memandang sesuatu hanya berdasar kepentingan semata. Pun, politik dimaknai hanya seputar meraih kekuasaan saja. Jalan politik dijadikan ajang meraup keuntungan materi dibanding sebagai sarana untuk memperbaiki kondisi masyarakat yang kian terpuruk. Panggung politik tak ubahnya seperti permainan dadu untuk saling merebut tahta kekuasaan dengan cara saling sikut.

Padahal dalam Islam, urusan politik adalah masalah pengaturan urusan umat. Berpolitik adalah aktivitas yang dilakukan oleh para Nabi, termasuk Nabi Muhammad SAW. Urusan politik adalah urusan yang berat. Karena mengatur urusan umat artinya bersedia menunaikan dan memikul segala hal yang terkait hak-hak dan kewajiban dengan pedoman Alquran dan Sunnah dari Nabi Allah. Maka dari itu para ulama menjabarkan bahwa politik dan agama adalah ibarat saudara kembar.

Itu artinya orang-orang yang terjun ke panggung politik praktis meniscayakan adanya pribadi yang betul-betul memahami apa itu politik dalam arti yang sebenarnya. Bukan ajang menunjukkan eksistensi diri atau coba-coba. Mereka adalah orang-orang paham syariat agama. Orang-orang yang bersih. Orang-orang yang tidak memiliki keserakahan duniawi.

Pelaku politik yang baik tidak memanfaatkan aktivitas politik sebagai jalan untuk berebut kursi kekuasaan dan mempertebal kantong pribadi. Mereka paham betul bagaimana tanggung jawabnya dalam mengurusi umat. Karena mereka tahu bahwa semua urusan masyarakat yang berada di bawah kekuasaannya, semua akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT kelak. Wallahu a’lam bisshawab.

*Penulis adalah anggota Muslimah Media Konawe

Ilustrasi: inilah.com

Share this post..

latestnews

View Full Version