View Full Version
Sabtu, 27 Apr 2019

Konsep Kemandirian Pesantren

Oleh: Mas Andre Hariyanto

(Koordinator CS Yayasan Al-Hidayah Sumenep, Madura & Direktur Utama Taklim Jurnalistik Group)

Pendidikan dan dakwah memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan untuk membekali umat manusia dalam menghadapi pergolakan kehidupan yang semakin kian tak terkendali. Untuk mensyiarkan ilmu dengan cara berdakwah tentunya sebuah lembaga pendidikan memerlukan proses pendanaan demi kelancaran dan perkembangan suatu lembaga.

Jer basuki mawa bea, salah satu pepatah atau falsafah Jawa yang memiliki arti jika menginginkan kesuksesan maka diperlukan adanya pengorbanan. Agar lebih produktif dan berkembang dengan pesat maka lembaga pendidikan yang dikelola oleh sebuah yayasan pesantren harus berpikir kreatif.

Setiap kegiatan pendidikan memerlukan biaya. Untuk itu, dana pendidikan merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap kelancaran proses pendidikan, contohnya untuk pembangunan asrama santri, pendanaan kitab-kitab, pemeliharaan asrama, dan kegiatan belajar mengajar lainnya. Darimana semua itu akan diperoleh jika sebuah lembaga yayasan pesantren tidak memiliki pendanaan untuk menguatkan perekonomian pesantren secara mandiri?

Sumber dana dapat diperoleh melalui (1) wakaf artinya sumbangan, (2) Shodaqoh, dan (3) hibah artinya pengeluaran harta semasa hidup untuk kepentingan keagamaan. Dalam hal pembiayaan, pendidikan pesantren lebih mengandalkan pada kemandirian lembaga yang diperoleh dari berbagai sumber yang ada berupa sumbangan para santri dan orang tua, wakaf, zakat, infak dan shodaqoh.

Salah satu sumber dana  yang selama itu terus mengalir di beberapa pondok pesantren berasal dari donatur. Donasi sebagai sumber dana pendidikan memang tidak dapat dijadikan sebagai patokan karena aliran dananya tidak dapat dipastikan. Untuk itu suatu yayasan, harus mampu menciptakan kemandirian yang tidak bergantung kepada donatur saja melainkan juga harus mengembangkan kreatifitas.

 

Kepekaan orang yang tidak mampu, bisa berbagi kreasi dalam kemandirian

Bagi kalangan tertentu, ketidakmampuan dan keterbatasan akan melahirkan sebuah kreatifitas yang dapat membentuk jiwa kemandirian. Pada dasarnya secara kuantitas, potensi dukungan masyarakat luas terhadap dana pendidikan pesantren sangatlah besar, dengan populasi penduduk Indonesia yang berjumlah kurang lebih 210 juta, 85% adalah umat Islam, yang berarti 178,5 juta orang.  Dalam kenyataannya potensi ini belum tergali dengan baik sehingga kurang memberikan dampak bagi pendidikan pesantren. Maka sudah saatnya kini pesantren lebih bisa memanfaatkan potensi dan kreasi secara lebih baik.

 

Gagasan

Pesantren mampu mencetak generasi penerus bangsa yang handal dan tidak kalah dengan lulusan pendidikan formal. Untuk merespon tantangan zaman tersebut, pesantren memiliki daya dorong untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik termasuk dalam kemandirian ekonomi. Menurut Chusnul Chotimah dalam studi kasusnya di Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan, bahwa kemandirian ekonomi di pondok pesantren Sidogiri dimulai dari internalisasi nilai-nilai intangibles kepada santri, sehingga jiwa santri tergerak melakukan yang terbaik untuk pondok pesantren. Untuk selanjutnya, bagaimana sebuah pesantren dapat mencapai kemandirian dalam bidang perekonomian, dapat dimulai dengan berbagai langkah berikut.

  1. Sosialisasi jiwa kemandirian

Pimpinan pesantren membekali jiwa kemandirian pada santri agar mereka mampu menciptakan sebuah ide-ide kewirausahaan demi mencapai perekonomian yang lebih baik. Pesantren memiliki sumber daya manusia yang cukup memadai untuk mengelola sebuah usaha yang nantinya keuntungannya dapat digunakan untuk mendukung biaya pendidikan yayasan pesantren.

  1. Merubah Mental

Tidak semua pesantren dapat berkembang baik dalam hal kemandirian ekonomi. Namun sejatinya, pesantren memiliki peluang untuk menciptakan kemandirian. Bagaimana sebuah pesantren dapat merubah mental lemah dan pemikiran terbelakang menjadi sebuah mental kuat yang selalu berpikir kreatif demi kemajuan pesantren.

  1. Yayasan jemput bola

Yayasan sendiri tentunya harus memiliki inisiatif dalam mencapai kesuksesan yakni “menjemput bola”. Tidak menunggu saja rezeki itu datang, menjemput rezeki dengan menciptakan dan merealisasikan ide-ide cemerlang

  1. Mampu bertahan

Yayasan pesantren demi mempertahankan diri, juga perlu mempertahankan tempat yang konsisten dalam wujud nyata dengan cara membentuk sebuah legalitas dan menyebarluaskannya sebagai salah satu cara untuk mengembangkan eksistensi pesantren. Legalitas nama dan penyebarluasan ini dapat digunakan untuk menggaet donatur, baik donatur dari masyarakat maupun dari pemerintah.

Selain langkah-langkah di atas, untuk mempertahankan kemandirian, sebuah pesantren memiliki sumber pendanaan yang dapat dikelola dengan baik. Contohnya membangun koperasi pesantren yang menyediakan barang-barang dan kebutuhan santri sehari-hari. Koperasi pesantren dapat dikelola oleh santri yang keuntungannya untuk pesantren. Dalam hal ini, pesantren melatih santri untuk berdagang.

Selain itu juga dengan menciptakan sumber-sumber ekonomi lainnya dengan melihat letak geografis pesantren. Meninjau berbagai pesantren pada umumnya di Jawa Timur, beberapa usaha perekonomian pesantren adalah peternakan, perkebunan, dan usaha air minum. Sumber ekonomi ini dapat bekerja sama dengan mitra usaha lain atau dapat berdiri sendiri yang berawal dari modal nilai kemandirian.

Langkah-langkah strategis untuk mewujudkan mitra usaha di yayasan pesantren dapat dimulai sebagai berikut.

  1. Mencari konseptor/ donatur

Ide usaha pesantren harus jelas dan memiliki konsep yang matang. Jika sebuah ide usaha tersebut menarik tentu para donatur tidak akan segan untuk mendonasikan hartanya dalam mendukung usaha tersebut.

  1. Pemberdayaan industri yang cocok untuk pesantren

Letak geografis dan potensi yang ada di sekeliling pesantren mempengaruhi keberhasilan pembangunan usaha perekonomian pesantren. Seperti halnya yang telah dilakukan di beberapa pesantren di Indonesia, ada yang sudah memiliki BMT, usaha pendistribusian air minum, budidaya ternak lele, budidaya ternak ayam petelur, dan masih banyak lagi sumber-sumber ekonomi pesantren ditinjau dari letak geografisnya.

Pemberdayaan industri di sekitar lingkungan pesantren dapat dijadikan mitra usaha pesantren dalam mengembangkan perekonomian. Pimpinan pesantren bernegosiasi dengan pimpinan industri sehingga para alumnus pesantren yang memiliki skill dalam bidangnya mampu menembus industri.

  1. Pengelolaan Saham ternak menjadi saham yang besar

Ada beberapa pesantren yang memiliki budidaya ternak, namun tidak semuanya dapat berkembang secara meluas. Untuk mewujudkannya, pengeloaan budidaya ternak di pesantren perlulah membangun mitra usaha dengan usaha peternakan lain di luar pesantren agar memperoleh saham yang besar.

Konsep kemandirian pesantren dapat dicapai melalui berbagai langkah yaitu dengan mencari donatur, menciptakan sumber ekonomi dalam pesantren, dan membangun mitra dengan usaha di luar pesantren. [syahid/voa-islam.com]


latestnews

View Full Version