View Full Version
Sabtu, 27 Apr 2019

Cerminan Kepemimpinan Umar bin Khattab RA

UMAR bin Al-Khattab RA adalah salah satu sahabat Rasul SAW dengan kerpibadian yang sangat unik, peradaban tidak dengan mudah menghasilkan laki-laki sepertinya. Ia adalah laki-laki yang mendedikasikan hidupnya untuk urusan Umat, Ia yang mengembangkan dan menguatkan pilar-pilar sistem keadilan dalam negara Islam.

Kebenaran senantiasa mengalir dari mulutnya. Intuisinya selalu tepat, bagaikan para malaikat yang langsung memberikannya wahyu. Semasa hidupnya setelah beliau memeluk Islam, beliau benar-benar membuktikan julukannya al-Faruq, yaitu sang pembeda antara yang haq dengan yang bathil. Kemuliaan dan keutamaan Umar RA diantara para sahabat Rasul SAW tidaklah dimiliki Umar RA, kecuali karena teguh keimananya kepada Islam. Dengan Islamlah Umar RA meraih kemuliaan di sisi Allah SWT. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memujinya dengan bersabda:

“Jika seandainya ada Nabi setelahku, maka ia adalah ‘Umar bin Al-Khattab.” (HR at-Tirmidzi, Al-Hakim, Ahmad, dan yang lainnya. Hadits ini dihasankan oleh Syaikh al-Albani di dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah no. 327.)

Ketegasan dan kebenaran Umar bin Khattab RA senantiasa mengalir dan tidak dapat dibayar dengan dunia. Terlihat pada masa kepemimpinan Abu Bakar RA saat dua orang yang baru masuk Islam mendatangi Abu Bakar RA untuk meminta hak pengelolaan tanah negara, Umar RA yang ditunjuk Abu Bakar RA sebagai saksi pemberian izin malah menolak mentah-mentah. Umar RA kemudian mendatangi Abu Bakar RA dan dengan geram bertanya kepadanya, “Beritahu aku tentang tanah yang kau berikan untuk kedua orang ini? Apakah tanah ini kepunyaanmu sendiri atau milik Ummat Islam?”. Pada akhirnya pemberian tanah dibatalkan dan Abu Bakar RA mengatakan kepada Umar RA, “Seperti yang sudah aku katakan kepadamu, kau lebih kuat dariku. Akan tetapi kau memaksaku untuk menerima tanggung jawab ini dan kau menolak untuk dibebani.”. Umar kemudian menjawab, “Alhamdulillah, aku memilih orang yang tepat dan lebih baik dariku. Dan sebaik-baik manusia sepeninggal Rasulullah adalah Abu Bakar Ash Shiddiq.”

Pasca wafatnya Abu Bakar RA karena sakit, Umar RA menggantikannya dan dibaiat menjadi Khalifah, yaitu pemimpin kaum Muslim. Karakternya yang keras dan tegas, sangat kontras dengan kelembutan dan kesabaran karakter dua pemimpin negara Islam sebelumnya, yaitu Rasulullah SAW dan Abu Bakar RA. Menyadari keseganan sebagian kaum Muslim, Umar RA berkata:

“Wahai orang-orang, ketahuilah bahwa Aku telah ditunjuk untuk mengatur urusanmu, jadi sadari bahwa kekasaranku sekarang melemah, tetapi Aku akan terus bersikap kasar dan keras pada orang-orang penindas dan yang melakukan pelanggaran. Aku akan menempatkan pipi mereka ke tanah dan pipi sebelahnya kuinjak, sampai mereka kembali kepada kebenaran. Ketahuilah juga, bahwa aku akan sampai menaruh pipiku sendiri ke tanah untuk membela orang-orang yang saleh dan benar.” Perkatannya ini Ia pegang sampai akhir masa kepemimpinannya.

Sungguh meringis ketika sekarang Kita mencoba untuk membandingkan kepemimpinan Khalifah-khalifah penerus Rasulullah SAW seperti Umar bin Khattab, dengan para pemimpin negara mayoritas Muslim. Para pemimpin ini meninggalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah, memilah milih hukum Syariat yang Ia suka, menafikkan mayoritas hukum Allah SAW dan menggantinya dengan hukum-hukum buatannya sendiri. Mereka menaruh kepentingan segelintir Individu dan kelompok diatas kepentingan rakyat, menekan masyarakat dengan himpitan ekonomi, melegitimasi ideologi negara yang sekuler, dan yang paling kejam yaitu mengkriminalisasi hukum-hukum Syariat Islam.

Para pemimpin ini merasa lebih pantas dalam mengatur kehidupan manusia banyak, daripada menggunakan hukum Sang Pencipta dan Pengatur Alam. Padahal dengan jelas tidak akan ada tempat sembunyi bagi orang-orang munafik dan musyrik. Allah SAW berfirman pada Surat Al-Baqarah ayat 85 yang berarti,

“…Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.”

Beratnya tanggung jawab seorang Khalifah, yaitu seorang pemimpin negara, sangatlah besar. Kedudukannya yang tinggi dan kewewenangannya dalam mengambil keputusan yang akan mempengaruhi hidup banyak orang akan memberatkannya di yaumul hisab. Rasulullah SAW bersabda, "Tiadalah seseorang yang diamanati oleh Allah untuk memimpin rakyatnya kemudian ketika mati, ia masih menipu rakyatnya melainkan pasti Allah mengharamkan surga baginya." (HR. Bukhari, Muslim).

Telah dirindukannya keberadaan sosok Ulil Amri yang menerapkan seluruh hukum-hukum Syariat Islam, melanjutkan kembali apa yang telah Rasulullah SAW bangun, yaitu kehidupan yang menghasilkan rahmat bagi seluruh alam. Sungguh ummat Muslim telah lelah berpisah, sangat menantikannya persatuan ummat Islam dari ujung Timur sampai ujung Barat.

Atau masih betahkah ummat Muslim dengan carut marut pemisahan aturan Islam dari kehidupan?

Miranthi Faizaqil Karima

Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran


latestnews

View Full Version