View Full Version
Rabu, 10 Feb 2021

Orangtua ‘Beres’, Anak Sukses

 

Oleh:

Adib Muhammad, S. Pd || Guru SDIT Ar Raihan Bantul

 

SETIAP kali membicarakan tentang perkembangan anak, pembahasan selalu berkaitan erat dengan keluarga. Karena keluarga merupakan madrasah yang pertama bagi anak. Melalui orang tua, keluarga dapat dijadikan sebagai tempat belajar mengenal lingkungan sekitar.

Sejak dalam kandungan anak mulai mendapatkan rangsangan kebaikan dari orangtua, hingga tangisan pertama terdengar orang tua menyambutnya dengan senyuman. Kepedulian orang tua pun tidak sampai di situ, bahkan saat buah hati sudah memasuki usia sekolah peran dari orang tua sangat diperlukan.

Saat anak sudah mulai belajar di sekolah, bukan berarti tugas mendidik anak 100% menjadi tanggung jawab sekolah. Orang tua semestinya ikut andil dalam mendidik anak. Seorang ayah yang seharian bekerja, juga bisa berperan mendidik anak.

Peran dari ayah sangat dibutuhkan anak untuk melatih ketegasan. Begitu pula peran seorang ibu, dengan kelembutannya dapat membantu ayah dalam mendidik anak. Peran ayah dan ibu hendaknya bersinergi demi kesuksesan buah hatinya.

Kesuksesan anak tidak luput dari peran orang tuanya. Sebagai contoh, Musa seorang hafidz cilik atas hidayah dari Allah SWT dapat menghafal Al-Quran saat usianya baru 7 tahun. Selain mendapat anugerah dari Allah SWT, orang tuanya Musa juga sangat hati-hati dalam mendidik. Mulai dari hal yang kelihatannya kecil sangat diperhatikan oleh ayahnya. Saat diwawancarai voa-islam.com, Abinya Musa menuturkan ketika berada di bandara, Musa dan Abi sedang duduk sambil menunggu pesawat yang akan ditumpanginya.

Di depan tempat duduk terdapat telvisi yang terpampang dengan jelas dan selalu menyala setiap saat. Abi yang sangat peka dan hati-hati mengenai perkembangan anaknya, langsung mengajak Musa pindah ke tempat lain guna menyelamatkan Musa dari pengaruh negatif tayangan televisi tersebut. Itulah salah satu contoh peran dari seorang ayah yang berhati-hati demi kebaikan anaknya.

Di era yang serba canggih ini, faktanya masih banyak orang tua yang terlalu sibuk dengan dunia kerjanya sehingga kurang memperhatikan perkembangan anaknya. Ayah sibuk bekerja dan tugas mendidik dilimpahkan pada Ibu. Masih beruntung jika ibu fokus untuk mendidik anak. Lain halnya jika kedua orang tua sama-sama bekerja, anak kurang mendapat perhatian. Sehingga ketika anak sudah memasuki usia sekolah, beban tanggung jawabnya dilimpahkan kepada pihak sekolah. Orang tua menaruh harapan kepada sekolah agar anaknya cerdas, sholih, memiliki akhlak terpuji, dan berprestasi. Akan tetapi harapan yang sangat mulia ini tidak diimbangi dengan totalitasnya orang tua dalam mendidik anak.

Melihat kondisi ini, penulis akan memaparkan peran orang tua dalam membantu anak meraih keberhasilannya. Pertama, ubah mindsite (pola pikir) orang tua. Banyak orang tua yang menjadikan tolok ukur sukses adalah prestasi di kelas. Orang tua tentu bangga ketika melihat anaknya mendapat nilai sempurna pada mata pelajaran matematika. Lebih membanggakan lagi jika anak mendapat rangking I di kelas. Akan tetapi yang perlu dipahami adalah jalan kesuksesan anak tidak hanya melalui prestasi di kelas.

Kedua, pahami kelebihan dan kekurangan anak. Setiap anak memiliki kekhasan tersendiri. Orang tua hendaknya memahami kelebihan dan kekurangan anaknya sejak dini. Contoh: Ahsan termasuk anak yang sering mendapatkan nilai di bawah rata-rata, tetapi di sisi lain Ahsan selalu menunjukkan keterampilannya saat pelajaran melukis. Dari contoh ini, hendaknya orang tua tidak terburu-buru memberikan cap bahwa Ahsan anak yang bodoh. Karena dengan pemberian cap bodoh justru akan berdampak buruk pada anak.

Ketiga, jalin komunikasi dengan sekolah. Di zaman yang serba canggih ini sangat memudahkan orang tua untuk berkomunikasi dengan sekolah. Dalam waktu kurang dari satu menit pun bisa langsung menanyakan kondisi anaknya di sekolah. Pertanyaan yang muncul adalah seberapa intens komunikasi orang tua dengan sekolah? Orang tua dan sekolah harus bekerja sama dalam mendidik anak, agar mengetahui bagaimana perkembangan anaknya di sekolah ataupun di rumah, orang tua dan sekolah hendaknya membuat catatan sederhana yang berisi perkembangan anaknya. Jika selama ini yang membuat catatan perkembangan anaknya hanya dari sekolah, maka hendaknya orang tua juga membuat catatan yang sederhana perkembangan anak ketika di rumah. Misal bisa dimulai dari catatan mengenai sholat lima waktu. Jika pihak sekolah dan orang tua sudah membuat catatan mengenai sholat, hendaknya menjalin komunikasi secara rutin (bisa per-pekan atau per-bulan).

Keempat, atasi kesulitan belajar yang dialami anak. kesulitan belajar harus segera diatasi agar anak bisa mencapai hasil belajar yang optimal. Setiap anak memiliki tingkat kecerdasan yang berbeda-beda. Ada anak yang sangat cepat dalam belajar, ada pula anak yang lambat dalam belajar. Hendaknya orang tua cepat menyadari mengenai kesulitan belajar yang dialami anaknya. Misal, ketika di rumah anak tidak mau belajar. Orang tua hendaknya mulai mencari penyebab anak tidak mau belajar, bisa jadi anak tersebut sedang kelelahan atau keadaan di tempat belajar kurang nyaman. Memang, faktanya guru kelas yang pertama kali mengetahui apakah anak tersebut mengalami kesulitan belajar. Akan tetapi, peran orang tua juga sangat dibutuhkan untuk mendeteksi sejak dini kesulitan belajar yang dialami anak. Apabila sudah diketahui jenis kesulitan belajar yang dialami anak, langkah selanjutnya adalah memberikan bimbingan.

Kelima, kembangkan hobi anak. Orang tua senantiasa memberikan perhatian dan dukungan pada anak untuk mengasah hobinya. Berawal dari hobi bisa muncul kelebihan seorang anak yang nantinya dapat dijadikan menyiapkan masa depan. Hobi anak bisa diasah melalui kegiatan ekstra yang diselenggarakan oleh sekolah. Namun, anak seusia SD belum bisa mengelola waktu dengan baik. Saat anak terlalu asyik mengasah hobinya, bisa menyebabkan lupa belajarnya. Di sinilah peran orang tua untuk membantu menyeimbangkan antara belajar dan menekuni hobi.

Oleh karena itu, hendaknya orang tua ikut berperan saling bekerja sama dengan sekolah dalam membantu anak mencapai kesuksesan. Kesuksesan anak dapat diperoleh tidak hanya dari prestasi di kelas, curahan perhatian dan dukungan pada hobi anak juga bisa dijadikan menuju jalan kesuksesan.*


latestnews

View Full Version