View Full Version
Ahad, 19 Aug 2018

Ketika Bumi Terbelah

Oleh: Rut Sri Wahyuningsih

(Pengasuh Grup Online Obrolan Wanita Islamis/Brownis)

Lombok menangis. Sejak 5 hingga 9 Agustus 2018 telah terjadi 355 kali gempa dengan kekuatan 7.0 SR .  Kemudian disusul Tsunami dengan ketinggian 10-13 cm. 347 orang meninggal dunia dan ratusan lainnya menderita luka-luka. Tak terhitung kerugian harta dan benda  (banjarmasinpost.co.id/ 9/8/2018).   

Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dwikora Karnawati menjelaskan kepada masyarakat Maratam, Lombok, bagaimana gempa susulan di Lombok terus terjadi. Gempa di Lombok ini adalah siklus 200 tahunan dari patahan Flores. Ia menyebutkan titik terkuat gempa berada di Lombok Utara dan Lombok Timur, kemudian muncul di Mataram. Ia menjelaskan pula Pulau Lombok berdekatan dengan batu bumi yang patah dan disebut sebagai sesar Flores, di mana bentangan patah sesar Flores ini memanjang dari Bali hingga utara laut Flores. Ketika patah terjadi, energi yang sangat besar akan muncul. Terakhir kali 200 tahun yang lalu, dan kini terulang (Liputan6.com/9/8/2018).

Meskipun peristiwa gempa ini adalah peristiwa alam yang dapat dijelaskan secara keilmuan. Bagi kita kaum muslim gempa bukan fenomena alam semata namun sebuah  peringatan. Terlebih jika kita kaji lebih dalam lagi  bahwa setiap peristiwa mengandung hikmah.

Salah satunya  gempa mengalirkan simpati masyarakat. Pemerintah Indonesia sendiri menegaskan belum meminta bantuan kemanusiaan kepada negara lain. Meskipun tidak menolak manakala negara lain ingin membantu( Kompas.com/8/8/2018).

Hikmah berikutnya ketika sebuah bencana alam  terjadi, bisa jadi secara kasat mata kita bisa menghitung kerugian material yang diakibatkannya. Namun Islam sebagai agama yang sempurna, juga menuntun kepada pemeluknya untuk sekaligus menyingkap tabir bagi setiap manusia dalam memahami tanda-tanda kekuasaan Allah swt.

Agar ketika akal diberikan fakta dan informasi betapa Maha Besar dan Maha Kuasanya Allah swt atas segala sesuatu mampu mengikat bathinnya untuk bersyukur dan semakin tunduk hanya menyembahNya. Laa haula wala quwata illa billahi…tiada daya dan upaya selain karena Allah semata.

Inilah kunci keimanan yang benar dan pasti akan menghasilkan amalan yang produktif.  Dimana ketika akal telah terpuaskan dan mampu memahami fakta yang mampu ia jangkau secara sadar akalnya akan mendorong perasaannya untuk berbuat sesuai dengan apa yang dia pahami. Ia akan berusaha sekuat tenaga memposisikan dirinya di tempat yang disukai Allah.

Dari bencana inilah Allah swt hendak mengembalikan hamba-hambaNya kepada jalan yang lurus. Jalan orang-orang yang di ridhai  bukan jalan orang-orang yang tersesat. Karena sesungguhnya bencana adalah ujian bagi mukmin yang taat dan menjadi  peringatan kepada mukmin atau kaum yang ingkar. Allah berfirman dalam Qs Al- An’aam : 63-66 yang artinya:

“Katakanlah, siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut, yang kamu berdoa kepadaNya dengan rendah diri dengan suara yang lembut dengan mengatakan:” Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan kamu dari (bencana) ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur”. “ Katakanlah, Allah menyelamatkan kamu dari bencana itu dan dari segala macam kesusahan, kemudian kamu kembali mempersekutukanNya.”

“Katakanlah, Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan(yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagiaan yang lain. Perhatikanlah, betapa kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya). Dan kaummu mendustakannya (azab) padahal azab itu benar adanya. Katakanlah ,” Aku ini bukanlah orang yang diserahi mengurus urusanmu”

Jelaslah bagi kita bahwa bencana tak sekedar datang karena kehendak Allah semata, namun juga karena kita sebagai hambaNya terlalu jauh menyimpang dari apa yang seharusnya kita terapkan dan kita taati. Yaitu syariat Allah.  Kita telah mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang lain. Dan realitas yang kita bisa lihat jauhnya negri ini dari tuntutan Allah swt dan berbagai kedzaliman terhadap Islam.

Telah membuat Indonesia jatuh kedalam kekhufuran padahal perilaku orang beriman adalah senantiasa memberi peringatan kepada sesamanya, agar bencana yang menimpa bukan saja pada pelakunya tapi juga semuanya ini tidak salah kita persepsikan.

Maka menjadi kewajiban untuk kembali kepada Allah swt dengan menerapkan hukum-hukumNya agar negri ini penuh berkah. Wallahu a’alam biashowab. [syahid/voa-islam.com]


latestnews

View Full Version